Kisah Bijak Para Sufi: Fatimah Si Pemintal dan Tenda
Senin, 08 Juni 2020 - 06:50 WIB
loading...
Ketika tenda satu-satunya di Cina itu dibawa kepada Kaisar, Kaisar sangat girang hatinya. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
KONON, di sebuah kota di ujung barat hiduplah seorang gadis bernama Fatimah. Ia putri seorang pemintal kaya raya. Suatu hari ayahnya berkata kepadanya, "Ikutlah denganku, putriku. Kita akan mengadakan perjalanan. Aku punya urusan dagang di kepulauan Laut Tengah. Barangkali dalam situasi menyenangkan kau akan bertemu seorang pemuda tampan yang akan kau pilih menjadi suamimu."
Mereka pun segera bersiap. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Putri yang Tidak Patuh )
Begitulah, dari satu pulau ke pulau lain mereka berkelana. Sang ayah berdagang, sementara Fatimah mengangankan seorang pemuda yang akan menjadi suaminya. Tetapi, suatu hari dalam pelayaran menuju Kreta, laut mengamuk, dan badai dahsyat membuat kapal mereka karam. Fatimah yang setengah sadar terdampar di pantai dekat Aleksandria. Ayahnya meninggal dan tinggallah Fatimah kini sebatang kara.
Hanya samar-samar ia bisa mengingat siapa dirinya, sebab pengalaman karamnya kapal dan terlunta-lunta di laut lepas telah membuatnya letih.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kisah Pasir
Ketika ia sedang berputar-putar di pantai tanpa tujuan, sebuah keluarga penenun kain melihatnya. Meskipun miskin, mereka menerimanya di pondok mereka dan mengajarinya keterampilan menenun. Demikianlah gadis itu memulai hidup keduanya, dan dalam setahun dua tahun ia sudah merasa gembira kembali. Ia berdamai dengan nasibnya. Tetapi suatu hari, ketika sedang bersantai di pantai, sekelompok pedagang budak menghadang dan membawanya pergi; bersamanya juga ada tawanan lain.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tiga Kebenaran
Ratapan dan keluh kesah Fatimah tidak menimbulkan simpati dari orang-orang yang menangkapnya. Ia dijual ke Istanbul sebagai seorang budak.
Dunianya limbung untuk kedua kalinya. Fatimah beruntung karena ketika itu pasar sedang sepi dan hanya ada sedikit pembeli budak. Salah satunya seorang lelaki yang mencari budak untuk bekerja di pabrik kayunya untuk membuat tiang-tiang kapal. Ketika dilihatnya Fatimah diperlakukan tidak senonoh, ia merasa kasihan dan memutuskan membeli gadis malang itu. Pikirnya, dengan begitu setidaknya ia bisa memberi hidup yang sedikit lebih baik bagi Fatimah dibandingkan bila gadis itu dibeli oleh orang lain.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Cara Mendapat Pengetahuan
Ia membawa Fatimah ke rumahnya dengan maksud mempekerjakannya sebagai pelayan bagi istrinya. Tetapi ketika tiba di rumah, ia diberitahu bahwa kapal muatnya telah dirampok bajak laut. Padahal semua uangnya sudah ia habiskan untuk membeli muatan dalam kapal tersebut. Ia tak punya uang lagi untuk mengupah pekerja, jadi ia, Fatimah, dan istrinya sendirian bekerja keras membuat tiang-tiang.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tuan Rumah dan Tamu
Mereka pun segera bersiap. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Putri yang Tidak Patuh )
Begitulah, dari satu pulau ke pulau lain mereka berkelana. Sang ayah berdagang, sementara Fatimah mengangankan seorang pemuda yang akan menjadi suaminya. Tetapi, suatu hari dalam pelayaran menuju Kreta, laut mengamuk, dan badai dahsyat membuat kapal mereka karam. Fatimah yang setengah sadar terdampar di pantai dekat Aleksandria. Ayahnya meninggal dan tinggallah Fatimah kini sebatang kara.
Hanya samar-samar ia bisa mengingat siapa dirinya, sebab pengalaman karamnya kapal dan terlunta-lunta di laut lepas telah membuatnya letih.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kisah Pasir
Ketika ia sedang berputar-putar di pantai tanpa tujuan, sebuah keluarga penenun kain melihatnya. Meskipun miskin, mereka menerimanya di pondok mereka dan mengajarinya keterampilan menenun. Demikianlah gadis itu memulai hidup keduanya, dan dalam setahun dua tahun ia sudah merasa gembira kembali. Ia berdamai dengan nasibnya. Tetapi suatu hari, ketika sedang bersantai di pantai, sekelompok pedagang budak menghadang dan membawanya pergi; bersamanya juga ada tawanan lain.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tiga Kebenaran
Ratapan dan keluh kesah Fatimah tidak menimbulkan simpati dari orang-orang yang menangkapnya. Ia dijual ke Istanbul sebagai seorang budak.
Dunianya limbung untuk kedua kalinya. Fatimah beruntung karena ketika itu pasar sedang sepi dan hanya ada sedikit pembeli budak. Salah satunya seorang lelaki yang mencari budak untuk bekerja di pabrik kayunya untuk membuat tiang-tiang kapal. Ketika dilihatnya Fatimah diperlakukan tidak senonoh, ia merasa kasihan dan memutuskan membeli gadis malang itu. Pikirnya, dengan begitu setidaknya ia bisa memberi hidup yang sedikit lebih baik bagi Fatimah dibandingkan bila gadis itu dibeli oleh orang lain.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Cara Mendapat Pengetahuan
Ia membawa Fatimah ke rumahnya dengan maksud mempekerjakannya sebagai pelayan bagi istrinya. Tetapi ketika tiba di rumah, ia diberitahu bahwa kapal muatnya telah dirampok bajak laut. Padahal semua uangnya sudah ia habiskan untuk membeli muatan dalam kapal tersebut. Ia tak punya uang lagi untuk mengupah pekerja, jadi ia, Fatimah, dan istrinya sendirian bekerja keras membuat tiang-tiang.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tuan Rumah dan Tamu
Lihat Juga :