Kisah Mush'ab bin 'Umair, Sahabat Nabi yang Dicintai

loading...
Kisah Mushab bin Umair, Sahabat Nabi yang Dicintai
Kisah Mush'ab bin 'Umair, Sahabat Nabi yang Dicintai
Dai yang juga penulis buku-buku Islami, Ustaz Salim A Fillah menceritakan satu kisah sahabat Nabi yang mengagumkan, Mush'ab ibn 'Umair radhiallahu 'anhu (RA). Kisah ini dikemukakan Ustaz Salim saat umrah jejak Nabi pada 16-25 Februari.

Berikut kisah yang diunggahnya melalui akun IG @salimafillah belum lama ini. Ustaz Salim memberi judul 'Dicintai' untuk mengenang kemuliaan sosok sahabat Nabibernama Mush'ab bin Umair.

Penampilan 'Abdurrahman bin 'Auf tak pernah berubah. Saudagar agung yang sering dengan ringan meletakkan kantong berisi 40 ribu dinar di pangkuan Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam (SAW), yang seribu unta niaganya pernah menderakkan Madinah lalu dijadikan infaq fi sabilillah itu sukar dibedakan dari para pegawai dan bahkan budaknya.

Suatu hari dia makan bersama para pekerja itu, dan tiba-tiba dia sesenggukan, air matanya membanjir deras. "Mush'ab ibn 'Umair lebih baik dari kami", ujarnya di tengah isak, "Dan dia tak pernah merasakan makanan yang selembut ini."



"Ketika dia syahid dalam Perang Uhud", sambungnya masih sambil menangis, "Tak ada kain untuk mengafaninya selain sehelai selimut usang lagi bertambal. Jika ditutupkan ke kepala, kakinya terlihat. Jika diselubungkan ke kaki, kepalanya terbuka. Maka kami tutupkan kain itu ke kepalanya, dan kami selubungi kakinya dengan rerumputan idzkhir."

Mush'ab adalah kisah tentang hidup yang terjun kecekikan kesukaran tepat ketika dia melapangkan hati menerima kebenaran. Dia seorang pemuda tampan, anggun, berkulit lembut, penampilannya rapi, pakaiannya mewah berselera tinggi, dan masyhur karena harumannya tercium dari jarak sekian-sekian. Tapi begitu dia mengikrarkan syahadat, ibu yang dulu sangat menyayanginya memutuskan hubungan dan semua pemberian.

"Kulit Mush'ab kering dan mengelupas", begitu kawan-kawannya berkisah, "Bagaikan ular yang bersalin sisik."



Beberapa tahun kemudian ketika Rasulullah SAWberbahagia menyaksikan benih dakwah yang disemai Mush'ab di Madinah berakar, tumbuh, dan mekar. Pemuda agung itu memasuki Masjid Nabawi dengan wajah kuyu, rambut kusut, dan pakaian lusuh. Air mata Sang Nabi SAW meleleh ke pipi ketika menatapnya.
halaman ke-1 dari 2
cover top ayah
وَّمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ‌ؕ قَلِيۡلًا مَّا تُؤۡمِنُوۡنَۙ
Dan Al-Qur'an bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.

(QS. Al-Haqqah:41)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video