Tata Krama Tinja Abu Nawas Terhadap Baginda
Rabu, 03 Juni 2020 - 09:12 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Abu Nawas dan Enam Ekor Lembu Berjenggot yang Pandai Bicara
"Tak usah banyak alasan, kamu harus dihukum," ujar raja geram.
"Justru, saya buang hajat di hulu karena menghargai engkau baginda," kilah Abu Nawas.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tuan Rumah dan Tamu
Jawaban Abu Nawas itu membuat Raja tertegun. "Kenapa perbuatan kamu buang hajat seperti itu dibilang menghormati aku?" tanya raja.
"Begini, selama ini jika raja tengah mengadakan perjalanan dengan rakyat atau bersama prajurit, tidak ada di antara mereka yang berani mendahului jalan raja. Begitu juga dengan saya, ketika saya ikut rombongan raja, posisi ketika berjalan tidak berani mendahului Raja. Itu saya lakukan karena saya menjaga tata krama dan sopan santun kepada Raja," kata Abu Nawas.
"Ya bagus, tapi apa hubungannya dengan perbuatanmu sekarang ini?" tanya raja.
Baca juga: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi
"Begini raja, saya menghormati engkau tidak setengah-setengah. Ketika saya buang hajat, saya memilih di hulu sungai agar kotoran saya tidak mendahuli kotoran raja. Itu tidak sopan karena sudah berani berjalan mendahului kotoran raja. Ini semua saya lakukan demi tata krama saya kepada kotoran raja," jelas Abu Nawas.
Baca juga: Baginda Sultan dan Para Menteri Bertelur, Abu Nawas Berkokok
Mendengar penjelasan Abu Nawas, Raja tersenyum kecut. Beliau hanya bisa mengangguk-angguk. Dasar Abu Nawas!
"Tak usah banyak alasan, kamu harus dihukum," ujar raja geram.
"Justru, saya buang hajat di hulu karena menghargai engkau baginda," kilah Abu Nawas.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tuan Rumah dan Tamu
Jawaban Abu Nawas itu membuat Raja tertegun. "Kenapa perbuatan kamu buang hajat seperti itu dibilang menghormati aku?" tanya raja.
"Begini, selama ini jika raja tengah mengadakan perjalanan dengan rakyat atau bersama prajurit, tidak ada di antara mereka yang berani mendahului jalan raja. Begitu juga dengan saya, ketika saya ikut rombongan raja, posisi ketika berjalan tidak berani mendahului Raja. Itu saya lakukan karena saya menjaga tata krama dan sopan santun kepada Raja," kata Abu Nawas.
"Ya bagus, tapi apa hubungannya dengan perbuatanmu sekarang ini?" tanya raja.
Baca juga: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi
"Begini raja, saya menghormati engkau tidak setengah-setengah. Ketika saya buang hajat, saya memilih di hulu sungai agar kotoran saya tidak mendahuli kotoran raja. Itu tidak sopan karena sudah berani berjalan mendahului kotoran raja. Ini semua saya lakukan demi tata krama saya kepada kotoran raja," jelas Abu Nawas.
Baca juga: Baginda Sultan dan Para Menteri Bertelur, Abu Nawas Berkokok
Mendengar penjelasan Abu Nawas, Raja tersenyum kecut. Beliau hanya bisa mengangguk-angguk. Dasar Abu Nawas!
(mhy)
Lihat Juga :