Nasehat Imam Al-Ghazali dalam Mengendalikan Amarah
Senin, 25 Januari 2021 - 15:25 WIB
loading...
Marah adalah kunci dari setiap keburukan. Oleh sebab itu hendaknya kita sebagai muslim dapat mengendalikan amarah kita, Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Setiap manusia pasti memiliki rasa marah . Secara istilah marah adalah perubahan dalam diri atau emosi yang dibawa oleh kekuatan dan rasa dendam demi menghilangkan gemuruh di dalam dada.
Marah memiliki tanda-tanda zhahir yang menunjukkannya, dan tanda-tanda yang dapat diketahui dengannya di antaranya: 1. Mengejangnya urat dan otot disertai memerahnya wajah dan kedua mata. 2. Wajah yang cemberut (muram) dan dahi yang mengerut. 3. Permusuhan dengan orang lain melalui lisan, tangan, kaki, atau yang semisalnya. 4. Membalas musuh dengan balasan yang setimpal dengannya atau lebih parah darinya, tanpa memikirkan akibat-akibatnya yang fatal dan seterusnya.
Baca juga: Rajin Baca 5 Ayat Al-Qur'an Ini, Keinginan Cepat Tercapai
Dalam Islam marah terbagi dua, marah yang terpuji dan marah yang tercela. Marah yang terpuji, yaitu bila dilakukan dalam rangka membela diri, kehormatan, harta, agama, hak-hak umum atau menolong orang yang dizhalimi . Marah yang tercela adalah marah sebagai tindakan balas dendam demi dirinya sendiri.
Rasa-rasanya tak ada manusia yang tidak pernah marah. Baik Nabi, Rasul, hingga ulama pasti pernah marah. Wajar saja karena marah merupakan reaksi alami manusia akan sebuah kejadian.
Baca juga: Inilah Buah Manis dari Keimanan Kepada Allah Ta'ala
Walaupun wajar dialami, amarah dapat membutakan mata, menulikan telinga, dan mematikan hati. Berawal dari amarahlah, seseorang dapat dengan mudah berkata kasar dan melakukan kekerasan hingga menimbulkan perpecahan.
Cicit Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Ja’far bin Muhammad Rahimahullah pernah berkata, “Marah adalah kunci dari setiap keburukan.”
Oleh sebab itu hendaknya kita sebagai muslim dapat mengendalikan amarah kita. Hal ini juga sebagaimana anjuran Rasulullah kepada salah seorang sahabat.
Baca juga: Julaibib dan Pengantin Perempuan
Dalam sebuah hadis disebutkan,
“Seorang laki-laki pernah meminta nasihat, ‘Wahai Rasulullah, perintahkanlah aku dengan sebuah perbuatan dan sedikitkanlah (jangan banyak-banyak).’ Nabi menjawab, ‘Janganlah kamu marah.’ Laki-laki tersebut mengulangi permintaannya, lalu Nabi tetap menjawab, ‘Janganlah kamu marah.’” (HR. Bukhari).
Marah memiliki tanda-tanda zhahir yang menunjukkannya, dan tanda-tanda yang dapat diketahui dengannya di antaranya: 1. Mengejangnya urat dan otot disertai memerahnya wajah dan kedua mata. 2. Wajah yang cemberut (muram) dan dahi yang mengerut. 3. Permusuhan dengan orang lain melalui lisan, tangan, kaki, atau yang semisalnya. 4. Membalas musuh dengan balasan yang setimpal dengannya atau lebih parah darinya, tanpa memikirkan akibat-akibatnya yang fatal dan seterusnya.
Baca juga: Rajin Baca 5 Ayat Al-Qur'an Ini, Keinginan Cepat Tercapai
Dalam Islam marah terbagi dua, marah yang terpuji dan marah yang tercela. Marah yang terpuji, yaitu bila dilakukan dalam rangka membela diri, kehormatan, harta, agama, hak-hak umum atau menolong orang yang dizhalimi . Marah yang tercela adalah marah sebagai tindakan balas dendam demi dirinya sendiri.
Rasa-rasanya tak ada manusia yang tidak pernah marah. Baik Nabi, Rasul, hingga ulama pasti pernah marah. Wajar saja karena marah merupakan reaksi alami manusia akan sebuah kejadian.
Baca juga: Inilah Buah Manis dari Keimanan Kepada Allah Ta'ala
Walaupun wajar dialami, amarah dapat membutakan mata, menulikan telinga, dan mematikan hati. Berawal dari amarahlah, seseorang dapat dengan mudah berkata kasar dan melakukan kekerasan hingga menimbulkan perpecahan.
Cicit Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Ja’far bin Muhammad Rahimahullah pernah berkata, “Marah adalah kunci dari setiap keburukan.”
Oleh sebab itu hendaknya kita sebagai muslim dapat mengendalikan amarah kita. Hal ini juga sebagaimana anjuran Rasulullah kepada salah seorang sahabat.
Baca juga: Julaibib dan Pengantin Perempuan
Dalam sebuah hadis disebutkan,
“Seorang laki-laki pernah meminta nasihat, ‘Wahai Rasulullah, perintahkanlah aku dengan sebuah perbuatan dan sedikitkanlah (jangan banyak-banyak).’ Nabi menjawab, ‘Janganlah kamu marah.’ Laki-laki tersebut mengulangi permintaannya, lalu Nabi tetap menjawab, ‘Janganlah kamu marah.’” (HR. Bukhari).