Adzan Terakhir Bilal Bin Rabah dan Dialog Jelang Sakaratul Maut
Senin, 22 November 2021 - 15:02 WIB
loading...
Adzan terakhir Bilal bin Rabah di Madinah atas permintaan Hasan dan Husein, cucu Rasulullah SAW. (Foto/Ilustrasi: Ist)
A
A
A
Bilal bin Rabah meninggalkan Madinah dan menghabiskan sisa hidupnya di Suriah. Ia tak lagi mengumandangkan adzan, sampai suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab berkunjung ke Suriah. Pada kesempatan tersebut orang-orang meminta khalifah agar meminta Bilal Adzan untuk satu sholat saja.
Baca juga: Ketika Bilal bin Rabah Tak Mampu Lagi Mengumandangkan Adzan
Banyak pihak menyebut itu adalah Adzan terakhir Bilal bin Rabah. Namun ada versi lainnya yang menceritakan Adzan paripurna Bilal itu yang lebih mengharukan. Kisahnya begini:
Pada suatu malam yang istimewa di Suriah, Bilal sedang tertidur lelap. Malam itu, dia bermimpi didatangi Rasulullah SAW. Dan satu pertanyaan tertuju padanya, “Wahai Bilal, mengapa engkau tak pernah mengunjungiku?”
Sontak, Bilal terperanjat. Jantungnya berdebar. Dia terbangun, lalu dengan sigap ia bersiap-siap untuk menempuh perjalanan ke Madinah. Sesampainya di sana, dia berziarah di makam Nabi Muhammad SAW.
Di Kota Madinah yang penuh kenangan bersama Rasulullah SAW, Bilal menangis tersedu menumpahkan rasa rindu. Rindu kepada Sang Nabi SAW yang telah menunjuknya menjadi muaddzin.
Saat air mata membasahi pipinya, tiba-tiba datanglah dua orang pemuda berjalan mendekat. Mereka adalah cucu Rasulullah SAW, Hasan dan Husain.
Dengan mata sembab Bilal menatap keduanya. Dia bergerak mendekat, memeluk kedua cucu Nabi SAW itu. Salah seorang dari mereka bicara, “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami, paman.”
Baca juga: Kisah Ketika Bilal Bin Rabah Adzan di Atas Reruntuhan Berhala saat Fathu Makkah
Bilal bin Rabah RA yang sudah semakin tua, hatinya luluh, tak kuasa untuk tidak memenuhi permohonan orang-orang yang lama jauh darinya. Dia pun memenuhi permintaan mereka.
Ketika waktu sholat telah tiba, dengan pijakkan kaki yang teguh, Bilal menaiki tangga ke tempat di mana dahulu dia biasa mengumandangkan Adzan. Ia menarik nafas dalam, memulai suaranya. Lantunan kumandang Adzan pun menyapa pendengaran banyak orang.
Baca juga: Ketika Bilal bin Rabah Tak Mampu Lagi Mengumandangkan Adzan
Banyak pihak menyebut itu adalah Adzan terakhir Bilal bin Rabah. Namun ada versi lainnya yang menceritakan Adzan paripurna Bilal itu yang lebih mengharukan. Kisahnya begini:
Pada suatu malam yang istimewa di Suriah, Bilal sedang tertidur lelap. Malam itu, dia bermimpi didatangi Rasulullah SAW. Dan satu pertanyaan tertuju padanya, “Wahai Bilal, mengapa engkau tak pernah mengunjungiku?”
Sontak, Bilal terperanjat. Jantungnya berdebar. Dia terbangun, lalu dengan sigap ia bersiap-siap untuk menempuh perjalanan ke Madinah. Sesampainya di sana, dia berziarah di makam Nabi Muhammad SAW.
Di Kota Madinah yang penuh kenangan bersama Rasulullah SAW, Bilal menangis tersedu menumpahkan rasa rindu. Rindu kepada Sang Nabi SAW yang telah menunjuknya menjadi muaddzin.
Saat air mata membasahi pipinya, tiba-tiba datanglah dua orang pemuda berjalan mendekat. Mereka adalah cucu Rasulullah SAW, Hasan dan Husain.
Dengan mata sembab Bilal menatap keduanya. Dia bergerak mendekat, memeluk kedua cucu Nabi SAW itu. Salah seorang dari mereka bicara, “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami, paman.”
Baca juga: Kisah Ketika Bilal Bin Rabah Adzan di Atas Reruntuhan Berhala saat Fathu Makkah
Bilal bin Rabah RA yang sudah semakin tua, hatinya luluh, tak kuasa untuk tidak memenuhi permohonan orang-orang yang lama jauh darinya. Dia pun memenuhi permintaan mereka.
Ketika waktu sholat telah tiba, dengan pijakkan kaki yang teguh, Bilal menaiki tangga ke tempat di mana dahulu dia biasa mengumandangkan Adzan. Ia menarik nafas dalam, memulai suaranya. Lantunan kumandang Adzan pun menyapa pendengaran banyak orang.
Lihat Juga :