Kisah Sufi Sayed Shah Qadiri: Jalan Gunung

loading...
Kisah Sufi Sayed Shah Qadiri: Jalan Gunung
Orang-orang menganggap kemampuan dan berkah para Sufi sulit dipercaya. (Foto/Ilustrasi: Ist)
Orang-orang menganggap kemampuan dan berkah para Sufi sulit dipercaya. Tetapi, orang-orang semacam itu tidak memiliki pengetahuan tentang kepercayaan yang sebenarnya. Mereka mempercayai segala hal yang tidak benar karena kebiasaan atau karena diberitahu oleh penguasa.

"Kepercayaan yang sebenarnya merupakan sesuatu yang lain. Mereka yang mampu memiliki kepercayaan yang sebenarnya adalah yang pernah mengalami sesuatu. Ketika mereka telah mengalami kemampuan dan berkah yang sekadar dikabarkan tidak ada artinya bagi mereka."

Kata-kata tersebut, menurut Sayed Shah (Qadiri, wafat tahun 1854) kadang-kadang mengawali kisah 'Jalan Gunung'. Berikut kisahnya yang dikutip dari Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes".

Baca juga: Kisah Sufi Syaikh Qolandar Shah: Penyusunan Tradisi

Pada suatu hari, seorang yang cerdas, sarjana yang pikirannya terlatih, datang ke sebuah desa. Ia berikhtiar membandingkan, sebagai latihan dan pendalaman ilmunya, pandangan yang berbeda-beda yang mungkin ada di desa itu.

Ia mendatangi sebuah penginapan dan bertanya kepada seorang yang paling jujur dan yang paling bohong di desa itu. Orang-orang di penginapan itu sepakat bahwa orang yang bernama Kazzab adalah pembohong terbesar, dan Rastgu adalah orang yang paling jujur.

Secara bergantian ia pun menemui keduanya, dan mengajukan pertanyaan sederhana, "Jalan manakah yang terbaik untuk sampai ke desa tetangga?"

Rastgu Si Jujur berkata, "Jalan gunung."

Kazzab Si Pembohong juga berkata, "Jalan gunung."

Jawaban tersebut membingungkan musafir itu.

Maka, ia pun bertanya kepada orang-orang lain, penduduk desa biasa. Ada yang berkata, "Lewat sungai"; yang lain, "lewat padang."

Dan ada pula yang mengatakan, "Jalan gunung."

Ia mengambil jalan gunung, tetapi berkenaan dengan tujuan perjalanannya tadi, masalah tentang orang jujur dan orang bohong di desa itu mengganggu pikirannya.

Baca juga: Kisah Sufi Faridudin Attar: Semut dan Capung

Ketika ia sampai ke desa berikutnya, diceritakannya kisahnya di sebuah penginapan, dan mengakhirinya dengan mengatakan, "Aku jelas telah membuat kekeliruan logis yang mendasar dengan menanyai orang-orang yang tidak tepat perihal Si Jujur dan Si Bohong. Toh, aku telah sampai di sini tanpa hambatan, lewat jalan gunung."

Seorang bijaksana yang berada di situ berkata, "Harus diakui, para ahli logika cenderung buram matanya, dan mesti meminta orang lain membantunya. Tetapi, soal yang terjadi kali ini adalah sebaliknya."

"Kenyataannya adalah sebagai berikut: Sungai sebenarnya jalan termudah, maka Si Bohong menyarankan jalan gunung. Tetapi, Si Jujur itu tidak hanya jujur. Ia tahu bahwa Saudara membawa keledai yang memudahkan perjalanan Saudara. Si Bohong kebetulan tidak memperhatikan bahwa Saudara tak punya perahu: kalau ia tahu, tentu akan disuruhnya Saudara lewat sungai."

Kisah ini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam bukunya berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi. Juga oleh Sapardi Djoko Damono dalam buku Kisah-Kisah Sufi, Kumpulan Kisah Nasehat Para Guru Sufi Selama Seribu Tahun yang Lampau.

Baca juga: Kisah Sufi Namus si Cerdik dan Gajah
(mhy)
preload video