Imam Syafi'i Tak Pernah Mengatakan Allah Di Atas 'Arsy (2/Tamat)
Kamis, 07 Oktober 2021 - 06:30 WIB
loading...
A
A
A
إن هذه الآية من المتشابهات، والذي نختار من الجواب عنها وعن أمثالها لمن لا يريد التبحر في العلم أن يمر بها كما جاءت ولا يبحث عنها ولا يتكلم فيها لأنه لا يأمن من الوقوع في ورطة التشبيه إذا لم يكن راسخا في العلم، ويجب أن يعتقد في صفات الباري تعالى ما ذكرناه، وأنه لا يحويه مكان ولا يجري عليه زمان، منزه عن الحدود والنهايات مستغن عن المكان والجهات، ويتخلص من المهالك والشبهات (الفقه الأكبر، ص 13)
"Ini termasuk ayat mutasyabihat. Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak --secara mendetail-- membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam kesesatan tasybih. Kewajiban atas orang ini --dan semua orang Islam-- adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan." (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).
Secara panjang lebar dalam kitab yang sama, Imam Syafi'i juga membahas bahwa adanya batasan (bentuk) dan penghabisan adalah sesuatu yang mustahil bagi Allah. Karena pengertian batasan (al-hadd; bentuk) adalah ujung dari sesuatu dan penghabisannya.
Dalil bagi kemustahilan hal ini bagi Allah adalah bahwa Allah ada tanpa permulaan dan tanpa bentuk, maka demikian pula Dia tetap ada tanpa penghabisan dan tanpa bentuk. Karena setiap sesuatu yang memiliki bentuk dan penghabisan, secara logika dapat dibenarkan bila sesuatu itu menerima tambahan dan pengurangan, juga dapat dibenarkan adanya sesuatu yang lain yang serupa dengannya.
Untuk diketahui, Imam Syafi'i adalah ulama yang memiliki sanad keilmuan yang tersambung sampai ke Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau memiliki banyak guru di antaranya yang masyhur adalah Imam Malik, Imam Sufyan bin Uyainah (wafat 198 H) dan Imam Muslim bin Khalid az-Zanji (wafat 180 H).
Imam Dzahabi (wafat 748 H) mengatakan bahwa Imam Syafi'i ketika menafsirkan ayat Al-Qur'an seolah-olah beliau sedang menyaksikan bagaimana dulu ayat tersebut diturunkan. Imam Ibnu Katsir juga mengatakan bahwa Imam Syafi'i adalah orang yang paling tahu tentang makna ayat Al-Qur'an. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata: "Saya tidak menemukan seorang yang lebih pandai dan lebih mengerti terhadap kitab Allah daripada Imam Syafi'i."
Wallahu A'lam
Baca Juga: Imam Syafi'i Tak Pernah Mengatakan Allah Bertempat di Atas 'Arsy (1)
"Ini termasuk ayat mutasyabihat. Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak --secara mendetail-- membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam kesesatan tasybih. Kewajiban atas orang ini --dan semua orang Islam-- adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan." (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).
Secara panjang lebar dalam kitab yang sama, Imam Syafi'i juga membahas bahwa adanya batasan (bentuk) dan penghabisan adalah sesuatu yang mustahil bagi Allah. Karena pengertian batasan (al-hadd; bentuk) adalah ujung dari sesuatu dan penghabisannya.
Dalil bagi kemustahilan hal ini bagi Allah adalah bahwa Allah ada tanpa permulaan dan tanpa bentuk, maka demikian pula Dia tetap ada tanpa penghabisan dan tanpa bentuk. Karena setiap sesuatu yang memiliki bentuk dan penghabisan, secara logika dapat dibenarkan bila sesuatu itu menerima tambahan dan pengurangan, juga dapat dibenarkan adanya sesuatu yang lain yang serupa dengannya.
Untuk diketahui, Imam Syafi'i adalah ulama yang memiliki sanad keilmuan yang tersambung sampai ke Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau memiliki banyak guru di antaranya yang masyhur adalah Imam Malik, Imam Sufyan bin Uyainah (wafat 198 H) dan Imam Muslim bin Khalid az-Zanji (wafat 180 H).
Imam Dzahabi (wafat 748 H) mengatakan bahwa Imam Syafi'i ketika menafsirkan ayat Al-Qur'an seolah-olah beliau sedang menyaksikan bagaimana dulu ayat tersebut diturunkan. Imam Ibnu Katsir juga mengatakan bahwa Imam Syafi'i adalah orang yang paling tahu tentang makna ayat Al-Qur'an. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata: "Saya tidak menemukan seorang yang lebih pandai dan lebih mengerti terhadap kitab Allah daripada Imam Syafi'i."
Wallahu A'lam
Baca Juga: Imam Syafi'i Tak Pernah Mengatakan Allah Bertempat di Atas 'Arsy (1)
(rhs)
Lihat Juga :