Sultan Ibrahim bin Adham, Buah Delima, dan Pernikahan Semalam

Sabtu, 25 September 2021 - 15:03 WIB
loading...
Sultan Ibrahim bin Adham,...
Lukisan Ibrahim bin Adham dikunjungi malaikat, dibuat di Bengal, India Timur sekitar tahun 1790-1800, pelukis tidak diketahui. (Ilustrasi: christies.com)
A A A
Pada suatu hari Sultan Ibrahim bin Adham mendapatkan sebuah delima yang hanyut di sungai. Setelah separuh delima itu dimakan, ia sangat menyesal karena hal itu dilakukan tanpa seizin pemiliknya. Dia pun bertekad mencari siapa pemilik buah itu, agar dapat dihalalkan apa yang telah dimakannya.

Baca juga: Kisah Ibrahim Bin Adham dan Kapal yang Akan Tenggelam

Di daerah Kufah, tersebutlah orang alim nan kaya bernama Syarif Husein. Dia memiliki seorang putri cantik jelita, namanya Siti Saleha. Selain cantik, sang putri berbudi mulia.

Pada tempat kediaman Syarif Husein terdapat kebun yang sangat indah. Kebun itu ditunggui oleh dua orang yaitu Syekh Ismail dan Mafatihul Arifin.

Di dalam kebun dibuat orang parit-parit yang airnya mengalir ke sungai.

Pada suatu ketika Syarif Husein sakit keras. Dipanggilnya Siti Saleha seraya diberi tahu bahwa telah datang waktunya dia akan berpulang ke rahmatullah. Dia meramalkan, bahwa sepeninggalnya, Siti Saleha akan diperistri oleh Sultan Ibrahim bin Adham.

Dia pun memberi nasehat dan doa kepada putrinya. Siti Saleha pun dititipkan kepada Mafatihul Arifin sebagai ganti ayahnya. Tidak lama antaranya Syarif Husein pun wafat.

Mafatihul Arifin senantiasa menghibur Siti Saleha yang tengah berduka. Diceritakannya contoh-contoh kiasan bagaimana Nabi menghibur putrinya Siti Fatimah yang miskin itu dan dikatakan bahwa kemuliaan yang sejati akan dapat diperoleh di dalam surga kelak.

Pada suatu hari Ibrahim bin Adham yang tengah mencari pemilik delima yang ia gigit sebagian sampai ke rumah Syarif Husein. Kedatangannya disambut oleh Syekh Ismail. Ibrahim yakin bahwa delima yang diperolehnya berasal dari kebun itu, kepada Syekh Ismail dia minta agar delima yang telah dimakannya dapat dihalalkannya.

Syekh Ismail menasihatkannya agar minta kepada Siti Saleha, pemilik yang sebenarnya. Namun, Siti Saleha tidak bersedia menghalalkannya, dengan alasan bahwa di seluruh negeri tidak terdapat buah delima yang semacam itu.

Dia hanya dapat menghalalkannya apabila fakir itu mau menikah dengan dia. Ibrahim menyetujui usul itu dan Siti Saleha pun menjadi istrinya yang berbakti. Namun, mereka hanya semalam saja hidup sebagai suami istri.

Keesokan harinya Ibrahim minta diri kepada Siti Saleha. Dia hendak meneruskan perjalannya ke Makkah untuk memusatkan perhatiannya pada ibadah dalam rangka menjauhkan diri dari dunia yang sementara ini.

Dia menambah bahwa di akhirat yang abadi, kelak mereka akan saling bertemu kembali. Dalam keadaan sedih dan rindu yang mendalam karena perpisahan itu, Siti Saleha tidak lalai memohon ke hadirat Tuhan agar doa suaminya itu terkabul.

Di Makkah semua orang hanya mengenalnya sebagai fakir yang miskin. Berhari-hari pekerjaannya tiada lain adalah salat, tawaf, dan mengerjakan ibadah yang lain.

Baca juga: Menjadi Seperti Ibrahim bin Adham di Zaman Now

Siti Saleha melahirkan seorang putra dari perkawinannya dengan Ibrahim yang diberinya nama Muhammad Tahir. Oleh karena Muhammad Tahir oleh teman-temannya selalu dikata-katai sebagai anak tanpa bapak, anak hasil zina, dan kata-kata keji yang lainnya, dia minta izin kepada ibunya hendak mencari ayahnya.

Sang bunda terpaksa mengizinkan dan memberi tahu kepadanya tempat ayahnya berada karena kehendak anaknya itu tidak lagi dapat dihalang-halangi. Pada waktu itu dia berusia 20 tahun.

Muhammad Tahir berhasil bertemu dengan ayahnya di Masjidil Haram. Betapa rindu ayah itu kepada anaknya tidak dapat dilukiskan sehingga dalam berkasih-kasihan itu dia lupa kepada ibadah tawaf yang biasa dilakukannya.

Ketika dia ingat akan hal itu, anaknya pun disuruhnya pergi, bahkan dengan kekerasan dan ancaman. Diberinya anaknya itu cincin kerajaan dan disuruhnya pergi ke Irak untuk pergi ke istana.

Untuk memenuhi perintah ayahnya, Muhammad Tahir pergi ke Irak. Dia pun menuju ke istana dan diterima oleh Wazirul Alam. Demi dilihatnya cincin kerajaan itu, Wazirul Alam dan para menteri hulubalang yang ada di penghadapan mengangkat Muhammad Tahir ke atas singgasana kerajaan.

Namun, Muhammad Tahir tidak mau menerima pengangkatan itu karena kedatangannya semata-mata menaati perintah ayahnya, bukan untuk mencari kekuasaan atau kemuliaan.

Kepada Wazirul Alam, dia hanya menyampaikan nasihat supaya berlaku adil dalam mengemban kekuasaannya, adil dalam melaksanakan semua peraturan negeri, adil dalam menangani setiap macam pengaduan, dalam hal harta benda orang kecil, dan dalam melaksanakan hukum. Untuk melaksanakan keadilan itu, raja hendaknya menunjuk empat orang menteri yang paling baik sebagai pembantu utama.

Muhammad Tahir segera meninggalkan istana seorang diri, dengan membawa sedikit permata, atas desakan keras para wazir.

Sesampainya di Kufah, Muhammad Tahir menyampaikan salam ayahnya kepada Syekh Ismail, Mafatihul Arifin, dan ibunya. Permata yang dibawanya dari Irak diberikan juga kepada ibunya.

Setiap tahun Wazirul Alam tidak lalai mengirimkan delapan unta dengan harta sebagai upeti bagi Muhammad Tahir.

Baca juga: Bergantung Kepada-Nya: Kisah Ember dan Tali Seorang Sufi Bernama Khafif
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Perempuan...
Kisah Hikmah : Perempuan yang Sering Menangis karena Allah
Kisah Qarun dalam Al-Quran:...
Kisah Qarun dalam Al-Qur'an: Dari Orang Saleh Menjadi Binasa karena Harta
Kisah Uwais Al-Qarni,...
Kisah Uwais Al-Qarni, Teladan Berbakti kepada Orang Tua yang Dijamin Doanya Mustajab
Kisah Nabi Muhammad...
Kisah Nabi Muhammad SAW Sujud Sangat Lama, Ternyata Ini Penyebabnya
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Rekomendasi
Bintang Ini Jadi Petunjuk...
Bintang Ini Jadi Petunjuk Kelahiran Nabi Isa yang Diabadikan Injil dan Al-Quran
Cara Suku Maya Menghitung...
Cara Suku Maya Menghitung Fenomena Alam yang Akan Terjadi Terungkap!
Fosil 565 Juta Tahun...
Fosil 565 Juta Tahun Ini Ungkap Sejarah Evolusi Bumi
Artikel Terkini
Populer di Bulan Safar...
Populer di Bulan Safar : Mengapa Ada Tradisi Rebo Wekasan di Indonesia?
Teladan Rasulullah SAW...
Teladan Rasulullah SAW kepada Tetangga: Akhlak Mulia yang Tetap Relevan hingga Kini
5 Adab Bertetangga dalam...
5 Adab Bertetangga dalam Islam, Lengkap dengan Dalilnya
Orang yang Mengganggu...
Orang yang Mengganggu Tetangganya Bukan Mukmin, Ini Dalil Hadis dan Penjelasan Ulama
Butuh 7 Hari, CQF Bangun...
Butuh 7 Hari, CQF Bangun Masjid Pertama Asmaul Husna di Aceh Tamiang
Kasus Teror Tetangga...
Kasus Teror Tetangga Viral, Begini Hak Tetangga Menurut Al-Qur'an dan Hadis
Infografis
6 Manfaat Buah Naga...
6 Manfaat Buah Naga untuk Kesehatan dan Kecantikan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved