Doa Nabi Ibrahim dan Begini Gambaran Mekkah Pra-Islam
Senin, 10 Januari 2022 - 11:44 WIB
loading...
A
A
A
Mekkah adalah tali yang mengikat dan mengumpulkan banyak kafilah dari Arab Selatan dan lainnya yang memang harus singgah dan beristirahat di situ agar dapat sejenak mengibaskan debu perjalanan dari tubuhnya, di samping untuk menambah perbekalan.
Dalam sekejap, penduduk Mekkah pun belajar kepada mereka tentang rahasia dan keuntungan melakukan safar. Setelah itu, mereka langsung menyiapkan beberapa kafilah. Mereka bertekad menjajakan dagangan Mekkah dan lainnya kepada orang Yaman dan Syam.
Hingga pada abad ke-6 M, para pedagang Mekkah telah berhasil memonopoli perdagangan di Arab Barat. Selanjutnya, mereka akan mendominasi jalur utama yang menghubungkan antara Yaman, Syam dan Irak.
Masjidil Haram atau Baitullah adalah sumber keuntungan lain bagi penduduk Mekkah. Pasalnya, ia menjadi tujuan manusia dari segala penjuru dunia untuk melakukan ibadah haji. Baitullah dikenal juga dengan Kakbah karena bentuknya kubik. Ia dikenal juga dengan sebutan Baitul Atiq, Qadis, Badir, dan Qaryah Qadimah (Kampung Lama).
Baca juga: Pra-Islam: Dari Praktik Poliandri sampai Anak Kawin dengan Ibu Tirinya
Tempat yang Disucikan
Di Mekkah terdapat gunung yang menjulang tinggi bernama Abu Qubais. Para ahli sejarah menyebutkan, gunung tersebut dinamai demikian berdasarkan nama seorang pandai besi yang pertama kali tinggal di sana dari Mudhij.
Gunung ini dahulunya bernama al-Amin, karena ia adalah tempat Hajar Aswad ditemukan. Di depan Abu Qubais ada gunung-gunung lain dengan lembah terapit di antaranya. Di sanalah Mekkah tumbuh dan berkembang. Maka Mekkah sejatinya wilayah yang dikelilingi dua gunung tinggi.
Sebelum tinggal di dataran Mekkah, orang-orang tinggal di Abu Qubais mengingat tempatnya yang tinggi sehingga mereka tidak perlu khawatir dari bahaya banjir. Abu Qubais pernah ditinggali Bani Jurhum.
Sebagian ahli sejarah berpendapat, gunung ini dinamai demikian karena dinisbahkan kepada nama Qubais bin Syalikh, salah seorang tokoh Bani Jurhum. Bani Jurhum hidup pada masa kekuasaan Amr bin Madhadh.
Jawwad Ali mengatakan tampaknya Abu Qubais adalah bagian dari tempat-tempat yang disucikan di masa jahiliah. Dahulu, para ahli ibadah dan zuhud Mekkah, juga orang yang ingin bertahanus dan bersemedi serta para rahibnya suka mendaki dan berdiam diri di gunung ini. Mungkin Abu Qubais dianggap sebagai dataran yang mulia oleh penduduk Mekkah sebelum akhirnya mereka menetap di lembah, lalu ke Masjidil Haram dan membangun perumahan di sekitarnya.
Para ahli sejarah tidak menyebutkan sedikit pun mengenai keberadaan benteng yang menjaga Mekkah. Ini menunjukkan bahwa Mekkah adalah kota yang aman, sehingga tidak memerlukan benteng, menara, atau tembok yang melindunginya dari serangan orang badui atau musuh mereka. Atau, lebih jelasnya, sebelum menjadi pusat Baitul Haram, di lembah ini belum ada kota, tepatnya sebelum masa kekuasaan Qushay. Pada masa itu, kota berada di dataran tinggi di lembah.
Dalam sekejap, penduduk Mekkah pun belajar kepada mereka tentang rahasia dan keuntungan melakukan safar. Setelah itu, mereka langsung menyiapkan beberapa kafilah. Mereka bertekad menjajakan dagangan Mekkah dan lainnya kepada orang Yaman dan Syam.
Hingga pada abad ke-6 M, para pedagang Mekkah telah berhasil memonopoli perdagangan di Arab Barat. Selanjutnya, mereka akan mendominasi jalur utama yang menghubungkan antara Yaman, Syam dan Irak.
Masjidil Haram atau Baitullah adalah sumber keuntungan lain bagi penduduk Mekkah. Pasalnya, ia menjadi tujuan manusia dari segala penjuru dunia untuk melakukan ibadah haji. Baitullah dikenal juga dengan Kakbah karena bentuknya kubik. Ia dikenal juga dengan sebutan Baitul Atiq, Qadis, Badir, dan Qaryah Qadimah (Kampung Lama).
Baca juga: Pra-Islam: Dari Praktik Poliandri sampai Anak Kawin dengan Ibu Tirinya
Tempat yang Disucikan
Di Mekkah terdapat gunung yang menjulang tinggi bernama Abu Qubais. Para ahli sejarah menyebutkan, gunung tersebut dinamai demikian berdasarkan nama seorang pandai besi yang pertama kali tinggal di sana dari Mudhij.
Gunung ini dahulunya bernama al-Amin, karena ia adalah tempat Hajar Aswad ditemukan. Di depan Abu Qubais ada gunung-gunung lain dengan lembah terapit di antaranya. Di sanalah Mekkah tumbuh dan berkembang. Maka Mekkah sejatinya wilayah yang dikelilingi dua gunung tinggi.
Sebelum tinggal di dataran Mekkah, orang-orang tinggal di Abu Qubais mengingat tempatnya yang tinggi sehingga mereka tidak perlu khawatir dari bahaya banjir. Abu Qubais pernah ditinggali Bani Jurhum.
Sebagian ahli sejarah berpendapat, gunung ini dinamai demikian karena dinisbahkan kepada nama Qubais bin Syalikh, salah seorang tokoh Bani Jurhum. Bani Jurhum hidup pada masa kekuasaan Amr bin Madhadh.
Jawwad Ali mengatakan tampaknya Abu Qubais adalah bagian dari tempat-tempat yang disucikan di masa jahiliah. Dahulu, para ahli ibadah dan zuhud Mekkah, juga orang yang ingin bertahanus dan bersemedi serta para rahibnya suka mendaki dan berdiam diri di gunung ini. Mungkin Abu Qubais dianggap sebagai dataran yang mulia oleh penduduk Mekkah sebelum akhirnya mereka menetap di lembah, lalu ke Masjidil Haram dan membangun perumahan di sekitarnya.
Para ahli sejarah tidak menyebutkan sedikit pun mengenai keberadaan benteng yang menjaga Mekkah. Ini menunjukkan bahwa Mekkah adalah kota yang aman, sehingga tidak memerlukan benteng, menara, atau tembok yang melindunginya dari serangan orang badui atau musuh mereka. Atau, lebih jelasnya, sebelum menjadi pusat Baitul Haram, di lembah ini belum ada kota, tepatnya sebelum masa kekuasaan Qushay. Pada masa itu, kota berada di dataran tinggi di lembah.
Lihat Juga :