Memahami Al-Qur'an di Masa Kini dan Hikmah Ayat Ilmiah, Menurut Quraish Shihab
Selasa, 01 Maret 2022 - 17:00 WIB
loading...
A
A
A
Sesuatu yang Bergantung
Dari titik tolak ini mereka menolak penafsiran al-'alaq dengan segumpal darah, cair atau beku. Mereka berpendapat bahwa al-alaq adalah sesuatu yang bergantung atau berdempet.
Penafsiran ini sejalan dengan pengertian bahasa Arab, dan sesuai pula dengan embriologi yang dinamai implantasi. Bahasa Arab tidak menjadikan arti al-'alaq khusus untuk darah beku, tetapi salah satu dari artinya adalah bergantungan atau berdempetan.
Al-Raghib Al-Ashfahaniy, menerangkan beberapa arti al-alaq menurut bahasa Arab, di antaranya: bergantung dan berdempetan. Dalam kamus Al-Mishbah Al-Munir, arti al-'alaq adalah "sesuatu yang hitam seperti cacing di dalam air, bila diminum oleh binatang ia akan bergantung atau terhalang di kerongkongannya". (Lihat Mu'jam Mufradat li Alfazh Al-Qur'an, diedit oleh Nadim Mar'asyli, Dar Al-Fikr, Beirut t.t., h. 355.)
Baca juga: Nuzulul Qur'an: Tafsir dan Kisah Turunnya Surat Al-Alaq 1-5
Di samping itu, dalam bahasa Arab sesuatu dapat dinamakan sesuai dengan keadaan dan sifatnya, seperti: Innama sumiya al-qalb li taqallubihi.
Qalb dalam bahasa Arab berarti "berbolak-balik", karena sifatnya yang berbolak-balik: sekali senang, sekali susah, sekali cinta, sekali benci. Yang berdempet/bergantung di dinding rahim dinamai alaq (bergantung), karena keadaannya ketika itu "bergantung"/berdempet.
Dari uraian tersebut, Quraish Shihab menyimpulkan:
Pertama, Al-Qur'an adalah kitab hidayah yang memberikan petunjuk kepada manusia seluruhnya dalam persoalan-persoalan akidah, tasyri', dan akhlak demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Kedua, tiada pertentangan antara Al-Qur'an dengan ilmu pengetahuan.
Ketiga, memahami hubungan Al-Qur'an dengan ilmu pengetahuan bukan dengan melihat adakah teori-teori ilmiah atau penemuan-penemuan baru tersimpul di dalamnya, tetapi dengan melihat adakah Al-Qur'an atau jiwa ayat-ayatnya menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorong lebih maju.
Keempat, membenarkan atau menyalahkan teori-teori ilmiah berdasarkan Al-Qur'an bertentangan dengan tujuan pokok atau sifat Al-Qur'an dan bertentangan pula dengan ciri khas ilmu pengetahuan.
Kelima, sebab-sebab meluasnya penafsiran ilmiah (pembenaran teori-teori ilmiah berdasarkan Al-Qur'an) adalah akibat perasaan rendah diri dari masyarakat Islam dan akibat pertentangan antara golongan gereja (agama) dengan ilmuwan yang diragukan akan terjadi pula dalam lingkungan Islam, sehingga cendekiawan Islam berusaha menampakkan hubungan antara Al-Qur'an dengan ilmu pengetahuan.
Keenam, memahami ayat-ayat Al-Qur'an sesuai dengan penemuan-penemuan baru adalah ijtihad yang baik, selama paham tersebut tidak dipercayai sebagai aqidah Qur'aniyyah dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsp atau ketentuan bahasa.
Baca juga: Al-Qur'an: Ayat Pertama Turun Al-Alaq, yang Terakhir Ada 9 Pendapat
Dari titik tolak ini mereka menolak penafsiran al-'alaq dengan segumpal darah, cair atau beku. Mereka berpendapat bahwa al-alaq adalah sesuatu yang bergantung atau berdempet.
Penafsiran ini sejalan dengan pengertian bahasa Arab, dan sesuai pula dengan embriologi yang dinamai implantasi. Bahasa Arab tidak menjadikan arti al-'alaq khusus untuk darah beku, tetapi salah satu dari artinya adalah bergantungan atau berdempetan.
Al-Raghib Al-Ashfahaniy, menerangkan beberapa arti al-alaq menurut bahasa Arab, di antaranya: bergantung dan berdempetan. Dalam kamus Al-Mishbah Al-Munir, arti al-'alaq adalah "sesuatu yang hitam seperti cacing di dalam air, bila diminum oleh binatang ia akan bergantung atau terhalang di kerongkongannya". (Lihat Mu'jam Mufradat li Alfazh Al-Qur'an, diedit oleh Nadim Mar'asyli, Dar Al-Fikr, Beirut t.t., h. 355.)
Baca juga: Nuzulul Qur'an: Tafsir dan Kisah Turunnya Surat Al-Alaq 1-5
Di samping itu, dalam bahasa Arab sesuatu dapat dinamakan sesuai dengan keadaan dan sifatnya, seperti: Innama sumiya al-qalb li taqallubihi.
Qalb dalam bahasa Arab berarti "berbolak-balik", karena sifatnya yang berbolak-balik: sekali senang, sekali susah, sekali cinta, sekali benci. Yang berdempet/bergantung di dinding rahim dinamai alaq (bergantung), karena keadaannya ketika itu "bergantung"/berdempet.
Dari uraian tersebut, Quraish Shihab menyimpulkan:
Pertama, Al-Qur'an adalah kitab hidayah yang memberikan petunjuk kepada manusia seluruhnya dalam persoalan-persoalan akidah, tasyri', dan akhlak demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Kedua, tiada pertentangan antara Al-Qur'an dengan ilmu pengetahuan.
Ketiga, memahami hubungan Al-Qur'an dengan ilmu pengetahuan bukan dengan melihat adakah teori-teori ilmiah atau penemuan-penemuan baru tersimpul di dalamnya, tetapi dengan melihat adakah Al-Qur'an atau jiwa ayat-ayatnya menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorong lebih maju.
Keempat, membenarkan atau menyalahkan teori-teori ilmiah berdasarkan Al-Qur'an bertentangan dengan tujuan pokok atau sifat Al-Qur'an dan bertentangan pula dengan ciri khas ilmu pengetahuan.
Kelima, sebab-sebab meluasnya penafsiran ilmiah (pembenaran teori-teori ilmiah berdasarkan Al-Qur'an) adalah akibat perasaan rendah diri dari masyarakat Islam dan akibat pertentangan antara golongan gereja (agama) dengan ilmuwan yang diragukan akan terjadi pula dalam lingkungan Islam, sehingga cendekiawan Islam berusaha menampakkan hubungan antara Al-Qur'an dengan ilmu pengetahuan.
Keenam, memahami ayat-ayat Al-Qur'an sesuai dengan penemuan-penemuan baru adalah ijtihad yang baik, selama paham tersebut tidak dipercayai sebagai aqidah Qur'aniyyah dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsp atau ketentuan bahasa.
Baca juga: Al-Qur'an: Ayat Pertama Turun Al-Alaq, yang Terakhir Ada 9 Pendapat
(mhy)
Lihat Juga :