Jalaluddin Rumi: Ketika Musuh Meludahi Wajah Ali bin Abu Thalib
Minggu, 10 Oktober 2021 - 20:14 WIB
loading...
A
A
A
Bagi mereka yang memakan karunia ini dia membentang, melalui rahmat yang begitu baik ini, panji mereka di dunia, selama empat puluh tahun kemurahan yang luar biasa itu memberi makan mereka yang memiliki harapan tanpa kekurangan.
Hingga mereka bertanya, karena mereka telah menjadi begitu rendah, “Mengapa bumbu-bumbu dan bawang-bawang tidak dikirim ke sini!”
Baca juga: Jalaluddin Rumi tentang Kisah Pemuda Qazwin dan Tato Singa
Umat Muhammad, orang-orang yang mulia, dapat melihat bahwa makanan seperti itu berasal dari Allah, dan mereka akan bertahan selamanya: Nabi berkata, “Aku bersama Allah malam sebelumnya, Yang telah memberiku makan,” –– ini bukanlah kiasan!
Terimalah bacaan ini, jangan berdebat, susu dan madu semacam itu, mungkin engkau juga telah diberi-Nya; Menerka-nerka apa yang telah engkau terima sama saja dengan membuangnya, karena kesalahan yang telah engkau persepsikan.
Melihat kekurangan menunjukkan bahwa pikiranmu juga lemah, kebijaksanaan adalah inti, penjelasan hanyalah cangkangnya. Nilailah secara kritis dirimu sendiri yang hina, jangan mengkritik duri mawar, tetapi kritiklah kepala (pikiran)mu!
Baca juga: Jalaluddin Rumi Anggap Perempuan sebagai Suatu Pancaran Ilahi
Hingga mereka bertanya, karena mereka telah menjadi begitu rendah, “Mengapa bumbu-bumbu dan bawang-bawang tidak dikirim ke sini!”
Baca juga: Jalaluddin Rumi tentang Kisah Pemuda Qazwin dan Tato Singa
Umat Muhammad, orang-orang yang mulia, dapat melihat bahwa makanan seperti itu berasal dari Allah, dan mereka akan bertahan selamanya: Nabi berkata, “Aku bersama Allah malam sebelumnya, Yang telah memberiku makan,” –– ini bukanlah kiasan!
Terimalah bacaan ini, jangan berdebat, susu dan madu semacam itu, mungkin engkau juga telah diberi-Nya; Menerka-nerka apa yang telah engkau terima sama saja dengan membuangnya, karena kesalahan yang telah engkau persepsikan.
Melihat kekurangan menunjukkan bahwa pikiranmu juga lemah, kebijaksanaan adalah inti, penjelasan hanyalah cangkangnya. Nilailah secara kritis dirimu sendiri yang hina, jangan mengkritik duri mawar, tetapi kritiklah kepala (pikiran)mu!
Baca juga: Jalaluddin Rumi Anggap Perempuan sebagai Suatu Pancaran Ilahi
(mhy)
Lihat Juga :