Pesan Ustaz Adi Hidayat Sebelum Memasuki Ramadhan
Rabu, 22 April 2020 - 06:05 WIB
loading...
A
A
A
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: ayat 183)
Kaum muslimin wajib mempelajari ilmu fiqih Ramadhan karena saking pentingnya bulan Ramadhan. Standarnya adalah ilmu dulu baru amal. Adab dulu baru ilmu. Dalam ibadah ketahui dulu ilmunya. Salat itu belajar dulu ilmunya, baru kemudian salat.
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur'an) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-'Ankabut: ayat 45)
"Jadi kita pelajari fiqih Ramadhan agar saat berpuasa Ramadhan bisa menjalankan dengan ilmunya. Ulama dulu kalau mau puasa, majelis taklim libur karena mau fokus ibadah. Maka bagaimana dengan kita yang belum sampai ke derajat itu?" kata Dai yang pernah menimba ilmu di Tripoli Libya itu.
Makna Shiyam dan Shaum
Kali ini Ustaz Adi Hidayat membahas fiqih Ramadhan yang bersumber dari Kitabus Shiyam. Isinya hal-hal yang berkaitan dengan puasa, apa saja hal-hal yang merusak dan membatalkannya. Ingat Ash-Shiyam bukan Asshiap. Ada Ash-Shiyam, ada Ash-Shaum. Keduanya seringkali diartikan dengan puasa.
Sering diungkapkan saya sedang Shaum, saya sedang Shiyam. Orangnya disebut Shaim. Itu untuk laki-laki. Kalau untuk perempuan Shaimah. Dalam Bahasa Arab ada kaidah setiap bertambah huruf atau harakat dalam satu kalimat, pasti maknanya akan berbeda. Lantas apa perbedaannya? Mari kita Simak dari Al-Qur'anul Kariim.
Jika disebutkan Ash-Shaum artinya menahan. Semua yang menahan itu Ash-Shaum. Apakah menahan haus saja, menahan lapar saja, menahan ngantuk saja. jadi anda bisa mengatakan besok Shaum Ramadhan.
فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
"Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk tuhan yang maha pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini". (QS. Maryam: ayat 26)
Kata Shaum ini hanya disebutkan 1 kali saja di Surat Maryam ayat 26. Poinnya di ayat ini Allah ingin menjelaskan makna Shaum Menahan. Menahan tidak bicara. Tidak makan itu Shaum. Tidak bicara itu Shaum.
Kaum muslimin wajib mempelajari ilmu fiqih Ramadhan karena saking pentingnya bulan Ramadhan. Standarnya adalah ilmu dulu baru amal. Adab dulu baru ilmu. Dalam ibadah ketahui dulu ilmunya. Salat itu belajar dulu ilmunya, baru kemudian salat.
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur'an) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-'Ankabut: ayat 45)
"Jadi kita pelajari fiqih Ramadhan agar saat berpuasa Ramadhan bisa menjalankan dengan ilmunya. Ulama dulu kalau mau puasa, majelis taklim libur karena mau fokus ibadah. Maka bagaimana dengan kita yang belum sampai ke derajat itu?" kata Dai yang pernah menimba ilmu di Tripoli Libya itu.
Makna Shiyam dan Shaum
Kali ini Ustaz Adi Hidayat membahas fiqih Ramadhan yang bersumber dari Kitabus Shiyam. Isinya hal-hal yang berkaitan dengan puasa, apa saja hal-hal yang merusak dan membatalkannya. Ingat Ash-Shiyam bukan Asshiap. Ada Ash-Shiyam, ada Ash-Shaum. Keduanya seringkali diartikan dengan puasa.
Sering diungkapkan saya sedang Shaum, saya sedang Shiyam. Orangnya disebut Shaim. Itu untuk laki-laki. Kalau untuk perempuan Shaimah. Dalam Bahasa Arab ada kaidah setiap bertambah huruf atau harakat dalam satu kalimat, pasti maknanya akan berbeda. Lantas apa perbedaannya? Mari kita Simak dari Al-Qur'anul Kariim.
Jika disebutkan Ash-Shaum artinya menahan. Semua yang menahan itu Ash-Shaum. Apakah menahan haus saja, menahan lapar saja, menahan ngantuk saja. jadi anda bisa mengatakan besok Shaum Ramadhan.
فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
"Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk tuhan yang maha pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini". (QS. Maryam: ayat 26)
Kata Shaum ini hanya disebutkan 1 kali saja di Surat Maryam ayat 26. Poinnya di ayat ini Allah ingin menjelaskan makna Shaum Menahan. Menahan tidak bicara. Tidak makan itu Shaum. Tidak bicara itu Shaum.
Lihat Juga :