Kisah Imam Al-Ghazali di Bawah Ancaman Pembunuh Hashashin
Rabu, 24 November 2021 - 16:34 WIB
loading...
A
A
A
Di sana, dia terus memberi kuliah, yang apabila dikumpulkan dalam auditorium, jumlah muridnya dapat mencapai 300 orang lebih. Selain itu, dia juga menulis khutbah, dan karya hukum dan teologi Islam dalam rentang waktu yang panjang.
Sebagian besar waktu al-Ghazali dihabiskan untuk menerima tamu dan menanggapi surat-surat yang meminta saran dan pendapatnya mengenai masalah teologi dan hukum. Jawaban-jawaban yang dia berikan dilandasi atas argumentasi-argumentasi yang kuat dari sudut pandang Madzhab Sunni ortodoks.
Baca juga: Nasehat Imam Al-Ghazali dalam Mengendalikan Amarah
Pemintal wol
Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, atau lebih terkenal dengan nama Al-Ghazali, lahir sekitar tahun 1058 M di kota Tus, Persia, di Khurasan, yang sekarang merupakan provinsi paling timur laut di Iran. Secara historis, kota ini terbentang sampai ke Afghanistan, dan negara-negara pusat Asia modern seperti Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan.
Eamon Gearon dalam bukunya berjudul "Turning Points in Middle Eastern History" menjelaskan ditilik dari nama keluarganya menunjukkan bahwa keluarga al-Ghazali memiliki profesi sebagai pemintal wol.
Riwayat menyatakan bahwa ayahnya meninggal saat masih muda, sehingga al-Ghazali dan adik laki-lakinya dibesarkan oleh seorang sufi setempat.
"Jika riwayat itu benar, maka fakta tersebut bisa dengan baik menjelaskan keterikatan yang dimiliki oleh kedua bersaudara tersebut terhadap bentuk mistis, bahkan esoteris, dari ajaran Islam," ujar Eamon Gearon.
Baca juga: Derajat Kecintaan Menurut Imam Al-Ghazali
Sebagian besar waktu al-Ghazali dihabiskan untuk menerima tamu dan menanggapi surat-surat yang meminta saran dan pendapatnya mengenai masalah teologi dan hukum. Jawaban-jawaban yang dia berikan dilandasi atas argumentasi-argumentasi yang kuat dari sudut pandang Madzhab Sunni ortodoks.
Baca juga: Nasehat Imam Al-Ghazali dalam Mengendalikan Amarah
Pemintal wol
Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, atau lebih terkenal dengan nama Al-Ghazali, lahir sekitar tahun 1058 M di kota Tus, Persia, di Khurasan, yang sekarang merupakan provinsi paling timur laut di Iran. Secara historis, kota ini terbentang sampai ke Afghanistan, dan negara-negara pusat Asia modern seperti Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan.
Eamon Gearon dalam bukunya berjudul "Turning Points in Middle Eastern History" menjelaskan ditilik dari nama keluarganya menunjukkan bahwa keluarga al-Ghazali memiliki profesi sebagai pemintal wol.
Riwayat menyatakan bahwa ayahnya meninggal saat masih muda, sehingga al-Ghazali dan adik laki-lakinya dibesarkan oleh seorang sufi setempat.
"Jika riwayat itu benar, maka fakta tersebut bisa dengan baik menjelaskan keterikatan yang dimiliki oleh kedua bersaudara tersebut terhadap bentuk mistis, bahkan esoteris, dari ajaran Islam," ujar Eamon Gearon.
Baca juga: Derajat Kecintaan Menurut Imam Al-Ghazali
(mhy)
Lihat Juga :