Doa Nabi Ibrahim dan Begini Gambaran Mekkah Pra-Islam
Senin, 10 Januari 2022 - 11:44 WIB
loading...
A
A
A
Adapun lembah adalah tempat yang mulia dan aman. Ia dinaungi oleh pepohonan yang tumbuh akibat siraman banjir dan cuaca yang mendukung. Tetapi, di sini tidak terdapat rumah atau tempat tinggal permanen. Orang yang datang menuju lembah hanya membuat kemah.
Baca juga: Arab Pra-Islam: Sudah Ada yang Mempraktikkan Ibadah Mirip Muslim
Sedangkan mereka yang tinggal di bukit tinggi, jika diserang musuh atau terlibat dalam peperangan, mereka segera berlindung ke puncak bukit yang lebih tinggi. Dari sana mereka akan terus melakukan perlawanan dan serangan terhadap posisi musuh.
Dalam kondisi semacam itu, musuh menjadi sangat sulit untuk mencapai mereka sehingga terpaksa mundur dan melarikan diri. Dengan demikian, barisan pegunungan di lembah dan jalur utama menjadi pertahanan alamiah mereka.
Ketika Qushay tinggal di lembah dan membangun perumahan permanen, sebagian penduduk dataran tinggi turun dan ikut tinggal di lembah. Sehingga, jumlah orang yang masih tinggal di situ menurun drastis.
Dari dataran tinggi itu, mereka menjaga diri dan tetangganya yang masih tersisa. Mereka inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan “Quraisy Zhawahir”. Karena itu, penduduk Mekkah yang berada di lembah tidak menganggap penting membuat tembok dan benteng untuk melindungi kota dari serangan musuh. Terlebih, ia adalah kota yang aman di bawah naungan Baitullah dan perlindungan alamiahnya.
Qushay sendiri menegaskan kepada penduduk Mekkah agar menghormati tamu, menjaga orang asing, menjauhi pertikaian serta menolong orang yang kesulitan dan memberikan pelayanan terbaik.
Qushay juga membuat berbagai aturan dalam hal ibadah haji. Inilah yang membuat orang datang berbondong-bondong ke Mekkah untuk melakukan ibadah haji dan berdagang.
Para pemimpin setelah Qushay kemudian menetapkan sistem politik yang secara nyata memberikan jaminan keamanan dan kelimpahan ekonomi bagi penduduknya.
Baca juga: Arab Pra-Islam: Misionaris Nasrani dan Sepak Terjang Abrahah
Baca juga: Arab Pra-Islam: Sudah Ada yang Mempraktikkan Ibadah Mirip Muslim
Sedangkan mereka yang tinggal di bukit tinggi, jika diserang musuh atau terlibat dalam peperangan, mereka segera berlindung ke puncak bukit yang lebih tinggi. Dari sana mereka akan terus melakukan perlawanan dan serangan terhadap posisi musuh.
Dalam kondisi semacam itu, musuh menjadi sangat sulit untuk mencapai mereka sehingga terpaksa mundur dan melarikan diri. Dengan demikian, barisan pegunungan di lembah dan jalur utama menjadi pertahanan alamiah mereka.
Ketika Qushay tinggal di lembah dan membangun perumahan permanen, sebagian penduduk dataran tinggi turun dan ikut tinggal di lembah. Sehingga, jumlah orang yang masih tinggal di situ menurun drastis.
Dari dataran tinggi itu, mereka menjaga diri dan tetangganya yang masih tersisa. Mereka inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan “Quraisy Zhawahir”. Karena itu, penduduk Mekkah yang berada di lembah tidak menganggap penting membuat tembok dan benteng untuk melindungi kota dari serangan musuh. Terlebih, ia adalah kota yang aman di bawah naungan Baitullah dan perlindungan alamiahnya.
Qushay sendiri menegaskan kepada penduduk Mekkah agar menghormati tamu, menjaga orang asing, menjauhi pertikaian serta menolong orang yang kesulitan dan memberikan pelayanan terbaik.
Qushay juga membuat berbagai aturan dalam hal ibadah haji. Inilah yang membuat orang datang berbondong-bondong ke Mekkah untuk melakukan ibadah haji dan berdagang.
Para pemimpin setelah Qushay kemudian menetapkan sistem politik yang secara nyata memberikan jaminan keamanan dan kelimpahan ekonomi bagi penduduknya.
Baca juga: Arab Pra-Islam: Misionaris Nasrani dan Sepak Terjang Abrahah
(mhy)
Lihat Juga :