Maryam binti Imran : Satu-satunya Perempuan Terpilih yang Diabadikan dalam Surat Al-Qur'an
Kamis, 23 Desember 2021 - 08:45 WIB
loading...
A
A
A
Perempuan Terpilih
Seorang ulama menjelaskan sebab Maryam menjadi satu-satunya nama perempuan yang disebutkan dalam Al-Qur'an, karena peristiwa yang dialaminya adalah hal yang benar-benar unik, hanya akan terjadi sekali dan pada dirinya. Sepanjang sejarah, hanya akan ada satu perempuan, yaitu Maryam, yang melahirkan tanpa peran seorang laki-laki.
Seandainya saja kejadian serupa akan terulang, tentu tidak lagi menjadi hal yang unik, dan tentu tidak akan disebutkan namanya dalam Al-Qur'an. Seperti perempuan-perempuan lainnya, Asiyah, Khadijah, Aisyah, Ummu Jamil, dan sebagainya. Walaupun kejadian yang mereka alami juga luar biasa hebatnya, tapi karena bisa terulang, nama mereka tidak disebutkan.
Maryam sendiri digambarkan sebagai perempuan taat kepada Allah. Ketakwaannya pun tak diragukan lagi. Sehari-hari, aktivitasnya hanya diisi dengan beribadah kepada Allah.
Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar tentang surah Ali Imran ayat 42-43 menceritakan tentang pertumbuhan Maryam sejak kecil hingga dewasa dibawah asuhan Zakariya. "Maka, diingatkan Tuhan lah kepadanya bahwa dia telah termasuk orang-orang yang terpilih seperti Adam, Nuh, keluarga Ibrahim serta rasul dan nabi-nabi yang lain," kata Hamka. Bahkan Al-Qurthubi mengatakan, Maryam adalah seorang nabiyah yang sahih. Alasannya, malaikat menyampaikan wahyu kepadanya di mana mengadung perintah Allah, perkabaran dan kabar selamat. Kisah yang menggambarkan ketakwaan Maryam dan kesabarannya dapat disaksikan dalam proses mengandung Isa alaihissalam. Sebab, dari kehamilannya ini, Maryam harus menerima bacaan hinaan dari kaumnya karena mengandung tanpa seorang ayah.
Sebelum kaumnya mengetahui tentang kehamilannya, Maryam memilih mengasingkan diri. Dia merasa malu karena kehamilannya itu. Rasa malunya yang besar tertuang dalam surat Maryam ayat 23.
"Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan." Namun, kabar tak bisa dibendung. Kaumnya mendengar tentang kehamilan Maryam tanpa menikah. Hinaan dan cemooh pun tak dapat dihindari Maryam. Kendati demikian, dia menerima hinaan tersebut dengan perasaan tawakal kepada Allah. Dia memasrahkan permasalahan yang dihadapinya hanya kepada Allah Ta'ala.
Baca juga: Benarkah Wanita Bisa Mengalami Mimpi Basah? Bagaimana Hukumnya dalam Syariat?
Wallahu A'lam
Seorang ulama menjelaskan sebab Maryam menjadi satu-satunya nama perempuan yang disebutkan dalam Al-Qur'an, karena peristiwa yang dialaminya adalah hal yang benar-benar unik, hanya akan terjadi sekali dan pada dirinya. Sepanjang sejarah, hanya akan ada satu perempuan, yaitu Maryam, yang melahirkan tanpa peran seorang laki-laki.
Seandainya saja kejadian serupa akan terulang, tentu tidak lagi menjadi hal yang unik, dan tentu tidak akan disebutkan namanya dalam Al-Qur'an. Seperti perempuan-perempuan lainnya, Asiyah, Khadijah, Aisyah, Ummu Jamil, dan sebagainya. Walaupun kejadian yang mereka alami juga luar biasa hebatnya, tapi karena bisa terulang, nama mereka tidak disebutkan.
Maryam sendiri digambarkan sebagai perempuan taat kepada Allah. Ketakwaannya pun tak diragukan lagi. Sehari-hari, aktivitasnya hanya diisi dengan beribadah kepada Allah.
Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar tentang surah Ali Imran ayat 42-43 menceritakan tentang pertumbuhan Maryam sejak kecil hingga dewasa dibawah asuhan Zakariya. "Maka, diingatkan Tuhan lah kepadanya bahwa dia telah termasuk orang-orang yang terpilih seperti Adam, Nuh, keluarga Ibrahim serta rasul dan nabi-nabi yang lain," kata Hamka. Bahkan Al-Qurthubi mengatakan, Maryam adalah seorang nabiyah yang sahih. Alasannya, malaikat menyampaikan wahyu kepadanya di mana mengadung perintah Allah, perkabaran dan kabar selamat. Kisah yang menggambarkan ketakwaan Maryam dan kesabarannya dapat disaksikan dalam proses mengandung Isa alaihissalam. Sebab, dari kehamilannya ini, Maryam harus menerima bacaan hinaan dari kaumnya karena mengandung tanpa seorang ayah.
Sebelum kaumnya mengetahui tentang kehamilannya, Maryam memilih mengasingkan diri. Dia merasa malu karena kehamilannya itu. Rasa malunya yang besar tertuang dalam surat Maryam ayat 23.
قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا
"Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan." Namun, kabar tak bisa dibendung. Kaumnya mendengar tentang kehamilan Maryam tanpa menikah. Hinaan dan cemooh pun tak dapat dihindari Maryam. Kendati demikian, dia menerima hinaan tersebut dengan perasaan tawakal kepada Allah. Dia memasrahkan permasalahan yang dihadapinya hanya kepada Allah Ta'ala.
Baca juga: Benarkah Wanita Bisa Mengalami Mimpi Basah? Bagaimana Hukumnya dalam Syariat?
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :