Ibadah Paling Dicintai Allah: Silaturahim, Amar Ma'ruf, dan Nahi Munkar
Selasa, 09 Juni 2020 - 15:26 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Hubungan Akrab Nabi Sulaiman dengan Malaikat Izrail
Pertama, silaturrahim pada agama, wajib menyambungnya sebagai konsekuensi imam. Mencintai pemeluknya, membela mereka, menasihati mereka, tidak menyakiti mereka, dan adil di antara mereka. Juga melaksanakan hak-hak mereka yang wajib seperti mengunjungi orang sakit, dan hak-hak yang meninggal dunia, memandikan, mensalatkan dan menguburkan mereka.
Kedua, khusus: yaitu rahim kekerabatan dari dua sisi, ibu dan bapaknya. Maka wajib bagi mereka hak-hak khusus dan tambahan seperti memberi nafkah, menanyakan kondisi mereka, tidak melupakan mereka di waktu-waktu mereka yang berharga, dan apabila bertabrakan hak-hak tersebut ia memulai yang terdekat dan yang terdekat.
Baca juga: Hati Adalah Raja, Amalan Hati Lebih Penting Ketimbang Amal Badan .
Sedangkan Ibnu Abi Jamrah berkata, silaturrahim bisa dengan harta, membantu kebutuhan, menolak bahaya, muka berseri, doa, menyampaikan kebaikan sedapat mungkin dan menghindarkan bahaya sejauh mungkin.
Hal ini terus berlangsung apabila karib kerabat itu orang yang istiqamah. Jika mereka orang kafir atau fasik maka memutuskan hubungan dengan mereka karena Allah SWT adalah silaturrahim. Syaratnya, sudah berusaha memberi nasihat kepada mereka, kemudian memberi tahu kepada mereka bahwa hal itu disebabkan menjauhnya mereka dari kebenaran.
Baca juga: Baca juga: Bukti-bukti Keniscayaan Hari Akhir Menurut Al-Qur'an
Kendati demikian, tidak gugur kewajiban silaturrahim dengan mereka dengan doa di belakang mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.
Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar
Selanjutnya, ibadah yang paling dicintai Allah SWT adalah amar ma’ruf dan nahi mungkar. Rasulullah SAW bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((أحبُّ الأعمال إلى الله الإيمانُ بالله ثم صلةُ الرحم ثم الأمرُ بالمعروف والنهيُ عن المنكر))
“Ibadah yang paling dicintai Allah SWT adalah iman kepada Allah SWT, kemudian menyambung silaturrahim, kemudian amar ma’ruf dan nahi mungkar.”
Baca juga: Al-Qur'an Menjawab Para Pengingkar Hari Kiamat
Asma` binti Rasyid ar-Ruwaisyid menjelaskan ma’ruf adalah semua perbuatan taat, dinamakan ma’ruf karena dikenal oleh akal sehat dan fitrah yang lurus.
Ma’ruf yang pertama dan paling besar adalah beribadah kepada Allah SWT semata, tidak menyekutukan-Nya, memurnikan ibadah kepada-Nya, meninggalkan penyembahan selain-Nya. Dan setelah itu semua bentuk taat dari yang wajib dan sunnah, semuanya masuk di dalam koridor ma’ruf.
Baca juga: Agar Kerja Menjadi Ibadah, Ingat Allah Maha Pemberi Rezeki
Munkar yaitu semua yang dilarang oleh Allah SWT dan rasul-Nya. Maka semua maksiat, besar dan kecil, adalah munkar, karena diingkari oleh akal sehat dan fitrah yang lurus. Kemungkaran terbesar adalah syirik kepada Allah SWT.
Pertama, silaturrahim pada agama, wajib menyambungnya sebagai konsekuensi imam. Mencintai pemeluknya, membela mereka, menasihati mereka, tidak menyakiti mereka, dan adil di antara mereka. Juga melaksanakan hak-hak mereka yang wajib seperti mengunjungi orang sakit, dan hak-hak yang meninggal dunia, memandikan, mensalatkan dan menguburkan mereka.
Kedua, khusus: yaitu rahim kekerabatan dari dua sisi, ibu dan bapaknya. Maka wajib bagi mereka hak-hak khusus dan tambahan seperti memberi nafkah, menanyakan kondisi mereka, tidak melupakan mereka di waktu-waktu mereka yang berharga, dan apabila bertabrakan hak-hak tersebut ia memulai yang terdekat dan yang terdekat.
Baca juga: Hati Adalah Raja, Amalan Hati Lebih Penting Ketimbang Amal Badan .
Sedangkan Ibnu Abi Jamrah berkata, silaturrahim bisa dengan harta, membantu kebutuhan, menolak bahaya, muka berseri, doa, menyampaikan kebaikan sedapat mungkin dan menghindarkan bahaya sejauh mungkin.
Hal ini terus berlangsung apabila karib kerabat itu orang yang istiqamah. Jika mereka orang kafir atau fasik maka memutuskan hubungan dengan mereka karena Allah SWT adalah silaturrahim. Syaratnya, sudah berusaha memberi nasihat kepada mereka, kemudian memberi tahu kepada mereka bahwa hal itu disebabkan menjauhnya mereka dari kebenaran.
Baca juga: Baca juga: Bukti-bukti Keniscayaan Hari Akhir Menurut Al-Qur'an
Kendati demikian, tidak gugur kewajiban silaturrahim dengan mereka dengan doa di belakang mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.
Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar
Selanjutnya, ibadah yang paling dicintai Allah SWT adalah amar ma’ruf dan nahi mungkar. Rasulullah SAW bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((أحبُّ الأعمال إلى الله الإيمانُ بالله ثم صلةُ الرحم ثم الأمرُ بالمعروف والنهيُ عن المنكر))
“Ibadah yang paling dicintai Allah SWT adalah iman kepada Allah SWT, kemudian menyambung silaturrahim, kemudian amar ma’ruf dan nahi mungkar.”
Baca juga: Al-Qur'an Menjawab Para Pengingkar Hari Kiamat
Asma` binti Rasyid ar-Ruwaisyid menjelaskan ma’ruf adalah semua perbuatan taat, dinamakan ma’ruf karena dikenal oleh akal sehat dan fitrah yang lurus.
Ma’ruf yang pertama dan paling besar adalah beribadah kepada Allah SWT semata, tidak menyekutukan-Nya, memurnikan ibadah kepada-Nya, meninggalkan penyembahan selain-Nya. Dan setelah itu semua bentuk taat dari yang wajib dan sunnah, semuanya masuk di dalam koridor ma’ruf.
Baca juga: Agar Kerja Menjadi Ibadah, Ingat Allah Maha Pemberi Rezeki
Munkar yaitu semua yang dilarang oleh Allah SWT dan rasul-Nya. Maka semua maksiat, besar dan kecil, adalah munkar, karena diingkari oleh akal sehat dan fitrah yang lurus. Kemungkaran terbesar adalah syirik kepada Allah SWT.
Lihat Juga :