4 Sahabat Nabi yang Berdakwah dan Wafat di Luar Arab Saudi
Selasa, 15 Maret 2022 - 16:41 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Sa’ad bin Abi Waqqash: Penduduk Surga Penyebar Islam di Cina
Sementara pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, Sa’ad bin Abi Waqqash ditugaskan untuk memimpin delegasi ke Cina. Merujuk buku Perkembangan Islam di Tiongkok (Ibrahim Tien Ying Ma, 1979), ini menjadi tonggak pertama dakwah Islam di negeri Tirai Bambu.
Sa’ad bin Abi Waqqash berlayar dari Abyssinia ke Cina untuk menyebarkan Islam pada tahun 616 M. Setelah beberapa saat berada di Cina, Sa’ad balik ke Arab. Dan sekitar 20 tahun setelahnya Sa’ad kembali lagi ke Cina untuk meneruskan dakwahnya.
Di Cina delegasi yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash mendirikan masjid pada 742 M. Masjid itu bernama Masjid Huaisheng atau dikenal dengan Masjid Sa’ad bin Abi Waqqash di Provinsi Guanzhou. Masjid yang dibangun di atas lahan seluas 5 hektare itu menjadi salah satu masjid tertua di China.
Sebagian orang percaya bahwa Saad bin Abi Waqqas menghabiskan sisa hidupnya dan meninggal di Guangzhou, Cina. Sebuah pusara diyakini sebagai makamnya.
Namun riwayat lain menyebutkan, Sa’ad bin Abi Waqqash, wafat di Madinah. Beliau dimakamkan di pemakaman Baqi’, makamnya para syuhada. Konon, dalam keadaan sakit, beliau berpesan kepada para sahabatnya agar ia dikafani dengan jubah yang digunakannya dalam Perang Badar—perang kemenangan pertama untuk kaum Muslimin.
Pahlawan perkasa ini menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 55 H dengan meninggalkan kenangan indah dan nama yang harum.
Baca juga: Belajar dari Sa’ad bin Abi Waqqash, Mengapa Doanya Selalu Terkabul
Abu Ayyub al Anshari
Abu Ayyub al Anshari adalah tokoh dari golongan Anshar. Nama dan derajatnya dimuliakan Allah di kalangan makhluk, baik di Timur maupun di Barat. Allah telah memilih rumahnya di antara sekalian rumah kaum muslimin, untuk tempat tinggal Rasulullah ketika beliau baru tiba di Madinah sebagai Muhajirin.
Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub kurang lebih tujuh bulan. Setelah masjid Rasulullah selesai dibangun, beliau pindah ke kamar-kamar yang dibuatkan untuk beliau dan para isteri beliau di sekitar masjid.
Sejak pindah, Rasulullah menjadi tetangga dekat bagi Abu Ayyub. Rasulullah sangat menghargai suami isteri ini sebagai tetangga yang baik. Abu Ayyub mencintai Rasulullah sepenuh hati. Sebaliknya beliau mencintainya pula, sehingga mereka saling membantu setiap kesusahan masing-masing.
![4 Sahabat Nabi yang Berdakwah dan Wafat di Luar Arab Saudi]()
Sepanjang hayatnya Abu Ayyub hidup dalam peperangan. Sehingga dikatakan orang, Abu Ayyub tidak pernah absen dalam setiap peperangan yang dihadapi kaum muslimin sejak masa Rasulullah sampai dia wafat di masa pemerintahan Mu‘awiyah. Kecuali bila dia sedang bertugas dengan suatu tugas penting yang lain.
Pada tahun 48 H/ 669 M, Mu’awiyah mencoba menaklukkan Konstantinopel. Ia mengirim pasukan besar pimpinan Sufyan Ibnu Auf yang ditemani Yazid ibn Mu’awiyah. Kala itu, sejumlah sahabat terkemuka dari Muhajirin dan Anshar ikut serta. Di antara mereka ada Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Zubair dan Abu Ayyub al Anshari. Dan ini menjadi peperangan terakhir yang diikuti Abu Ayub.
Abu Ayyub seorang prajurit yang patuh dan setia. Ketika itu dia telah berusia lebih 80 tahun. Suatu usia yang boleh dikatakan sangat tua. Tetapi usia tidak menghalanginya untuk bergabung dengan tentara muslimin di bawah bendera Yazid bin Mu’awiyah.
Dia tidak menolak mengarungi laut, membelah ombak untuk berperang fi sabilillah. Tetapi belum berapa lama dia berada di medan tempur menghadapi musuh, Abu Ayyub jatuh sakit. Beliau terpaksa istirahat di perkemahan, tidak dapat melanjutkan peperangan karena fisiknya sudah lemah.
Ketika Yazid mengunjungi Abu Ayyub yang sakit, panglima ini bertanya, “Adakah sesuatu yang Anda kehendaki, hai Abu Ayyub?”
“Tolong sampaikan salam saya kepada seluruh tentara muslimin. Katakan kepada mereka, Abu Ayyub berpesan supaya kalian semuanya terus maju sampai ke jantung daerah musuh. Bawalah saya beserta kalian. Kalau saya mati, kuburkan saya dekat pilar kota Konstantinopel!” ujarnya.
Baca juga: Ini Tokoh yang Makamnya Dimuliakan Sultan Muhammad Al-Fatih
Tidak lama sesudah ia berkata demikian, Abu Ayyub menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dia wafat menemui Tuhannya di tengah-tengah kancah pertempuran. Tentara muslimin memperkenankan keinginan sahabat Rasulullah yang mulia ini.
Mereka berperang dengan gigih, menghalau musuh dari satu medan ke medan tempur yang lain. Sehingga akhirnya mereka berhasil mencapai pilar-pilar kota Konstantinopel, sambil membawa jenazah Abu Ayyub.
Dekat sebuah pilar kota Konstantinopel mereka menggali kuburan, lalu mereka makamkan jenazah Abu Ayyub di sana, sesuai dengan pesan beliau.
Abu Ubaidah ibnu Al-Jarrah
Nama lengkapnya Amir bin Abdullah bin Jarrah Al-Fihry Al-Quraiys, namun lebih dikenal dengan Abu Ubaidah bin Jarrah. Ia adalah Muhajirin dari kaum Quraisy Mekkah yang termasuk paling awal memeluk Islam. Ia ikut berhijrah ke Habasyah (saat ini Ethiopia) dan kemudian, ke Madinah.
Baca juga: Nasehat Abu Ubaidah bin Jarrah tentang Barometer Kemuliaan Seorang
Abu Ubaidah mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam. Setelah wafatnya Nabi Muhammad, ia merupakan salah satu calon Khalifah bersama dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Setelah terpilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah, ia ditunjuk untuk menjadi panglima perang memimpin pasukan Muslim untuk berperang melawan Kekaisaran Romawi.
Abu Ubaidah bin al-Jarrah memiliki beberapa keutamaan, di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya setiap umat memiliki amin (orang yang paling amanah/kepercayaan), dan amin umat ini adalah Abu Ubaidah."
Pada saat negeri Islam kian luas, Khalifah Umar mengutus beberapa sahabat Nabi guna memimpin sekaligus mengajarkan agama Islam kepada penduduk setempat yang belum lama memeluk Islam. Di antara mereka adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah untuk memimpin wilayah Syam.
Sementara pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, Sa’ad bin Abi Waqqash ditugaskan untuk memimpin delegasi ke Cina. Merujuk buku Perkembangan Islam di Tiongkok (Ibrahim Tien Ying Ma, 1979), ini menjadi tonggak pertama dakwah Islam di negeri Tirai Bambu.
Sa’ad bin Abi Waqqash berlayar dari Abyssinia ke Cina untuk menyebarkan Islam pada tahun 616 M. Setelah beberapa saat berada di Cina, Sa’ad balik ke Arab. Dan sekitar 20 tahun setelahnya Sa’ad kembali lagi ke Cina untuk meneruskan dakwahnya.
Di Cina delegasi yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash mendirikan masjid pada 742 M. Masjid itu bernama Masjid Huaisheng atau dikenal dengan Masjid Sa’ad bin Abi Waqqash di Provinsi Guanzhou. Masjid yang dibangun di atas lahan seluas 5 hektare itu menjadi salah satu masjid tertua di China.
Sebagian orang percaya bahwa Saad bin Abi Waqqas menghabiskan sisa hidupnya dan meninggal di Guangzhou, Cina. Sebuah pusara diyakini sebagai makamnya.
Namun riwayat lain menyebutkan, Sa’ad bin Abi Waqqash, wafat di Madinah. Beliau dimakamkan di pemakaman Baqi’, makamnya para syuhada. Konon, dalam keadaan sakit, beliau berpesan kepada para sahabatnya agar ia dikafani dengan jubah yang digunakannya dalam Perang Badar—perang kemenangan pertama untuk kaum Muslimin.
Pahlawan perkasa ini menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 55 H dengan meninggalkan kenangan indah dan nama yang harum.
Baca juga: Belajar dari Sa’ad bin Abi Waqqash, Mengapa Doanya Selalu Terkabul
Abu Ayyub al Anshari
Abu Ayyub al Anshari adalah tokoh dari golongan Anshar. Nama dan derajatnya dimuliakan Allah di kalangan makhluk, baik di Timur maupun di Barat. Allah telah memilih rumahnya di antara sekalian rumah kaum muslimin, untuk tempat tinggal Rasulullah ketika beliau baru tiba di Madinah sebagai Muhajirin.
Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub kurang lebih tujuh bulan. Setelah masjid Rasulullah selesai dibangun, beliau pindah ke kamar-kamar yang dibuatkan untuk beliau dan para isteri beliau di sekitar masjid.
Sejak pindah, Rasulullah menjadi tetangga dekat bagi Abu Ayyub. Rasulullah sangat menghargai suami isteri ini sebagai tetangga yang baik. Abu Ayyub mencintai Rasulullah sepenuh hati. Sebaliknya beliau mencintainya pula, sehingga mereka saling membantu setiap kesusahan masing-masing.

Sepanjang hayatnya Abu Ayyub hidup dalam peperangan. Sehingga dikatakan orang, Abu Ayyub tidak pernah absen dalam setiap peperangan yang dihadapi kaum muslimin sejak masa Rasulullah sampai dia wafat di masa pemerintahan Mu‘awiyah. Kecuali bila dia sedang bertugas dengan suatu tugas penting yang lain.
Pada tahun 48 H/ 669 M, Mu’awiyah mencoba menaklukkan Konstantinopel. Ia mengirim pasukan besar pimpinan Sufyan Ibnu Auf yang ditemani Yazid ibn Mu’awiyah. Kala itu, sejumlah sahabat terkemuka dari Muhajirin dan Anshar ikut serta. Di antara mereka ada Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Zubair dan Abu Ayyub al Anshari. Dan ini menjadi peperangan terakhir yang diikuti Abu Ayub.
Abu Ayyub seorang prajurit yang patuh dan setia. Ketika itu dia telah berusia lebih 80 tahun. Suatu usia yang boleh dikatakan sangat tua. Tetapi usia tidak menghalanginya untuk bergabung dengan tentara muslimin di bawah bendera Yazid bin Mu’awiyah.
Dia tidak menolak mengarungi laut, membelah ombak untuk berperang fi sabilillah. Tetapi belum berapa lama dia berada di medan tempur menghadapi musuh, Abu Ayyub jatuh sakit. Beliau terpaksa istirahat di perkemahan, tidak dapat melanjutkan peperangan karena fisiknya sudah lemah.
Ketika Yazid mengunjungi Abu Ayyub yang sakit, panglima ini bertanya, “Adakah sesuatu yang Anda kehendaki, hai Abu Ayyub?”
“Tolong sampaikan salam saya kepada seluruh tentara muslimin. Katakan kepada mereka, Abu Ayyub berpesan supaya kalian semuanya terus maju sampai ke jantung daerah musuh. Bawalah saya beserta kalian. Kalau saya mati, kuburkan saya dekat pilar kota Konstantinopel!” ujarnya.
Baca juga: Ini Tokoh yang Makamnya Dimuliakan Sultan Muhammad Al-Fatih
Tidak lama sesudah ia berkata demikian, Abu Ayyub menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dia wafat menemui Tuhannya di tengah-tengah kancah pertempuran. Tentara muslimin memperkenankan keinginan sahabat Rasulullah yang mulia ini.
Mereka berperang dengan gigih, menghalau musuh dari satu medan ke medan tempur yang lain. Sehingga akhirnya mereka berhasil mencapai pilar-pilar kota Konstantinopel, sambil membawa jenazah Abu Ayyub.
Dekat sebuah pilar kota Konstantinopel mereka menggali kuburan, lalu mereka makamkan jenazah Abu Ayyub di sana, sesuai dengan pesan beliau.
Abu Ubaidah ibnu Al-Jarrah
Nama lengkapnya Amir bin Abdullah bin Jarrah Al-Fihry Al-Quraiys, namun lebih dikenal dengan Abu Ubaidah bin Jarrah. Ia adalah Muhajirin dari kaum Quraisy Mekkah yang termasuk paling awal memeluk Islam. Ia ikut berhijrah ke Habasyah (saat ini Ethiopia) dan kemudian, ke Madinah.
Baca juga: Nasehat Abu Ubaidah bin Jarrah tentang Barometer Kemuliaan Seorang
Abu Ubaidah mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam. Setelah wafatnya Nabi Muhammad, ia merupakan salah satu calon Khalifah bersama dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Setelah terpilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah, ia ditunjuk untuk menjadi panglima perang memimpin pasukan Muslim untuk berperang melawan Kekaisaran Romawi.
Abu Ubaidah bin al-Jarrah memiliki beberapa keutamaan, di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya setiap umat memiliki amin (orang yang paling amanah/kepercayaan), dan amin umat ini adalah Abu Ubaidah."
Pada saat negeri Islam kian luas, Khalifah Umar mengutus beberapa sahabat Nabi guna memimpin sekaligus mengajarkan agama Islam kepada penduduk setempat yang belum lama memeluk Islam. Di antara mereka adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah untuk memimpin wilayah Syam.
Lihat Juga :