Tuhan-Tuhan Bani Israel dan Misi Tauhid Nabi Musa
Kamis, 04 Juni 2020 - 14:19 WIB
loading...
A
A
A
Keyakinan Penduduk Mesir:
Ada yang berpendapat bahwa penduduk Mesir kuno adalah paganisme tulen yang memiliki dan menyembah tuhan yang sangat beragam. Di antara tuhan-tuhan yang mereka sembah ada yang berupa bintang semisal bintang-bintang yang berada di sebelah kanan, matahari, gemini dan yang lainnya.
Bahkan yang lebih banyak lagi, para ulama menyatakan, 'Sesungguhnya mereka menyembah binatang, seperti anak sapi dan sapinya, kera, kucing, dan buaya'.
Para ulama mengatakan ketika menafsirkan firman Allah tabaraka wa ta'ala:
﴿ وَقَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِ فِرۡعَوۡنَ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوۡمَهُۥ لِيُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَيَذَرَكَ وَءَالِهَتَكَۚ ١٢٧﴾ [ الأعراف: 127 ]
"Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun): "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?". (QS al-A'raaf: 127).
Mereka biasa menyembah sesuatu yang dianggap baik dari seekor sapi, oleh sebab itu Samiri mengeluarkan kepala lembu yang bertubuh dan bersuara, seraya menyeru, 'Inilah tuhan kalian dan juga tuhannya Musa'. Kemudian kepala lembu tersebut menjadi sesembahan di kalangan kaum Nabi Musa 'alaihi sallam. Inilah pendapat yang dipilih oleh Imam Sudi.
Ada yang menyatakan bahwa Fir'aun yang meletakkan patung kecil pada setiap rumah kaumnya lalu memerintahkan untuk menyembahnya. Sedangkan al-Hasan mengatakan, 'Adapun Fir'aun maka dia adalah penyembah berhala'.
Baca juga: Respon Para Raja Terhadap Ajakan Rasulullah Memeluk Islam
Profesor Doktor Muhammad bin Abdillah Daraz dalam bukunya ad-Din, saat mengomentari masa-masa Dinasti Fir'aun, menuturkan sesungguhnya kumpulan lembaran berharga yang ada di kota Berlin dan London menunjukan kalau penduduk Mesir kuno semenjak lama telah mengenali Tuhan yang esa yang ghaib lagi kekal yang tidak bisa diraba dengan panca indera tidak pula bisa diilustrasikan serta dibatasi dengan sesuatu.
Akan tetapi, aqidah tersebut banyak tergerus pada kalangan awamnya dengan pemikiran bahwa Tuhan tersebut telah menyerupai atau menjadi sebuah tubuh atau menyatu dengan beberapa makhluk yang istimewa, mulai dari manusia, hewan atau benda-benda mati.
Mereka menyakini kalau kekuatan mengatur itu berada pada raja-rajanya, sedangkan kekuatan alam, tanaman secara umum berada pada sungai Nil, dan kekuatan binatang berada pada anak lembu (Abis) dengan menyandarkan penyerbukannya pada pancaran cahaya mentari.
Mereka mengakui kalau benda-benda yang ada secara khusus ini adalah makhluk yang berhak untuk disucikan dan disembah dengan sebab adanya hubungan erat mereka bersama Tuhan yang ada di atas.
Tujuan pendapat ini ialah untuk menyanggah pendapat pertama, yang secara tidak langsung mereka menegaskan bahwa penduduk Mesir kuno bukan berada pada ajaran paganisme tulen, namun, aqidah yang mereka miliki asalnya adalah aqidah tauhid.
Adapun perilaku mereka dengan menjadikan tuhan-tuhan yang begitu banyak, maka itu hanyalah sebagai simbol semata, yang menunjukan pada keberadaan sifat-sifat yang dimiliki oleh Tuhan yang Esa. Artinya tuhan-tuhan yang mereka buat hanya sebagai simbol dari sifat-sifat serta hakekat tuhan sejati.
Baca juga: Kisah Nazar Abdul Muthalib Menyembelih Anaknya
Jadi, sesungguhnya masyarakat Mesir kuno tidak menyembah pada benda-benda tersebut secara hakaket, namun, mereka menjadikan sebagai simbol tuhan sejati yang maha mampu, yang telah menyatu bersama ruhnya –menurut klaim mereka-, yang efeknya bisa dirasakan.
Dan perbuatan ini disebabkan oleh perilaku para tukang sihir yang mempunyai peran penting dalam keberadaan agama-agama Mesir kuno. Yaitu mengubah-ubah simbol yang sangat beragam untuk para tuhan-tuhannya, begitulah agama yang mengajarkan untuk menyembah satu Tuhan lambat laun bergeser. Pada awalnya hanya dalam bentuk seseorang Aton lalu berkembang pada Ra (dewa matahari) atau bola matahari, selanjutnya pada pribadi Amon serta fenomena alam kemudian berlanjut dengan raja-raja dan para pembesarnya.
Oleh karena itu, kita bisa melihat relief raja-raja mereka selalu ada di tempat-tempat peribadahan besar mereka yang digunakan untuk menyerupakan peribadatan kepada Aton atau Ra' atau Amon. Sebagaimana kita juga melihat pada sebagian tempat-tempat peribadatan kecil yang selalu diletakan relief Fir'aun yang berada dipaling depan hingga diletakan disamping tuhan-tuhannya. Bahkan relieif tadi terkadang juga bisa meneriman peribadatan dan memiliki hak kekhususan tuhan.
Baca juga: Kisah Leluhur Rasulullah dan Jabatan Pemegang Kunci Ka'bah
Agama tauhid tersebut tidaklah bertahan lama hingga akhirnya terkontaminasi lalu berakhir riwayatnya, musnah tidak menyisakan sama sekali dengan kesyirikan dan paganisme yang dicampur adukkan oleh para tukang sihir sampai kondisinya sangat mengenaskan sekali di mana ibadah tersebut ada yang ditujukan kepada binatang bahkan ditujukan kepada kecoa dan serangga.
Sedangkan Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria berpendapat yang mendekati kebenaran dalam masalah ini ialah bahwa penduduk Mesir tergelincir dari agama tauhid lalu berganti menjadi penyembah berhala dengan sebab karena mereka menjadikan tuhan-tuhan yang sangat banyak, setiap sesuatu mempunyai tuhan yang bertugas mengatur sendirian, baginya sifat-sifat serta kekhususan yang tidak dimiliki oleh tuhan yang lain.
Walaupun, menurut Syaikh Abu Bakar, dalam hal ini tidak menutup kemungkinan adanya keyakinan mereka yang menyakini adanya ilah terbesar dari tuhan-tuhan kecil tadi. Dengan dalil adanya nasyid-nasyid yang menunjukan hal tersebut, yang mereka tujukan manakala bermunajat atau berdoa kepada tuhannya tersebut.
Baca juga: Islam Turun di Makkah, Benarkah Karena Wilayah Itu Paling Bejat?
Memang benar, apa yang dituturkan oleh para sejarawan kalau raja-raja mereka mempunyai kedudukan yang tinggi. Mereka biasa meletakan reliefnya di barisan terdepan sebelum tuhan-tuhannya. Kedudukan raja tersebut berada di tempat yang tinggi baik dari segi peribadatan ataupun kesuciaanya . Dan yang mendukung hal ini ialah firman Allah ta'ala manakala mengkisahkan Fir'aun, Allah berfirman:
Dan yang mendukung hal ini ialah firman Allah ta'ala manakala mengkisahkan Fir'aun, Allah berfirman:
﴿ فَحَشَرَ فَنَادَىٰ ٢٣ فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ ٢٤ ﴾ [ النازعات: 23-24 ]
"Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (seraya) berkata:"Akulah Tuhanmu yang paling tinggi". (QS an-Nazi'aat: 23-24).
Di sini Fir'aun menyatakan dirinya sebagai Rabb yang mengungguli tuhan-tuhan lainya. Bahkan terkadang dirinya tidak menganggap keberadaan tuhan-tuhan tersebut dan menjadikan dirinya sebagai tuhan yang esa sebagaimana hal tersebut direkam oleh Allah ta'ala didalam ayatNya yang lain:
﴿ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَأُ مَا عَلِمۡتُ لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرِي ٣٨ ﴾ [ القصص: 38 ]
"Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku". (QS al-Qashash: 38).
Barangkali faktor kenapa penduduk Mesir kuno sampai memiliki begitu beragam tuhan, sesungguhnya orang tatkala akalnya tidak lagi mampu menembus batas, pikiranya sudah kering untuk berpikir hingga akhirnya menyisakan pertanyaan-pertanyaan kritis yang sangat banyak, apakah mungkin tuhan esa tersebut mampu mengatur alam semesta yang sedemikian luasnya secara sendirian? Maka pertanyaan-pertanyaan semacam tadi dijawab oleh paranormal dan menyatakan kalau tuhan yang maha mampu tadi telah menciptakan tuhan-tuhan lain, dan bagi setiap sesuatu memiliki tuhan. Wallahhu'alam. (Baca juga: Ka'bah: Kisah Paganisme Pasca-Nabi Ismail dan Pra-Islam)
Ada yang berpendapat bahwa penduduk Mesir kuno adalah paganisme tulen yang memiliki dan menyembah tuhan yang sangat beragam. Di antara tuhan-tuhan yang mereka sembah ada yang berupa bintang semisal bintang-bintang yang berada di sebelah kanan, matahari, gemini dan yang lainnya.
Bahkan yang lebih banyak lagi, para ulama menyatakan, 'Sesungguhnya mereka menyembah binatang, seperti anak sapi dan sapinya, kera, kucing, dan buaya'.
Para ulama mengatakan ketika menafsirkan firman Allah tabaraka wa ta'ala:
﴿ وَقَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِ فِرۡعَوۡنَ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوۡمَهُۥ لِيُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَيَذَرَكَ وَءَالِهَتَكَۚ ١٢٧﴾ [ الأعراف: 127 ]
"Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun): "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?". (QS al-A'raaf: 127).
Mereka biasa menyembah sesuatu yang dianggap baik dari seekor sapi, oleh sebab itu Samiri mengeluarkan kepala lembu yang bertubuh dan bersuara, seraya menyeru, 'Inilah tuhan kalian dan juga tuhannya Musa'. Kemudian kepala lembu tersebut menjadi sesembahan di kalangan kaum Nabi Musa 'alaihi sallam. Inilah pendapat yang dipilih oleh Imam Sudi.
Ada yang menyatakan bahwa Fir'aun yang meletakkan patung kecil pada setiap rumah kaumnya lalu memerintahkan untuk menyembahnya. Sedangkan al-Hasan mengatakan, 'Adapun Fir'aun maka dia adalah penyembah berhala'.
Baca juga: Respon Para Raja Terhadap Ajakan Rasulullah Memeluk Islam
Profesor Doktor Muhammad bin Abdillah Daraz dalam bukunya ad-Din, saat mengomentari masa-masa Dinasti Fir'aun, menuturkan sesungguhnya kumpulan lembaran berharga yang ada di kota Berlin dan London menunjukan kalau penduduk Mesir kuno semenjak lama telah mengenali Tuhan yang esa yang ghaib lagi kekal yang tidak bisa diraba dengan panca indera tidak pula bisa diilustrasikan serta dibatasi dengan sesuatu.
Akan tetapi, aqidah tersebut banyak tergerus pada kalangan awamnya dengan pemikiran bahwa Tuhan tersebut telah menyerupai atau menjadi sebuah tubuh atau menyatu dengan beberapa makhluk yang istimewa, mulai dari manusia, hewan atau benda-benda mati.
Mereka menyakini kalau kekuatan mengatur itu berada pada raja-rajanya, sedangkan kekuatan alam, tanaman secara umum berada pada sungai Nil, dan kekuatan binatang berada pada anak lembu (Abis) dengan menyandarkan penyerbukannya pada pancaran cahaya mentari.
Mereka mengakui kalau benda-benda yang ada secara khusus ini adalah makhluk yang berhak untuk disucikan dan disembah dengan sebab adanya hubungan erat mereka bersama Tuhan yang ada di atas.
Tujuan pendapat ini ialah untuk menyanggah pendapat pertama, yang secara tidak langsung mereka menegaskan bahwa penduduk Mesir kuno bukan berada pada ajaran paganisme tulen, namun, aqidah yang mereka miliki asalnya adalah aqidah tauhid.
Adapun perilaku mereka dengan menjadikan tuhan-tuhan yang begitu banyak, maka itu hanyalah sebagai simbol semata, yang menunjukan pada keberadaan sifat-sifat yang dimiliki oleh Tuhan yang Esa. Artinya tuhan-tuhan yang mereka buat hanya sebagai simbol dari sifat-sifat serta hakekat tuhan sejati.
Baca juga: Kisah Nazar Abdul Muthalib Menyembelih Anaknya
Jadi, sesungguhnya masyarakat Mesir kuno tidak menyembah pada benda-benda tersebut secara hakaket, namun, mereka menjadikan sebagai simbol tuhan sejati yang maha mampu, yang telah menyatu bersama ruhnya –menurut klaim mereka-, yang efeknya bisa dirasakan.
Dan perbuatan ini disebabkan oleh perilaku para tukang sihir yang mempunyai peran penting dalam keberadaan agama-agama Mesir kuno. Yaitu mengubah-ubah simbol yang sangat beragam untuk para tuhan-tuhannya, begitulah agama yang mengajarkan untuk menyembah satu Tuhan lambat laun bergeser. Pada awalnya hanya dalam bentuk seseorang Aton lalu berkembang pada Ra (dewa matahari) atau bola matahari, selanjutnya pada pribadi Amon serta fenomena alam kemudian berlanjut dengan raja-raja dan para pembesarnya.
Oleh karena itu, kita bisa melihat relief raja-raja mereka selalu ada di tempat-tempat peribadahan besar mereka yang digunakan untuk menyerupakan peribadatan kepada Aton atau Ra' atau Amon. Sebagaimana kita juga melihat pada sebagian tempat-tempat peribadatan kecil yang selalu diletakan relief Fir'aun yang berada dipaling depan hingga diletakan disamping tuhan-tuhannya. Bahkan relieif tadi terkadang juga bisa meneriman peribadatan dan memiliki hak kekhususan tuhan.
Baca juga: Kisah Leluhur Rasulullah dan Jabatan Pemegang Kunci Ka'bah
Agama tauhid tersebut tidaklah bertahan lama hingga akhirnya terkontaminasi lalu berakhir riwayatnya, musnah tidak menyisakan sama sekali dengan kesyirikan dan paganisme yang dicampur adukkan oleh para tukang sihir sampai kondisinya sangat mengenaskan sekali di mana ibadah tersebut ada yang ditujukan kepada binatang bahkan ditujukan kepada kecoa dan serangga.
Sedangkan Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria berpendapat yang mendekati kebenaran dalam masalah ini ialah bahwa penduduk Mesir tergelincir dari agama tauhid lalu berganti menjadi penyembah berhala dengan sebab karena mereka menjadikan tuhan-tuhan yang sangat banyak, setiap sesuatu mempunyai tuhan yang bertugas mengatur sendirian, baginya sifat-sifat serta kekhususan yang tidak dimiliki oleh tuhan yang lain.
Walaupun, menurut Syaikh Abu Bakar, dalam hal ini tidak menutup kemungkinan adanya keyakinan mereka yang menyakini adanya ilah terbesar dari tuhan-tuhan kecil tadi. Dengan dalil adanya nasyid-nasyid yang menunjukan hal tersebut, yang mereka tujukan manakala bermunajat atau berdoa kepada tuhannya tersebut.
Baca juga: Islam Turun di Makkah, Benarkah Karena Wilayah Itu Paling Bejat?
Memang benar, apa yang dituturkan oleh para sejarawan kalau raja-raja mereka mempunyai kedudukan yang tinggi. Mereka biasa meletakan reliefnya di barisan terdepan sebelum tuhan-tuhannya. Kedudukan raja tersebut berada di tempat yang tinggi baik dari segi peribadatan ataupun kesuciaanya . Dan yang mendukung hal ini ialah firman Allah ta'ala manakala mengkisahkan Fir'aun, Allah berfirman:
Dan yang mendukung hal ini ialah firman Allah ta'ala manakala mengkisahkan Fir'aun, Allah berfirman:
﴿ فَحَشَرَ فَنَادَىٰ ٢٣ فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ ٢٤ ﴾ [ النازعات: 23-24 ]
"Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (seraya) berkata:"Akulah Tuhanmu yang paling tinggi". (QS an-Nazi'aat: 23-24).
Di sini Fir'aun menyatakan dirinya sebagai Rabb yang mengungguli tuhan-tuhan lainya. Bahkan terkadang dirinya tidak menganggap keberadaan tuhan-tuhan tersebut dan menjadikan dirinya sebagai tuhan yang esa sebagaimana hal tersebut direkam oleh Allah ta'ala didalam ayatNya yang lain:
﴿ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَأُ مَا عَلِمۡتُ لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرِي ٣٨ ﴾ [ القصص: 38 ]
"Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku". (QS al-Qashash: 38).
Barangkali faktor kenapa penduduk Mesir kuno sampai memiliki begitu beragam tuhan, sesungguhnya orang tatkala akalnya tidak lagi mampu menembus batas, pikiranya sudah kering untuk berpikir hingga akhirnya menyisakan pertanyaan-pertanyaan kritis yang sangat banyak, apakah mungkin tuhan esa tersebut mampu mengatur alam semesta yang sedemikian luasnya secara sendirian? Maka pertanyaan-pertanyaan semacam tadi dijawab oleh paranormal dan menyatakan kalau tuhan yang maha mampu tadi telah menciptakan tuhan-tuhan lain, dan bagi setiap sesuatu memiliki tuhan. Wallahhu'alam. (Baca juga: Ka'bah: Kisah Paganisme Pasca-Nabi Ismail dan Pra-Islam)
(mhy)
Lihat Juga :