Ketika Kaum Kafir Tawarkan Jalan Tengah: Tahun Ini Menyembah Allah, Tahun Berikutnya Berhala
Minggu, 27 Februari 2022 - 17:26 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Pendeta Menafsirkan Mimpi Abu Bakar sebelum Masuk Islam
Sementara dia disiksa, datanglah Abu Bakar as-Shiddiq , dia berseru, “Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena mengatakan bahwa Tuhanku ialah Allah?”
Kemudian dia berkata kepada Umayyah bin Khalaf, tuan pemilik Bilal, “Terimalah ini untuk tebusannya, lebih tinggi dari harganya, dan bebaskan dia!”
Umayyah adalah seorang saudagar, dia melihat peluang keuntungan di sana, ketimbang membunuhnya, lebih baik dia menjualnya karena akan mendatangkan uang. Umayyah setuju dengan penawaran Abu Bakar.
“Bawahlah dia! Demi Lata dan Uzza, seandainya harga tebusannya tak lebih dari satu ugia, pastilah dia akan kulepas juga,” kata Umayyah.
Abu Bakar kemudian menjawab, “Demi Allah, seandainya kalian tidak hendak menjualnya kecuali seratus ugia, pastilah akan kubayar juga!” Demikianlah akhirnya Bilal memperoleh kebebasannya.
Kemudian pergilah Abu Bakar sambil mengepit Bilal untuk menemui Nabi Muhammad SAW, dan menyampaikan berita gembira tentang kebebasan Bilal sebagai orang merdeka.
Dalam riwayat terkait, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Ibnu Masud mengatakan bahwa Abu Bakar membeli Bilal dari Umayyah bin Khalaf dan Ubayy bin Khalaf dengan jubah dan sepuluh keping perak (masing-masing kira-kira satu ons), kemudian membebaskannya untuk Allah.
Kemudian Allah menurunkan wahyu, “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)…. (dan seterusnya hingga ayat ke-3)…. sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” ( QS Al-Lail [92]: 1-4), yang berarti usaha Abu Bakar, Umayyah, dan Ubayy.
Dalam riwayat lainnya Ibnu Abi Hatim dan at-Tabarani meriwayatkan, Urwah mengatakan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq membebaskan tujuh orang (budak), yang masing-masing disiksa karena Allah, dan ayat tentangnya kemudian turun, “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu….” ( QS Al-Lail [92]: 17-21), sampai dengan akhir surat itu.
Baca juga: Adzan Terakhir Bilal Bin Rabah dan Dialog Jelang Sakaratul Maut
Hijrah
Berbagai tekanan yang dilancarkan oleh Kaum Quraisy dimulai pada pertengahan atau akhir tahun keempat dari kenabian, terutama diarahkan kepada orang-orang Muslim yang lemah. Hari demi hari tekanan mereka semakin keras hingga pertengahan tahun kelima.
Mekkah terasa makin menyesakkan bagi golongan Muslim yang lemah itu, sehingga mereka mulai berpikir untuk mencari jalan keluar. Dalam kondisi yang terjepit ini, akhirnya turunlah firman Allah yang mengisyaratkan untuk hijrah:
“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” ( QS Az-Zumar : 10)
Rasulullah SAW sudah tahu bahwa Negus, raja yang berkuasa di Habasyah adalah seorang raja yang adil, tak bakal seorangpun yang teraniaya di sisinya. Oleh karena itu beliau memerintahkan agar beberapa Muslim hijrah ke Habasyah.
Baca juga: Ketika Bilal bin Rabah Tak Mampu Lagi Mengumandangkan Adzan
Dituduh Tukang Sihir
Al-Tabari dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk berkata:
Ketika para sahabat Rasulullah yang hijrah ke Habasyah telah berangkat, Rasulullah tetap tinggal di Mekkah berdakwah secara tertutup dan terbuka, dilindungi oleh Allah melalui pamannya Abu Thalib dan oleh kabilahnya yang memberikan dukungan atas permintaannya.
Ketika Kaum Quraisy melihat bahwa mereka tidak punya jalan untuk menyerangnya secara fisik, mereka menuduhnya sebagai tukang sihir, peramal, dan (mengalami) kegilaan, dan sebagai penyair. Mereka (orang-orang Mekkah) mulai menjauh darinya, bagi mereka yang takut (karena mempercayai tuduhan orang-orang Quraisy terhadap Nabi-pen) mungkin akan mendengar dan mengikutinya.
Langkah paling serius yang dilakukan (oleh orang Quraisy terhadap Nabi Muhammad) pada waktu itu, yang telah diriwayatkan, adalah sebagai berikut ini.
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin al-Ash:
Aku (Abu Salamah bin Abdurrahman) berkata kepadanya (Abdullah bin Amr bin al-Ash), “Apa serangan terburuk yang pernah engkau lihat oleh Quraisy terhadap Rasulullah ketika mereka secara terbuka menunjukkan permusuhan mereka kepadanya?”
Dia menjawab, “Aku bersama mereka ketika para bangsawan mereka berkumpul suatu hari di Hijr dan membahas Rasulullah.
“Mereka berkata, ‘Kita belum pernah melihat seperti apa yang kita alami dari orang ini. Dia telah mencemooh nilai-nilai tradisional kita, melecehkan leluhur kita, mencaci maki agama kita, menyebabkan perpecahan di antara kita, dan menghina tuhan-tuhan kita. Kita telah menanggung banyak hal darinya,’ atau kata-kata semacam itu.
“Sementara mereka mengatakan ini, Rasulullah tiba-tiba muncul dan berjalan dan mencium Hajar Aswad. Kemudian beliau melewati mereka sambil bertawaf (mengelilingi Kabah), dan ketika beliau melakukannya mereka mengata-ngatai hal buruk tentangnya.
Sementara dia disiksa, datanglah Abu Bakar as-Shiddiq , dia berseru, “Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena mengatakan bahwa Tuhanku ialah Allah?”
Kemudian dia berkata kepada Umayyah bin Khalaf, tuan pemilik Bilal, “Terimalah ini untuk tebusannya, lebih tinggi dari harganya, dan bebaskan dia!”
Umayyah adalah seorang saudagar, dia melihat peluang keuntungan di sana, ketimbang membunuhnya, lebih baik dia menjualnya karena akan mendatangkan uang. Umayyah setuju dengan penawaran Abu Bakar.
“Bawahlah dia! Demi Lata dan Uzza, seandainya harga tebusannya tak lebih dari satu ugia, pastilah dia akan kulepas juga,” kata Umayyah.
Abu Bakar kemudian menjawab, “Demi Allah, seandainya kalian tidak hendak menjualnya kecuali seratus ugia, pastilah akan kubayar juga!” Demikianlah akhirnya Bilal memperoleh kebebasannya.
Kemudian pergilah Abu Bakar sambil mengepit Bilal untuk menemui Nabi Muhammad SAW, dan menyampaikan berita gembira tentang kebebasan Bilal sebagai orang merdeka.
Dalam riwayat terkait, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Ibnu Masud mengatakan bahwa Abu Bakar membeli Bilal dari Umayyah bin Khalaf dan Ubayy bin Khalaf dengan jubah dan sepuluh keping perak (masing-masing kira-kira satu ons), kemudian membebaskannya untuk Allah.
Kemudian Allah menurunkan wahyu, “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)…. (dan seterusnya hingga ayat ke-3)…. sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” ( QS Al-Lail [92]: 1-4), yang berarti usaha Abu Bakar, Umayyah, dan Ubayy.
Dalam riwayat lainnya Ibnu Abi Hatim dan at-Tabarani meriwayatkan, Urwah mengatakan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq membebaskan tujuh orang (budak), yang masing-masing disiksa karena Allah, dan ayat tentangnya kemudian turun, “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu….” ( QS Al-Lail [92]: 17-21), sampai dengan akhir surat itu.
Baca juga: Adzan Terakhir Bilal Bin Rabah dan Dialog Jelang Sakaratul Maut
Hijrah
Berbagai tekanan yang dilancarkan oleh Kaum Quraisy dimulai pada pertengahan atau akhir tahun keempat dari kenabian, terutama diarahkan kepada orang-orang Muslim yang lemah. Hari demi hari tekanan mereka semakin keras hingga pertengahan tahun kelima.
Mekkah terasa makin menyesakkan bagi golongan Muslim yang lemah itu, sehingga mereka mulai berpikir untuk mencari jalan keluar. Dalam kondisi yang terjepit ini, akhirnya turunlah firman Allah yang mengisyaratkan untuk hijrah:
“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” ( QS Az-Zumar : 10)
Rasulullah SAW sudah tahu bahwa Negus, raja yang berkuasa di Habasyah adalah seorang raja yang adil, tak bakal seorangpun yang teraniaya di sisinya. Oleh karena itu beliau memerintahkan agar beberapa Muslim hijrah ke Habasyah.
Baca juga: Ketika Bilal bin Rabah Tak Mampu Lagi Mengumandangkan Adzan
Dituduh Tukang Sihir
Al-Tabari dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk berkata:
Ketika para sahabat Rasulullah yang hijrah ke Habasyah telah berangkat, Rasulullah tetap tinggal di Mekkah berdakwah secara tertutup dan terbuka, dilindungi oleh Allah melalui pamannya Abu Thalib dan oleh kabilahnya yang memberikan dukungan atas permintaannya.
Ketika Kaum Quraisy melihat bahwa mereka tidak punya jalan untuk menyerangnya secara fisik, mereka menuduhnya sebagai tukang sihir, peramal, dan (mengalami) kegilaan, dan sebagai penyair. Mereka (orang-orang Mekkah) mulai menjauh darinya, bagi mereka yang takut (karena mempercayai tuduhan orang-orang Quraisy terhadap Nabi-pen) mungkin akan mendengar dan mengikutinya.
Langkah paling serius yang dilakukan (oleh orang Quraisy terhadap Nabi Muhammad) pada waktu itu, yang telah diriwayatkan, adalah sebagai berikut ini.
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin al-Ash:
Aku (Abu Salamah bin Abdurrahman) berkata kepadanya (Abdullah bin Amr bin al-Ash), “Apa serangan terburuk yang pernah engkau lihat oleh Quraisy terhadap Rasulullah ketika mereka secara terbuka menunjukkan permusuhan mereka kepadanya?”
Dia menjawab, “Aku bersama mereka ketika para bangsawan mereka berkumpul suatu hari di Hijr dan membahas Rasulullah.
“Mereka berkata, ‘Kita belum pernah melihat seperti apa yang kita alami dari orang ini. Dia telah mencemooh nilai-nilai tradisional kita, melecehkan leluhur kita, mencaci maki agama kita, menyebabkan perpecahan di antara kita, dan menghina tuhan-tuhan kita. Kita telah menanggung banyak hal darinya,’ atau kata-kata semacam itu.
“Sementara mereka mengatakan ini, Rasulullah tiba-tiba muncul dan berjalan dan mencium Hajar Aswad. Kemudian beliau melewati mereka sambil bertawaf (mengelilingi Kabah), dan ketika beliau melakukannya mereka mengata-ngatai hal buruk tentangnya.
Lihat Juga :