Tata Krama Tinja Abu Nawas Terhadap Baginda
Rabu, 03 Juni 2020 - 09:12 WIB
loading...
Sopan santun yang tidak tanggung-tanggung. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
Abu Nawas adalah pujangga Arab dan merupakan salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Penyair ulung sekaligus tokoh sufi ini mempunyai nama lengkap Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami dan hidup pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M). (Baca juga: 3000 Dirham, Biaya Obat Kangen Baginda Kepada Abu Nawas )
Pada suatu hari, Abu Nawas menghina Raja Harun Al-Rasyid dengan cerdik. Suatu ketika Raja Harun Al-Rasyid dalam sebuah perjalanan. Pada saat itu perut Raja tiba-tiba mulas dan ingin buang hajat.
Baca Juga: Baginda Percaya Nggak Percaya, Abu Nawas Bisa ke Bulan
Kala itu belum ada WC umum yang menyediakan toilet. Sungailah yang menjadi sasaran. Raja Harun Al-Rasyid memerintahkan prajuritnya untuk mengantarkan dirinya. Beliau juga berpesan jangan sampai ada orang yang melakukan hal yang sama di hulu sungai.
Baca juga: Abu Nawas Menciumi Ayam Panggang, Jebakan Baginda
Singkat cerita sang raja akhirnya buang hajat di tengah sungai dengan air yang mengalir deras. Pada waktu bersamaan, masyarakat sudah paham bahwa sangat dilarang keras buang hajat di bagian hulu sungai tersebut. Jika itu terjadi dikhawatirkan kotoran dari hulu itu menghampiri raja yang ada di hilir. Bagi yang melanggar, pastinya akan mendapat hukuman berat.
Namun, Abu Nawas tak memperdulikan kebiasaan tersebut. Dengan santai, ia buang hajat di hulu sungai. Tinja Abu Nawas mengapung mengangguk-angguk dibawa air yang mengalir ke hilir. Raja melihat tinja itu dan kaget bukan kepalang. Beliau pun naik pitam. "Hai siapa yang buang hajat di hulu," teriaknya.
Baca juga: Hikayat Mistis: Burung Merak Raja di Bawah Keranjang
Raja kemudian meminta prajurit menyusuri sungai dan menangkap orang yang tidak sopan itu. Tak butuh waktu lama, prajurit akhirnya menenteng Abu Nawas ke hadapan raja.
Sudah seperti diduga Raja marang bukan kepalang. Abu Nawas sudah membayangkan bakal mendapat hukuman berat. Namun si cerdik tak kehabisan akal. Ia protes kepada raja. "Kenapa saya harus ditangkap," protesnya.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Cara Mendapat Pengetahuan
"Kamu tak memiliki tata krama buang hajat di depanku hingga kotoranmu mengenaiku," bentak raja. Raja menganggap itu sebagai penghinaan.
"Raja sepertinya salah paham," jawab Abu Nawas dengan tangkas.
Baca juga: Abu Nawas dan Enam Ekor Lembu Berjenggot yang Pandai Bicara
"Tak usah banyak alasan, kamu harus dihukum," ujar raja geram.
"Justru, saya buang hajat di hulu karena menghargai engkau baginda," kilah Abu Nawas.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tuan Rumah dan Tamu
Jawaban Abu Nawas itu membuat Raja tertegun. "Kenapa perbuatan kamu buang hajat seperti itu dibilang menghormati aku?" tanya raja.
"Begini, selama ini jika raja tengah mengadakan perjalanan dengan rakyat atau bersama prajurit, tidak ada di antara mereka yang berani mendahului jalan raja. Begitu juga dengan saya, ketika saya ikut rombongan raja, posisi ketika berjalan tidak berani mendahului Raja. Itu saya lakukan karena saya menjaga tata krama dan sopan santun kepada Raja," kata Abu Nawas.
"Ya bagus, tapi apa hubungannya dengan perbuatanmu sekarang ini?" tanya raja.
Baca juga: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi
"Begini raja, saya menghormati engkau tidak setengah-setengah. Ketika saya buang hajat, saya memilih di hulu sungai agar kotoran saya tidak mendahuli kotoran raja. Itu tidak sopan karena sudah berani berjalan mendahului kotoran raja. Ini semua saya lakukan demi tata krama saya kepada kotoran raja," jelas Abu Nawas.
Baca juga: Baginda Sultan dan Para Menteri Bertelur, Abu Nawas Berkokok
Mendengar penjelasan Abu Nawas, Raja tersenyum kecut. Beliau hanya bisa mengangguk-angguk. Dasar Abu Nawas!
Pada suatu hari, Abu Nawas menghina Raja Harun Al-Rasyid dengan cerdik. Suatu ketika Raja Harun Al-Rasyid dalam sebuah perjalanan. Pada saat itu perut Raja tiba-tiba mulas dan ingin buang hajat.
Baca Juga: Baginda Percaya Nggak Percaya, Abu Nawas Bisa ke Bulan
Kala itu belum ada WC umum yang menyediakan toilet. Sungailah yang menjadi sasaran. Raja Harun Al-Rasyid memerintahkan prajuritnya untuk mengantarkan dirinya. Beliau juga berpesan jangan sampai ada orang yang melakukan hal yang sama di hulu sungai.
Baca juga: Abu Nawas Menciumi Ayam Panggang, Jebakan Baginda
Singkat cerita sang raja akhirnya buang hajat di tengah sungai dengan air yang mengalir deras. Pada waktu bersamaan, masyarakat sudah paham bahwa sangat dilarang keras buang hajat di bagian hulu sungai tersebut. Jika itu terjadi dikhawatirkan kotoran dari hulu itu menghampiri raja yang ada di hilir. Bagi yang melanggar, pastinya akan mendapat hukuman berat.
Namun, Abu Nawas tak memperdulikan kebiasaan tersebut. Dengan santai, ia buang hajat di hulu sungai. Tinja Abu Nawas mengapung mengangguk-angguk dibawa air yang mengalir ke hilir. Raja melihat tinja itu dan kaget bukan kepalang. Beliau pun naik pitam. "Hai siapa yang buang hajat di hulu," teriaknya.
Baca juga: Hikayat Mistis: Burung Merak Raja di Bawah Keranjang
Raja kemudian meminta prajurit menyusuri sungai dan menangkap orang yang tidak sopan itu. Tak butuh waktu lama, prajurit akhirnya menenteng Abu Nawas ke hadapan raja.
Sudah seperti diduga Raja marang bukan kepalang. Abu Nawas sudah membayangkan bakal mendapat hukuman berat. Namun si cerdik tak kehabisan akal. Ia protes kepada raja. "Kenapa saya harus ditangkap," protesnya.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Cara Mendapat Pengetahuan
"Kamu tak memiliki tata krama buang hajat di depanku hingga kotoranmu mengenaiku," bentak raja. Raja menganggap itu sebagai penghinaan.
"Raja sepertinya salah paham," jawab Abu Nawas dengan tangkas.
Baca juga: Abu Nawas dan Enam Ekor Lembu Berjenggot yang Pandai Bicara
"Tak usah banyak alasan, kamu harus dihukum," ujar raja geram.
"Justru, saya buang hajat di hulu karena menghargai engkau baginda," kilah Abu Nawas.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tuan Rumah dan Tamu
Jawaban Abu Nawas itu membuat Raja tertegun. "Kenapa perbuatan kamu buang hajat seperti itu dibilang menghormati aku?" tanya raja.
"Begini, selama ini jika raja tengah mengadakan perjalanan dengan rakyat atau bersama prajurit, tidak ada di antara mereka yang berani mendahului jalan raja. Begitu juga dengan saya, ketika saya ikut rombongan raja, posisi ketika berjalan tidak berani mendahului Raja. Itu saya lakukan karena saya menjaga tata krama dan sopan santun kepada Raja," kata Abu Nawas.
"Ya bagus, tapi apa hubungannya dengan perbuatanmu sekarang ini?" tanya raja.
Baca juga: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi
"Begini raja, saya menghormati engkau tidak setengah-setengah. Ketika saya buang hajat, saya memilih di hulu sungai agar kotoran saya tidak mendahuli kotoran raja. Itu tidak sopan karena sudah berani berjalan mendahului kotoran raja. Ini semua saya lakukan demi tata krama saya kepada kotoran raja," jelas Abu Nawas.
Baca juga: Baginda Sultan dan Para Menteri Bertelur, Abu Nawas Berkokok
Mendengar penjelasan Abu Nawas, Raja tersenyum kecut. Beliau hanya bisa mengangguk-angguk. Dasar Abu Nawas!
(mhy)
Lihat Juga :