Mengapa Nabi Muhammad Tak Bisa Baca Tulis, Ini Jawaban Gus Baha
Senin, 13 Desember 2021 - 17:04 WIB
loading...
Ulama ahli tafsir Al-Quran Gus Baha (KH Ahmad Bahauddin Nursalim) menjelaskan alasan kenapa Nabi Muhammad tak bisa baca dan menulis. Foto/ist
A
A
A
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam merupakan sosok "Nabiyyil Ummiyyi" atau tak bisa membaca dan menulis. Apa sebabnya? Berikut jawaban cerdas ulama ahli Al-Qur'an dan Tafsir asal Rembang Gus Baha (KH Ahmad Bahauddin Nursalim).
Gus Baha pernah ditanya orang tentang maksud Nabi Muhammad sebagai Ummi (الأُمِّى), yang mana sebagian orang berkata, "Masak Nabi kok tidak bisa membaca dan menulis?"
Berikut penjelasan Gus Baha dilansir dari portal Islam iqra.id yang bersumber dari kajian yang diunggah Channel Ajess Media.
"Jadi tradisi ulama sama masyarakat itu memang beda. Kalau Nabi dikatakan tidak tahu dalam konteks tertentu itu malah madh (مدح), artinya memuji.
Hal ini karena tadi, syarat Nabi itu harus Ummi (أمي), Ummi itu kan keibu-ibuan. Jadi, kalau Nabi tahu (bisa membaca dan menulis), nanti seakan-akan beliau dikawal oleh ilmunya, padahal Nabi itu dikawal oleh Nubuwwah (نبوة) atau kenabian.
Ini bedanya Nabi sama tidak Nabi. Kanjeng Nabi dalam Al-Qur'an biasa diwahyukan Allah:
مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ
"Sebelumnya engkau (Muhammad) tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur'an) dan apakah iman itu..." (Q.S. Asy-Syura: 52)
Tapi, itu sifat madh (مدح), artinya memuji. Kenapa itu pujian? Karena Nabi kalau sudah tahu urusan sesuatu nanti jadi ilmu tandingan menandingi wahyu.
Mungkin netizen itu, mohon maaf, bukannya mengkritik (Nabi), mungkin mereka tidak paham tradisi ulama (tentang penjelasan sifat Ummi pada diri Nabi).
Gus Baha pernah ditanya orang tentang maksud Nabi Muhammad sebagai Ummi (الأُمِّى), yang mana sebagian orang berkata, "Masak Nabi kok tidak bisa membaca dan menulis?"
Berikut penjelasan Gus Baha dilansir dari portal Islam iqra.id yang bersumber dari kajian yang diunggah Channel Ajess Media.
"Jadi tradisi ulama sama masyarakat itu memang beda. Kalau Nabi dikatakan tidak tahu dalam konteks tertentu itu malah madh (مدح), artinya memuji.
Hal ini karena tadi, syarat Nabi itu harus Ummi (أمي), Ummi itu kan keibu-ibuan. Jadi, kalau Nabi tahu (bisa membaca dan menulis), nanti seakan-akan beliau dikawal oleh ilmunya, padahal Nabi itu dikawal oleh Nubuwwah (نبوة) atau kenabian.
Ini bedanya Nabi sama tidak Nabi. Kanjeng Nabi dalam Al-Qur'an biasa diwahyukan Allah:
مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ
"Sebelumnya engkau (Muhammad) tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur'an) dan apakah iman itu..." (Q.S. Asy-Syura: 52)
Tapi, itu sifat madh (مدح), artinya memuji. Kenapa itu pujian? Karena Nabi kalau sudah tahu urusan sesuatu nanti jadi ilmu tandingan menandingi wahyu.
Mungkin netizen itu, mohon maaf, bukannya mengkritik (Nabi), mungkin mereka tidak paham tradisi ulama (tentang penjelasan sifat Ummi pada diri Nabi).
Lihat Juga :