Belajar dari Sa’ad bin Abi Waqqash, Mengapa Doanya Selalu Terkabul

loading...
Belajar dari Sa’ad bin Abi Waqqash, Mengapa Doanya Selalu Terkabul
Ilustrasi/Ist
SA'AD bin Abi Waqqash termasuk salah satu sahabat yang diberi umur panjang. Ia hidup di era khalifah Ar Rasyidin dan menjadi sahabat terakhir dari kalangan Muhajirin yang meninggal dunia. Selama hidupnya, Sa’ad selalu terijabah setiap kali berdoa. (Baca juga: Kesalahan Fatal Kaisar Persia Memberi Hadiah Tanah Kepada Delegasi Muslim)

Dikisahkan, di era kekhalifahan Umar bin Khattab, Sa’ad bin Abi Waqqash diamanahi jabatan sebagai pemimpin wilayah Kufah. Namun satu hari, terdapat penduduk Kufah yang mengeluhkan Sa’ad dan menyebutkan keburukannya. Umar tentu tak langsung percaya. Ia mengutus seseorang untuk pergi ke Kufah dan menyelidiki tentang kepemimpinan Sa’ad. (Baca juga: Kisah Delegasi Muslim yang Kurus dan Kumal Itu Bertemu Kaisar Persia)

Benar saja, sang utusan selalu mendapati orang-orang menyebut kebaikannya. Setiap kali tiba di masjid, utusan tersebut mampir kemudian bertanya pada penduduk Kufah tentang Sa’ad. Tak ada satu pun masjid yang dilewati dan didatanginya, kecuali semua orang mengagumi kebaikan-kebaikan Sa’ad bin Abi Waqqash. (Baca juga: Ada 70 Orang Veteran Badar yang Dipersiapkan Menaklukkan Persia)

Hingga kemudian si utusan tiba di sebuah masjid milik Bani Abs. Di sana terdapat seorang bernama Usamah bin Qatadah yang memfitnah Sa’ad bahwasanya sang shahabat nabi tak pernah mengikuti sariyah, yakni perang yang dipimpin langsung oleh Rasulullah. Usamah juga menuduh bahwasanya Sa’ad tak pernah adil dalam pembagian dan menetapkan hukum dengan batil.



Sampailah kabar fitnah Usamah itu ke telinga Sa’ad bin Abi Waqqash. Ia pun kemudian berkata, “Demi Allah, aku benar-benar berdoa untuk tiga hal, ‘Ya Allah jika hambamu ini (Usamah bin Qatadah) berdusta, berdiri karena riya atau sum`ah, maka panjangkanlah umurnya, panjangkanlah kefakirannya dan hadapkanlah dia kepada cobaan.” (Baca juga: Alasan Strategis Khalifah Umar Menguasai Persia dan Syam)

Sang perawi, yakni Abdul Malik bin Umair berkata, “Setiap kali dia (Usamah bin Qatadah) ditanya, “Bagaimana keadaanmu?” Dia menjawab, “Aku adalah orang tua yang telah terkena doanya Sa`d bin Abi Waqqash.” Abdul Malik lalu berkata, “Setelah itu aku melihatnya buta karena tua.”

Dalam momen lain, juga terdapat kisah serupa tentang bagaimana doa Sa’ad selalu diijabah oleh Allah. Kisah ini tercantum dalam kitab Al Mustadrak. Disebutkan bahwa suatu hari ada seorang penunggang kuda yang mencela Ali bin Abi Thalib di tengah-tengah pasar Madinah. Orang-orang mendengarnya namun tak berani melawan.



Hingga kemudian datanglah Sa’ad bin Abi Waqqash dan bertanya, “Ada apa ini?” Mereka kemudian menyampaikan kabar, “Ada seorang yang mencela Ali bin Abi Thalib.” Sa’ad pun kemudian segera menghampiri si pencela tersebut dan membela Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu.
halaman ke-1 dari 6
cover top ayah
وَمَنۡ يَّقۡتُلۡ مُؤۡمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهٗ جَهَـنَّمُ خَالِدًا فِيۡهَا وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهٗ وَاَعَدَّ لَهٗ عَذَابًا عَظِيۡمًا
Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.

(QS. An-Nisa:93)
cover bottom ayah
preload video