Interfaith dan Islamophobia (Bagian Terakhir)
Sabtu, 12 Februari 2022 - 21:02 WIB
loading...
A
A
A
Dari sekian banyak kesalahpahaman, satu hal pasti yang perlu dikoreksi adalah tendensi jeneralisasi antara satu dengan yang lain. Dan pastinya tendensi ini tidaklah adil pada komunitas masing-masing. Mereka melihat prilaku segelintir Umat sebagai wajah Umat secara keseluruhan. Demikian pula Umat ini selalu melihat bahwa prilaku pemerintan atau Yahudi Israel mewakili semua orang Yahudi dunia.
Pandangan jeneralisir seperti ini telah meracuni relasi antara dua komunitas ini. Kecurigaan bahkan permusuhan yang ada di kepala masing-masing cukup dalam. Apalagi dengan teori konspirasi yang mengatakan bahwa Islam hadir untuk menghancurkan Yahudi. Dan Yahudi adalah sumber segala kejahatan dunia.
Ternyata persepsi itu ternyata tidak semuanya benar. Secara umum kami harus akui bahwa sejak terjalin komunikasi intens dengan komunitas Yahudi, mereka kerap berdiri tegap membela hak-hak Muslim di negara ini. Berbagai serangan baik secara fisik atau non fisik (media misalnya) ada saja dari kalangan komunitas Yahudi yang berani bersuara menentang serangan itu dan membela komunitas Muslim.
Contoh terdekat adalah ketika Muslim Amerika dilabeli komunitas radikal dengan sebuah dengar pendapat (hearing) di Kongress. Tema yang diusung pada dengar pendapat ini adalah "Radicalization of Muslim community in US" yang dikomandoi oleh Peter King, seorang Kongress dari Long Island New York.
Di momen yang begitu buruk itu, di saat umat di jeneralisasi sebagai Komunitas radikal, beberapa Rabi Yahudi menawarkan bantuan untuk merespon (menolak) kepada acara dengar pendapat itu. Namun mereka tetap tidak ingin tampil secara terbuka. Maka mereka menginginkan agar respon itu dikomandoi oleh saya sebagai Imam.
Kami pun mengadakan rally atau demo besar di jantung Kota New York, Times Square. Sekitar tujuh ribuan orang, mayoritasnya non Muslim hadir dengan slogan: "Today I am a Muslim too". Dan saya harus tampil sebagai koordinator yang dihadiri oleh banyak pejabat kota, tokoh agama, hingga beberapa orang Hollywood.
Peristiwa kembali terulang dan tak akan terlupakan ketika Donald Trump mengeluarkan aturan "Muslim Ban" atau pelarangan orang Islam masuk Amerika di tahun 2018, yang dimulai dari 6 negara mayoritas Muslim. Kembali para Rabi di kota New York mendorong kami untuk memimpin rally dengan tema yang sama “Today I am a Muslim too”. Kali ini bahkan menurut perkiraan puluhan ribu non Muslim memadati salah satu sudut Time Square itu.
Dalam perjalanannya, interaksi yang terjadi antara Komunitas Muslim dan Yahudi semakin meyakinkan bahwa pada semua Komunitas ada unsur-unsur baik dan buruk. Persis pada Komunitas Muslim juga. Ada Muslim yang taat dan damai. Tapi ada juga Muslim yang kerjanya mengedepankan pandangan negatif dan kebencian.
Secara khusus saya ingin menyebut seorang Rabi Yahudi bernama Marc Schneier, yang saat ini menjadi teman, bahkan menulis buku bersama dengan judul “Sons of Abraham”. Buku kami telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Anak-Anak Ibrahim”. Dan saat ini dalam proses diterjemahkan ke dalam lima bahasa dunia lainnya.
Rabi Schneier adalah putra dari seorang rabi keturunan Austria. Dalam kehidupannya sejak lahir di Amerika belum pernah bertemu dengan seorang Muslim pun. Tapi setiap harinya membaca berbagai informasi atau misinformasi mengenai Islam dan Muslim. Maka dia pun tumbuh dan menumbuhkan kebencian kepada Islam dan pengikutnya.
Puncak dari kebencian itu terjadi ketika Amerika mengalami musibah dengan serangan teroris 9/11 lalu. Saat itu Rabi Schneier adalah salah seorang dari 50 Rabi Yahudi yang paling berpengaruh di Amerika. Kebencian itu diekspresikan dalam berbagai pernyataan dan wawancaranya.
Akan tetapi di penghujung tahun 2004 itu Allah rupanya ingin melakukan perubahan itu. Saya dipertemukan dengan Rabi schneier dalam sebuah wawancara di TV CBS tentang Paus Yohannes (Pope John II) dari perspektif non Kristen. Ketika ketemu pertama kali sang Rabi ini bahkan tidak mau salaman dan melihat muka saya.
Sekitar 6 bulan kemudian kantor Rabi Schneier menelpon dan menyampaikan jika Rabi itu ingin ketemu. Di pertemuan itulah Marc Shcneier berterus terang bahwa dia tidak mau salaman di studio karena ketika itu dia memang tidak suka Islam dan pemeluknya. Tapi setelah beberapa kali melihat saya di media (khususnya di TV) dia justeru ingin kenalan lebih jauh.
Singkat cerita kami pun hanyut dalam Dialog hari itu. Ragam pertanyaan kita lemparkan. Dan akhirnya kita sepakat untuk melanjutkan Dialog itu pada level yang lebih luas. Satu di antaranya kami berdua menginisiasi pertemuan Imam dan Rabi se Amerika Utara. Acara itu kita namai “The Summit of Imams and Rabbis in North America” di tahun 2006.
Pandangan jeneralisir seperti ini telah meracuni relasi antara dua komunitas ini. Kecurigaan bahkan permusuhan yang ada di kepala masing-masing cukup dalam. Apalagi dengan teori konspirasi yang mengatakan bahwa Islam hadir untuk menghancurkan Yahudi. Dan Yahudi adalah sumber segala kejahatan dunia.
Ternyata persepsi itu ternyata tidak semuanya benar. Secara umum kami harus akui bahwa sejak terjalin komunikasi intens dengan komunitas Yahudi, mereka kerap berdiri tegap membela hak-hak Muslim di negara ini. Berbagai serangan baik secara fisik atau non fisik (media misalnya) ada saja dari kalangan komunitas Yahudi yang berani bersuara menentang serangan itu dan membela komunitas Muslim.
Contoh terdekat adalah ketika Muslim Amerika dilabeli komunitas radikal dengan sebuah dengar pendapat (hearing) di Kongress. Tema yang diusung pada dengar pendapat ini adalah "Radicalization of Muslim community in US" yang dikomandoi oleh Peter King, seorang Kongress dari Long Island New York.
Di momen yang begitu buruk itu, di saat umat di jeneralisasi sebagai Komunitas radikal, beberapa Rabi Yahudi menawarkan bantuan untuk merespon (menolak) kepada acara dengar pendapat itu. Namun mereka tetap tidak ingin tampil secara terbuka. Maka mereka menginginkan agar respon itu dikomandoi oleh saya sebagai Imam.
Kami pun mengadakan rally atau demo besar di jantung Kota New York, Times Square. Sekitar tujuh ribuan orang, mayoritasnya non Muslim hadir dengan slogan: "Today I am a Muslim too". Dan saya harus tampil sebagai koordinator yang dihadiri oleh banyak pejabat kota, tokoh agama, hingga beberapa orang Hollywood.
Peristiwa kembali terulang dan tak akan terlupakan ketika Donald Trump mengeluarkan aturan "Muslim Ban" atau pelarangan orang Islam masuk Amerika di tahun 2018, yang dimulai dari 6 negara mayoritas Muslim. Kembali para Rabi di kota New York mendorong kami untuk memimpin rally dengan tema yang sama “Today I am a Muslim too”. Kali ini bahkan menurut perkiraan puluhan ribu non Muslim memadati salah satu sudut Time Square itu.
Dalam perjalanannya, interaksi yang terjadi antara Komunitas Muslim dan Yahudi semakin meyakinkan bahwa pada semua Komunitas ada unsur-unsur baik dan buruk. Persis pada Komunitas Muslim juga. Ada Muslim yang taat dan damai. Tapi ada juga Muslim yang kerjanya mengedepankan pandangan negatif dan kebencian.
Secara khusus saya ingin menyebut seorang Rabi Yahudi bernama Marc Schneier, yang saat ini menjadi teman, bahkan menulis buku bersama dengan judul “Sons of Abraham”. Buku kami telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Anak-Anak Ibrahim”. Dan saat ini dalam proses diterjemahkan ke dalam lima bahasa dunia lainnya.
Rabi Schneier adalah putra dari seorang rabi keturunan Austria. Dalam kehidupannya sejak lahir di Amerika belum pernah bertemu dengan seorang Muslim pun. Tapi setiap harinya membaca berbagai informasi atau misinformasi mengenai Islam dan Muslim. Maka dia pun tumbuh dan menumbuhkan kebencian kepada Islam dan pengikutnya.
Puncak dari kebencian itu terjadi ketika Amerika mengalami musibah dengan serangan teroris 9/11 lalu. Saat itu Rabi Schneier adalah salah seorang dari 50 Rabi Yahudi yang paling berpengaruh di Amerika. Kebencian itu diekspresikan dalam berbagai pernyataan dan wawancaranya.
Akan tetapi di penghujung tahun 2004 itu Allah rupanya ingin melakukan perubahan itu. Saya dipertemukan dengan Rabi schneier dalam sebuah wawancara di TV CBS tentang Paus Yohannes (Pope John II) dari perspektif non Kristen. Ketika ketemu pertama kali sang Rabi ini bahkan tidak mau salaman dan melihat muka saya.
Sekitar 6 bulan kemudian kantor Rabi Schneier menelpon dan menyampaikan jika Rabi itu ingin ketemu. Di pertemuan itulah Marc Shcneier berterus terang bahwa dia tidak mau salaman di studio karena ketika itu dia memang tidak suka Islam dan pemeluknya. Tapi setelah beberapa kali melihat saya di media (khususnya di TV) dia justeru ingin kenalan lebih jauh.
Singkat cerita kami pun hanyut dalam Dialog hari itu. Ragam pertanyaan kita lemparkan. Dan akhirnya kita sepakat untuk melanjutkan Dialog itu pada level yang lebih luas. Satu di antaranya kami berdua menginisiasi pertemuan Imam dan Rabi se Amerika Utara. Acara itu kita namai “The Summit of Imams and Rabbis in North America” di tahun 2006.
Lihat Juga :