Kisah Sufi al-Rudbari: Ketika Tuan Lalim Menutup Bendungan

loading...
Kisah Sufi al-Rudbari: Ketika Tuan Lalim Menutup Bendungan
Cerita ini menggambarkan asal-usul pelik dari ajaran-ajaran Sufi, yang datang dari suatu tempat, tetapi tampaknya datang dari tempat lain, sebab pikiran manusia tak dapat merasakan sumber yang sejati. (Foto/Ilustrasi : Ist)
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes", menyampaikan kisah dari Abu-Ali Muhammad bin al-Qasim al-Rudbari yang merupakan cerita terkenal dari Jalan Guru, tarekat Khwajagan. Berikut kisahnya:

Konon, seorang janda dan lima anak lelakinya hidup di atas sepetak tanah yang diairi. Mereka hidup sederhana dari hasil panen tanah pertanian itu. Tetapi, hak mereka untuk memperoleh air dirampas oleh seorang tuan lalim yang memalang dan menutup bendungan itu.

Si Sulung beberapa kali berusaha memindahkan palang itu, tetapi ia tak cukup kuat, sedangkan adik-adiknya masih kecil. Lagipula, ia tahu bahwa tuan lalim itu selalu bisa menutup kembali bendungannya sehingga upayanya akan sia-sia belaka.

Suatu hari, Si Sulung bertemu ayahnya dalam mimpi. Oleh ayahnya, ia diberi petunjuk tertentu yang menimbulkan harapan. Tak lama kemudian, tuan lalim yang marah atas perilaku pemuda itu menyebarkan berita ke seluruh negeri bahwa ia seorang pembuat onar sehingga membuat masyarakat benci kepadanya.

Baca juga: Kisah Sufi Hatim al-Tha'i dan Raja yang Ingin Menjadi Dermawan

Pemuda ini menyingkir ke sebuah kota yang jauh. Di sana, selama bertahun-tahun, ia bekerja sebagai pembantu seorang pedagang. Dan waktu ke waktu dikirimnya sejumlah uang kepada ibunya lewat perantaraan para pedagang yang sedang dalam perjalanan. Sebab ia tak ingin keluarganya merasa berutang budi kepada orang asing dan agar para pedagang itu tidak dicurigai, ia meminta mereka memberikan uang itu kepada adik-adiknya sebagai upah untuk pekerjaan tertentu.

Setelah berpuluh-puluh tahun lewat, Si Sulung pun memutuskan untuk kembali ke rumah ibunya. Ketika ia tiba di rumah, hanya seorang adiknya yang dengan ragu mengenalinya, sebab ia kini tampak jauh lebih tua.

"Kakak tertuaku berambut hitam," kata adiknya.

"Tetapi aku lebih tua sekarang," kata Si Sulung.

"Kami bukan pedagang," kata adiknya yang lain. "Bagaimana mungkin orang ini, dengan pakaian dan cara bicaranya, mengaku saudara kita?"
halaman ke-1
cover top ayah
رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ اِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡكَ رَحۡمَةً ‌ ۚ اِنَّكَ اَنۡتَ الۡوَهَّابُ
(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”

(QS. Ali 'Imran:8)
cover bottom ayah
preload video