Kisah Sufi Sayed Shah Qadiri: Jalan Gunung
Sabtu, 08 Januari 2022 - 16:54 WIB
loading...
A
A
A
Maka, ia pun bertanya kepada orang-orang lain, penduduk desa biasa. Ada yang berkata, "Lewat sungai"; yang lain, "lewat padang."
Dan ada pula yang mengatakan, "Jalan gunung."
Ia mengambil jalan gunung, tetapi berkenaan dengan tujuan perjalanannya tadi, masalah tentang orang jujur dan orang bohong di desa itu mengganggu pikirannya.
Baca juga: Kisah Sufi Faridudin Attar: Semut dan Capung
Ketika ia sampai ke desa berikutnya, diceritakannya kisahnya di sebuah penginapan, dan mengakhirinya dengan mengatakan, "Aku jelas telah membuat kekeliruan logis yang mendasar dengan menanyai orang-orang yang tidak tepat perihal Si Jujur dan Si Bohong. Toh, aku telah sampai di sini tanpa hambatan, lewat jalan gunung."
Seorang bijaksana yang berada di situ berkata, "Harus diakui, para ahli logika cenderung buram matanya, dan mesti meminta orang lain membantunya. Tetapi, soal yang terjadi kali ini adalah sebaliknya."
"Kenyataannya adalah sebagai berikut: Sungai sebenarnya jalan termudah, maka Si Bohong menyarankan jalan gunung. Tetapi, Si Jujur itu tidak hanya jujur. Ia tahu bahwa Saudara membawa keledai yang memudahkan perjalanan Saudara. Si Bohong kebetulan tidak memperhatikan bahwa Saudara tak punya perahu: kalau ia tahu, tentu akan disuruhnya Saudara lewat sungai."
Kisah ini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam bukunya berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi. Juga oleh Sapardi Djoko Damono dalam buku Kisah-Kisah Sufi, Kumpulan Kisah Nasehat Para Guru Sufi Selama Seribu Tahun yang Lampau.
Baca juga: Kisah Sufi Namus si Cerdik dan Gajah
Dan ada pula yang mengatakan, "Jalan gunung."
Ia mengambil jalan gunung, tetapi berkenaan dengan tujuan perjalanannya tadi, masalah tentang orang jujur dan orang bohong di desa itu mengganggu pikirannya.
Baca juga: Kisah Sufi Faridudin Attar: Semut dan Capung
Ketika ia sampai ke desa berikutnya, diceritakannya kisahnya di sebuah penginapan, dan mengakhirinya dengan mengatakan, "Aku jelas telah membuat kekeliruan logis yang mendasar dengan menanyai orang-orang yang tidak tepat perihal Si Jujur dan Si Bohong. Toh, aku telah sampai di sini tanpa hambatan, lewat jalan gunung."
Seorang bijaksana yang berada di situ berkata, "Harus diakui, para ahli logika cenderung buram matanya, dan mesti meminta orang lain membantunya. Tetapi, soal yang terjadi kali ini adalah sebaliknya."
"Kenyataannya adalah sebagai berikut: Sungai sebenarnya jalan termudah, maka Si Bohong menyarankan jalan gunung. Tetapi, Si Jujur itu tidak hanya jujur. Ia tahu bahwa Saudara membawa keledai yang memudahkan perjalanan Saudara. Si Bohong kebetulan tidak memperhatikan bahwa Saudara tak punya perahu: kalau ia tahu, tentu akan disuruhnya Saudara lewat sungai."
Kisah ini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam bukunya berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi. Juga oleh Sapardi Djoko Damono dalam buku Kisah-Kisah Sufi, Kumpulan Kisah Nasehat Para Guru Sufi Selama Seribu Tahun yang Lampau.
Baca juga: Kisah Sufi Namus si Cerdik dan Gajah
(mhy)
Lihat Juga :