Tafsir Ayat Poligami dalam Kisah Imam Abu Hanifah dan Khalifah Al-Mansur
Kamis, 10 Maret 2022 - 10:10 WIB
loading...
Ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat poligami. (Foto/Ilustrasi: Ist)
A
A
A
Suatu ketika hubungan Khalifah Al-Mansurdengan istrinya terganggu. Hampir setiap hari mereka bertengkar, bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun. Setelah ditelisik ternyata sang suami ingin menikah lagi atau berpoligami . Menghadapi masalah tersebut, keduanya sepakat melibatkan orang lain untuk memediasi mereka berdua. Orang yang terpilih adalah Imam Abu Hanifah .
Siapa yang tak kenal Abu Hanifah, ulama besar, cerdas dan dikenal bijak bestari. Diriwayatkan bahwa Sang khalifah dan istrinya sangat hormat kepada Imam. Pada waktu yang telah ditentukan, Imam Abu Hanifah tiba di istana dan disambut dengan penuh ta’dhim.
Baca juga: Pandangan Gus Baha Tentang Poligami, Yuk Simak Tausiyahnya!
Setelah cukup memberikan muqaddimah tentang permasalahan pasangan suami istri tersebut, Khalifah Al-Mansur kemudian mengajukan pertanyaan ke sang Imam, “Berapakah batas seorang laki-laki berhak menikahi perempuan dalam satu waktu?”
“Empat” jawab Abu Hanifah
“Berapa banyak dia boleh menikahi budak perempuan?”
“Terserah, berapa saja dia mau.”
“Apakah seorang muslim boleh menentang pandangan Anda ini?”
“Tidak,” tegas Abu Hanifah
Khalifah tampak sumringah mendengar jawaban tegas dari Imam, dia merasa Imam bersamanya, mendukungnya. Khalifah pun mulai percaya diri sambil berbisik pada istrinya, “Kamu sudah mendengar, apa yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah tadi?”
Belum sempat sang istri menimpali, Abu Hanifah segera melanjutkan, “Ya, benar demikian aturannya yang mulia Khalifah. Akan tetapi, hal itu hanya dibolehkan bagi orang yang bisa berlaku adil. Namun jika tidak, maka dia hanya boleh memiliki satu saja. Allah sudah mengatakan, “jika kamu khawatir tidak bisa berbuat adil, maka satu saja.” Sudah seharusnya kita mengikuti etika Allah dan mengambil pengetahuan dari kata-kataNya.”
Mendengar penjelasan Imam yang terakhir ini, Khalifah diam membisu seribu bahasa, lama sekali. Wajahnya tidak lagi ceria seperti sebelumnya. Sementara wajah sang istri berbinar-binar.
Siapa yang tak kenal Abu Hanifah, ulama besar, cerdas dan dikenal bijak bestari. Diriwayatkan bahwa Sang khalifah dan istrinya sangat hormat kepada Imam. Pada waktu yang telah ditentukan, Imam Abu Hanifah tiba di istana dan disambut dengan penuh ta’dhim.
Baca juga: Pandangan Gus Baha Tentang Poligami, Yuk Simak Tausiyahnya!
Setelah cukup memberikan muqaddimah tentang permasalahan pasangan suami istri tersebut, Khalifah Al-Mansur kemudian mengajukan pertanyaan ke sang Imam, “Berapakah batas seorang laki-laki berhak menikahi perempuan dalam satu waktu?”
“Empat” jawab Abu Hanifah
“Berapa banyak dia boleh menikahi budak perempuan?”
“Terserah, berapa saja dia mau.”
“Apakah seorang muslim boleh menentang pandangan Anda ini?”
“Tidak,” tegas Abu Hanifah
Khalifah tampak sumringah mendengar jawaban tegas dari Imam, dia merasa Imam bersamanya, mendukungnya. Khalifah pun mulai percaya diri sambil berbisik pada istrinya, “Kamu sudah mendengar, apa yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah tadi?”
Belum sempat sang istri menimpali, Abu Hanifah segera melanjutkan, “Ya, benar demikian aturannya yang mulia Khalifah. Akan tetapi, hal itu hanya dibolehkan bagi orang yang bisa berlaku adil. Namun jika tidak, maka dia hanya boleh memiliki satu saja. Allah sudah mengatakan, “jika kamu khawatir tidak bisa berbuat adil, maka satu saja.” Sudah seharusnya kita mengikuti etika Allah dan mengambil pengetahuan dari kata-kataNya.”
Mendengar penjelasan Imam yang terakhir ini, Khalifah diam membisu seribu bahasa, lama sekali. Wajahnya tidak lagi ceria seperti sebelumnya. Sementara wajah sang istri berbinar-binar.
Lihat Juga :