Mush'ab Bin Umair, Sahabat Nabi Paling Ganteng dan Duta Islam Pertama (2)
Senin, 08 Juni 2020 - 08:26 WIB
loading...
A
A
A
Mush'ab tampak laksana damainya cahaya fajar, erpancarlah ketulusan hati Mush'ab lidahnya mengeluarkan kalimat halus, "Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!
Usaid adalah seorang yang berakal sehat. Ia diajak oleh Mush'ab untuk berbicara dan meminta petimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush'ab , dan jika tidak, maka Mush'ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.
Tiba-tiba Usaid berujar: "Sekarang saya insaf". Dia menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan Mush'ab. Ayat-ayat indah Al-Qur'an pun keluar dari lisan Mush'ab. Ketika itu pula hati Usaid pun mulai terbuka dan meresapi keindahan kalamullah tersebut. Belum lagi Mush'ab selesai berbicara, Usaid pun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya: "Alangkah indah dan benarnya ucapan itu! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk Agama ini?"
Maka suara tahlil pun bergemuruh serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian Mush'ab berkata: "Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah". [Baca Juga: Kisah Mush'ab bin 'Umair, Sahabat Nabi yang Dicintai ]
Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.
Berita masuk Islamnya Usaid pun tersebar di Madinah. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa'ad bin Mu'adz. Setelah mendengar uraian Mush'ab, Sa'ad merasa puas dan ikut masuk Islam . Langkah ini disusul pula oleh Sa'ad bin Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah.
Penduduk Madinah saling berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka: "Jika Usaid bin Hudhair, Sa'ad bin Ubadah dan Sa'ad bin Mu'adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu. Ayo kita pergi kepada Mush'ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya!
Demikianlah duta Islam pertama yang diutus Rasulullah telah mencapai hasil gemilang. Sebuah keberhasilan yang layak diperolehnya. Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para sahabatnya hijrah ke Madinah. [Baca Juga: Mush'ab Bin Umair, Sahabat Nabi Paling Ganteng dan Duta Islam Pertama (1)]
(bersambung)
Usaid adalah seorang yang berakal sehat. Ia diajak oleh Mush'ab untuk berbicara dan meminta petimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush'ab , dan jika tidak, maka Mush'ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.
Tiba-tiba Usaid berujar: "Sekarang saya insaf". Dia menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan Mush'ab. Ayat-ayat indah Al-Qur'an pun keluar dari lisan Mush'ab. Ketika itu pula hati Usaid pun mulai terbuka dan meresapi keindahan kalamullah tersebut. Belum lagi Mush'ab selesai berbicara, Usaid pun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya: "Alangkah indah dan benarnya ucapan itu! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk Agama ini?"
Maka suara tahlil pun bergemuruh serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian Mush'ab berkata: "Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah". [Baca Juga: Kisah Mush'ab bin 'Umair, Sahabat Nabi yang Dicintai ]
Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.
Berita masuk Islamnya Usaid pun tersebar di Madinah. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa'ad bin Mu'adz. Setelah mendengar uraian Mush'ab, Sa'ad merasa puas dan ikut masuk Islam . Langkah ini disusul pula oleh Sa'ad bin Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah.
Penduduk Madinah saling berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka: "Jika Usaid bin Hudhair, Sa'ad bin Ubadah dan Sa'ad bin Mu'adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu. Ayo kita pergi kepada Mush'ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya!
Demikianlah duta Islam pertama yang diutus Rasulullah telah mencapai hasil gemilang. Sebuah keberhasilan yang layak diperolehnya. Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para sahabatnya hijrah ke Madinah. [Baca Juga: Mush'ab Bin Umair, Sahabat Nabi Paling Ganteng dan Duta Islam Pertama (1)]
(bersambung)
(rhs)
Lihat Juga :