Kisah Sufi Al-Mutanabbi tentang Tiga Kebenaran
Rabu, 15 Desember 2021 - 14:32 WIB
loading...
Kisah ini adalah selalu direvisi dan waktu ke waktu, dikarenakan pengisahan kembali terus-menerus harus sesuai dengan perubahan zaman. (Ilustrasi :Ist)
A
A
A
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" memperkenalkan legenda lisan para darwis yang secara tradisional disusun oleh Al-Mutanabbi. Kisah-kisah ini, wasiatnya, menurut para penutur cerita, tidak boleh dituliskan selama seribu tahun.
Al-Mutanabbi adalah salah seorang penyair Arab terbesar. Wafat seribu tahun yang lalu. Menurut Idries Shah, salah satu keistimewaan kisah ini adalah selalu direvisi dan waktu ke waktu, dikarenakan pengisahan kembali terus-menerus harus sesuai dengan 'perubahan zaman'.
"Para Sufi dikenal sebagai Pencari Kebenaran. Kebenaran ini berupa pengetahuan akan kenyataan objektif," tulis Idries Shah memulai ceritanya.
Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga
Suatu kali, seorang tiran yang bebal dan tamak hendak memiliki sendiri kebenaran ini. Namanya Rudarigh (Roderick, Roderigo), seorang raja besar di Murcia, Spanyol. Ia menetapkan bahwa kebenaran bisa ia peroleh dengan memaksa Umar al-Alawi dan Tarragona untuk mengatakannya.
Umar ditangkap dan dibawa ke istana. Kata Rudarigh, "Aku sudah menitahkan agar kebenaran yang kau ketahui harus kau sampaikan padaku dalam kata-kata yang bisa kumengerti, kalau tidak nyawamu akan kucabut."
Jawab Umar, "Apakah Tuan mengindahkan kebiasaan dalam istana terhormat ini, di mana bila seorang tahanan mengatakan kebenaran untuk menjawab suatu pertanyaan dan kebenaran itu memang benar adanya, maka tahanan itu akan dibebaskan?"
"Tentu saja," balas raja.
"Biarlah Semua yang hadir di sini menjadi saksinya," kata Umar, "dan kini saya akan mengungkapkan bukan satu melainkan tiga kebenaran."
"Kami semua harus yakin," kata Rudarigh, "bahwa apa yang kau katakan sebagai kebenaran memang benar adanya. Bukti-bukti harus menguatkan perkataanmu."
Al-Mutanabbi adalah salah seorang penyair Arab terbesar. Wafat seribu tahun yang lalu. Menurut Idries Shah, salah satu keistimewaan kisah ini adalah selalu direvisi dan waktu ke waktu, dikarenakan pengisahan kembali terus-menerus harus sesuai dengan 'perubahan zaman'.
"Para Sufi dikenal sebagai Pencari Kebenaran. Kebenaran ini berupa pengetahuan akan kenyataan objektif," tulis Idries Shah memulai ceritanya.
Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga
Suatu kali, seorang tiran yang bebal dan tamak hendak memiliki sendiri kebenaran ini. Namanya Rudarigh (Roderick, Roderigo), seorang raja besar di Murcia, Spanyol. Ia menetapkan bahwa kebenaran bisa ia peroleh dengan memaksa Umar al-Alawi dan Tarragona untuk mengatakannya.
Umar ditangkap dan dibawa ke istana. Kata Rudarigh, "Aku sudah menitahkan agar kebenaran yang kau ketahui harus kau sampaikan padaku dalam kata-kata yang bisa kumengerti, kalau tidak nyawamu akan kucabut."
Jawab Umar, "Apakah Tuan mengindahkan kebiasaan dalam istana terhormat ini, di mana bila seorang tahanan mengatakan kebenaran untuk menjawab suatu pertanyaan dan kebenaran itu memang benar adanya, maka tahanan itu akan dibebaskan?"
"Tentu saja," balas raja.
"Biarlah Semua yang hadir di sini menjadi saksinya," kata Umar, "dan kini saya akan mengungkapkan bukan satu melainkan tiga kebenaran."
"Kami semua harus yakin," kata Rudarigh, "bahwa apa yang kau katakan sebagai kebenaran memang benar adanya. Bukti-bukti harus menguatkan perkataanmu."
Lihat Juga :