Kisah Turki Bin Abdullah Membangun Dinasti Saudi dari Puing-Puing
Selasa, 23 November 2021 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Hubungan yang baik ini menjadikannya memperoleh kedaulatan nominal darinya untuk menguasai Riyadh dan sekitarnya.
Dengan modal ini, ia kemudian menaklukan Al-Hasa, tempat yang pertama menentang dakwah kakeknya Muhammad Ibn Wahab, sehingga terusir dari kota kelahirannya.
Setelah menguasai tempat ini, Turki bin Abdullah mulai membangun satuan ketentaraan yang lebih besar, sehingga ia mampu menaklukkan suku-suku nomaden lainnya di sekitar wilayah kekuasaannya.
Eamonn Gearon dalam bukunya berjudul Turning Points in Middle Eastern History menyebutkan pada dekade yang sama, antara 1820-1830, perebutan pengaruh antara Mesir dengan Ottoman semakin memuncak.
Di tengah pertarungan para gajah ini, Turki bin Abdullah mengerti cara memosisikan diri. Dengan pelan tapi pasti Turki membangun dasar-dasar imperiumnya.
Meski tidak seagresif para pendahulunya, namun Turki tetap diilhami oleh nilai dasar perjuangan penduhulunya, untuk membersihkan ajaran agama Islam dari penyimpangan dan kekufuran.
Dengan nilai dasar ini, Turki bin Abdullah berhasil mengikat kembali ideologi perjuangan klan Saud II yang sempat pudar bersama hancurnya dinasti Saud I.
Sastra, perdagangan dan pertanian berkembang pada masa pemerintahannya, meski sempat ada beberapa kerugian akibat wabah kolera.
Baca juga: Pangeran Arab Saudi Khalid bin Saud Meninggal di Luar Negeri
Imam Bukan Raja
Buya Hamka dalam bukunya berjudul "Antara Fakta dan Khayal Tuanku Roe" mengutip kitab Qalbu Jaziratil Arab (Jantung Jazirat Arab) karya Syaikh Fuad Hamzah menulis tentang periode pemerintahan Raja-raja Saudi mulai berdirinya.
Menurut Buya Hamka, Turki bin Abdullah memulai gerakan baru setelah keluar dari tempat persembunyian di Padang Pasir (bukan Hadramaut). "Setelah siap diserangnyalah dengan tiba-tiba tentara Mesir yang menduduki negerinya dalam perkemahan, di atas runtuhan kota Dar'iyah," tulisnya.
Dengan modal ini, ia kemudian menaklukan Al-Hasa, tempat yang pertama menentang dakwah kakeknya Muhammad Ibn Wahab, sehingga terusir dari kota kelahirannya.
Setelah menguasai tempat ini, Turki bin Abdullah mulai membangun satuan ketentaraan yang lebih besar, sehingga ia mampu menaklukkan suku-suku nomaden lainnya di sekitar wilayah kekuasaannya.
Eamonn Gearon dalam bukunya berjudul Turning Points in Middle Eastern History menyebutkan pada dekade yang sama, antara 1820-1830, perebutan pengaruh antara Mesir dengan Ottoman semakin memuncak.
Di tengah pertarungan para gajah ini, Turki bin Abdullah mengerti cara memosisikan diri. Dengan pelan tapi pasti Turki membangun dasar-dasar imperiumnya.
Meski tidak seagresif para pendahulunya, namun Turki tetap diilhami oleh nilai dasar perjuangan penduhulunya, untuk membersihkan ajaran agama Islam dari penyimpangan dan kekufuran.
Dengan nilai dasar ini, Turki bin Abdullah berhasil mengikat kembali ideologi perjuangan klan Saud II yang sempat pudar bersama hancurnya dinasti Saud I.
Sastra, perdagangan dan pertanian berkembang pada masa pemerintahannya, meski sempat ada beberapa kerugian akibat wabah kolera.
Baca juga: Pangeran Arab Saudi Khalid bin Saud Meninggal di Luar Negeri
Imam Bukan Raja
Buya Hamka dalam bukunya berjudul "Antara Fakta dan Khayal Tuanku Roe" mengutip kitab Qalbu Jaziratil Arab (Jantung Jazirat Arab) karya Syaikh Fuad Hamzah menulis tentang periode pemerintahan Raja-raja Saudi mulai berdirinya.
Menurut Buya Hamka, Turki bin Abdullah memulai gerakan baru setelah keluar dari tempat persembunyian di Padang Pasir (bukan Hadramaut). "Setelah siap diserangnyalah dengan tiba-tiba tentara Mesir yang menduduki negerinya dalam perkemahan, di atas runtuhan kota Dar'iyah," tulisnya.
Lihat Juga :