Kisah Sufi Ajaran Guru Hamadani: Minuman Surgawi Bernama Teh
Sabtu, 01 Januari 2022 - 13:56 WIB
loading...
Kisah yang berasal dari ajaran-ajaran Guru Hamadani (wafat tahun 1140), guru dari Yasawi yang Agung dari Turkistan. (Foto/Ilustrasi : Ist)
A
A
A
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" menukil kisah yang berasal dari ajaran-ajaran Guru Hamadani (wafat tahun 1140), guru dari Yasawi yang Agung dari Turkistan. Berikut kisahnya:
Baca juga: Kisah Sufi Abdur-Rahtuan Jami: Si Bebal di Kota Agung
Pada zaman dahulu, teh hanya dikenal di Cina. Hanya desas-desus tentang teh terdengar oleh orang bijak dan awam di berbagai negara. Lalu, setiap orang berusaha mencari tahu seperti apa teh itu sesuai dengan keinginan atau pikirannya tentang teh.
Raja negeri Inja ('sini') menyuruh utusan ke Cina, dan mereka pun disuguhi teh oleh Kaisar Cina. Namun, para utusan itu menganggap suguhan tersebut kurang pantas sebab dilihat oleh mereka bahwa para petani pun meminum teh yang sama. Para suruhan itu menyimpulkan bahwa Kaisar Cina mencoba memperdaya mereka, membuat minuman surgawi tidak dengan bahan terbaik.
Filsuf agung negeri Anja ('sana') mengumpulkan semua berita tentang teh. Disimpulkannya bahwa teh itu ada tetapi langka, dan merupakan jenis minuman yang belum pernah dikenal sebelumnya. Bukankah kata orang, teh itu jamu, air, hijau, hitam, kadang pahit, kadang manis?
Di negeri Koshish dan Bebinem, sepanjang berabad-abad orang mencari tahu khasiat semua tumbuhan yang bisa mereka temukan. Banyak yang beracun, semuanya mengecewakan. Tentu saja orang-orang itu tidak menemukannya sebab memang di negeri mereka tak ada tanaman teh. Di samping itu, mereka juga meminum semua zat cair yang bisa diperoleh, tetapi tetap saja sia-sia.
Di daerah Tarekat ('Pikiran Picik') sekantong kecil teh dibawa dalam arak-arakan meriah upacara keagamaan. Tak ada yang berpikir untuk mencicipinya sebab tak ada yang tahu caranya. Semua yakin bahwa teh itu punya kuasa gaib.
Seorang yang bijaksana pernah berkata, "Tuangkan air panas pada teh itu, orang-orang bodoh!"
Orang bijaksana itu pun mereka gantung dan dipaku pada sebuah tiang. Menurut kepercayaan mereka, mencampur teh dengan bahan lain akan merusak teh tersebut. Dengan demikian, nasihatnya menunjukkan bahwa orang bijaksana itu merupakan musuh.
Sebelum mati, orang bijaksana itu meneruskan rahasianya kepada beberapa orang, dan mereka ini mencari-cari teh untuk kemudian diminum secara sembunyi-sembunyi.
Baca juga: Kisah Sufi Abdur-Rahtuan Jami: Si Bebal di Kota Agung
Pada zaman dahulu, teh hanya dikenal di Cina. Hanya desas-desus tentang teh terdengar oleh orang bijak dan awam di berbagai negara. Lalu, setiap orang berusaha mencari tahu seperti apa teh itu sesuai dengan keinginan atau pikirannya tentang teh.
Raja negeri Inja ('sini') menyuruh utusan ke Cina, dan mereka pun disuguhi teh oleh Kaisar Cina. Namun, para utusan itu menganggap suguhan tersebut kurang pantas sebab dilihat oleh mereka bahwa para petani pun meminum teh yang sama. Para suruhan itu menyimpulkan bahwa Kaisar Cina mencoba memperdaya mereka, membuat minuman surgawi tidak dengan bahan terbaik.
Filsuf agung negeri Anja ('sana') mengumpulkan semua berita tentang teh. Disimpulkannya bahwa teh itu ada tetapi langka, dan merupakan jenis minuman yang belum pernah dikenal sebelumnya. Bukankah kata orang, teh itu jamu, air, hijau, hitam, kadang pahit, kadang manis?
Di negeri Koshish dan Bebinem, sepanjang berabad-abad orang mencari tahu khasiat semua tumbuhan yang bisa mereka temukan. Banyak yang beracun, semuanya mengecewakan. Tentu saja orang-orang itu tidak menemukannya sebab memang di negeri mereka tak ada tanaman teh. Di samping itu, mereka juga meminum semua zat cair yang bisa diperoleh, tetapi tetap saja sia-sia.
Di daerah Tarekat ('Pikiran Picik') sekantong kecil teh dibawa dalam arak-arakan meriah upacara keagamaan. Tak ada yang berpikir untuk mencicipinya sebab tak ada yang tahu caranya. Semua yakin bahwa teh itu punya kuasa gaib.
Seorang yang bijaksana pernah berkata, "Tuangkan air panas pada teh itu, orang-orang bodoh!"
Orang bijaksana itu pun mereka gantung dan dipaku pada sebuah tiang. Menurut kepercayaan mereka, mencampur teh dengan bahan lain akan merusak teh tersebut. Dengan demikian, nasihatnya menunjukkan bahwa orang bijaksana itu merupakan musuh.
Sebelum mati, orang bijaksana itu meneruskan rahasianya kepada beberapa orang, dan mereka ini mencari-cari teh untuk kemudian diminum secara sembunyi-sembunyi.
Lihat Juga :