Kisah Bijak Para Sufi: Fatimah Si Pemintal dan Tenda
Senin, 08 Juni 2020 - 06:50 WIB
loading...
A
A
A
Fatimah, yang sangat bersyukur telah diselamatkan oleh pembelinya itu, bekerja sangat giat dan baik sehingga tuannya membebaskannya, dan jadilah Fatimah orang kepercayaan tuannya. Dan Fatimah cukup bahagia dengan kehidupan ketiganya itu.
Suatu hari, tuan itu berkata kepada Fatimah: "Fatimah, pergilah dengan kapal muat membawa tiang-tiang kapal ke Jawa sebagai suruhanku, dan pastikan kau menjualnya dengan mendapatkan laba."
Baca juga: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi
Fatimah pun pergi berlayar. Namun, tatkala kapal itu berada di pesisir Cina, topan dahsyat menenggelamkannya, dan lagi-lagi Fatimah menemukan dirinya terdampar di pantai di tanah asing. Sekali lagi, gadis itu menangis sedih, sebab ia merasa tak sekalipun hidupnya berlangsung sesuai dengan apa yang diharapkannya. Kapan pun segala sesuatu tampak mulai membaik, celaka datang dan menghancurkan segala asa.
"Mengapakah," keluhnya, "setiap kali aku berusaha meraih kebahagian, selalu saja berakhir dengan dukacita? Mengapa begitu banyak hal buruk menimpaku?"
Tetapi tak ada jawab. Kemudian, ia bangkit dan mulai berjalan ke kota.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kisah Api
Di Cina tak seorang pun pernah mendengar tentang Fatimah, atau tahu sesuatu mengenai kemalangannya. Tetapi, ada legenda bahwa seorang asing, seorang wanita, suatu hari akan datang ke negeri itu, dan ia akan membuatkan sebuah tenda untuk Kaisar. Dan, oleh sebab orang Cina tak ada yang bisa membuat tenda, semua orang menantikan penggenapan ramalan tersebut dengan penuh sigap.
Untuk memastikan agar kedatangan wanita asing ini diketahui, maka Kaisar Cina turun-temurun mengikuti kebiasaan untuk mengirimkan pesan, setahun sekali, kepada kota dan desa di negeri itu, menanyakan tentang wanita asing yang harus dibawa ke istana.
Baca Juga: Baginda Percaya Nggak Percaya, Abu Nawas Bisa ke Bulan
Ketika Fatimah dituntun masuk ke kota oleh nelayan Cina, penantian sekian lama akhirnya berujung. Orang-orang berbincang dengannya lewat seorang penerjemah, dan menyuruhnya ke istana menemui Kaisar.
Suatu hari, tuan itu berkata kepada Fatimah: "Fatimah, pergilah dengan kapal muat membawa tiang-tiang kapal ke Jawa sebagai suruhanku, dan pastikan kau menjualnya dengan mendapatkan laba."
Baca juga: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi
Fatimah pun pergi berlayar. Namun, tatkala kapal itu berada di pesisir Cina, topan dahsyat menenggelamkannya, dan lagi-lagi Fatimah menemukan dirinya terdampar di pantai di tanah asing. Sekali lagi, gadis itu menangis sedih, sebab ia merasa tak sekalipun hidupnya berlangsung sesuai dengan apa yang diharapkannya. Kapan pun segala sesuatu tampak mulai membaik, celaka datang dan menghancurkan segala asa.
"Mengapakah," keluhnya, "setiap kali aku berusaha meraih kebahagian, selalu saja berakhir dengan dukacita? Mengapa begitu banyak hal buruk menimpaku?"
Tetapi tak ada jawab. Kemudian, ia bangkit dan mulai berjalan ke kota.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kisah Api
Di Cina tak seorang pun pernah mendengar tentang Fatimah, atau tahu sesuatu mengenai kemalangannya. Tetapi, ada legenda bahwa seorang asing, seorang wanita, suatu hari akan datang ke negeri itu, dan ia akan membuatkan sebuah tenda untuk Kaisar. Dan, oleh sebab orang Cina tak ada yang bisa membuat tenda, semua orang menantikan penggenapan ramalan tersebut dengan penuh sigap.
Untuk memastikan agar kedatangan wanita asing ini diketahui, maka Kaisar Cina turun-temurun mengikuti kebiasaan untuk mengirimkan pesan, setahun sekali, kepada kota dan desa di negeri itu, menanyakan tentang wanita asing yang harus dibawa ke istana.
Baca Juga: Baginda Percaya Nggak Percaya, Abu Nawas Bisa ke Bulan
Ketika Fatimah dituntun masuk ke kota oleh nelayan Cina, penantian sekian lama akhirnya berujung. Orang-orang berbincang dengannya lewat seorang penerjemah, dan menyuruhnya ke istana menemui Kaisar.
Lihat Juga :