Sejarah Kue Apem: Apa Hubungannya dengan Sunan Gunung Jati?
Selasa, 22 Maret 2022 - 17:09 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Jaga Tradisi di Bulan Safar, Warga Gelar Festival Apem
Tragedi Karbala
Sementara itu, di Jawa Barat, khususnya Cirebon, kue apem hanya muncul pada tanggal 1 hingga 30 Bulan Safar. Kue Apem bentuknya ada beberapa jenis, ada yang kotak, dan ada yang bentuknya setengah bulat, adapun rasa kue ini adalah tawar, oleh karena itu kue apem biasa dimakan dengan gula merah yang dicairkan sebagai celupannya.
Laman historyofcirebon.id melansir, bentuk kue apem yang terdiri dari dua jenis, yaitu kotak dan bulat menggambarkan jika kue apem diciptakan untuk memperingati syahidnya Husain RA, cucu Nabi Muhamad yang wafat dimutilasi oleh Pendukung Muawiyah sebagai pada Perang di Karbala (Iraq).
Kue berbentuk bulat melambangkan kepala, sementara kue yang berbentuk kotak bermaksud badan adapun yang terpisah dari kepalanya. Adapun gula merah cair yang menyertai kue apem dianggap sebagai darah dari cucu Nabi tersebut.
Pembuatan Apem juga digunakan sebagai ajang saling minta maaf antartetangga, sebab dalam kepercayaan tradisional orang Arab dahulu, bulan Safar adalah bulan bencana, sehingga untuk menolak bala perlu usaha saling maaf memaafkan antar sesama.
Keraton yang ada di Cirebon, baik Kasepuhan, Kanoman, Kaprabonan dan Kacirebonan juga membuat kue apem pada bulan Safar tersebut.
Adapun mengenai kapan pertama kalinya kue apem dibuat di Cirebon tidak ada yang tahu pasti, hanya saja budayawan dan sejarawan Cirebon meyakini jika pembuatan kue Apem di Cirebon sudah ada sejak zaman Sunan Gunung Jati.
Baca juga: Sambut Ramadhan, Gubernur Khofifah Megengan Daring
Tragedi Karbala
Sementara itu, di Jawa Barat, khususnya Cirebon, kue apem hanya muncul pada tanggal 1 hingga 30 Bulan Safar. Kue Apem bentuknya ada beberapa jenis, ada yang kotak, dan ada yang bentuknya setengah bulat, adapun rasa kue ini adalah tawar, oleh karena itu kue apem biasa dimakan dengan gula merah yang dicairkan sebagai celupannya.
Laman historyofcirebon.id melansir, bentuk kue apem yang terdiri dari dua jenis, yaitu kotak dan bulat menggambarkan jika kue apem diciptakan untuk memperingati syahidnya Husain RA, cucu Nabi Muhamad yang wafat dimutilasi oleh Pendukung Muawiyah sebagai pada Perang di Karbala (Iraq).
Kue berbentuk bulat melambangkan kepala, sementara kue yang berbentuk kotak bermaksud badan adapun yang terpisah dari kepalanya. Adapun gula merah cair yang menyertai kue apem dianggap sebagai darah dari cucu Nabi tersebut.
Pembuatan Apem juga digunakan sebagai ajang saling minta maaf antartetangga, sebab dalam kepercayaan tradisional orang Arab dahulu, bulan Safar adalah bulan bencana, sehingga untuk menolak bala perlu usaha saling maaf memaafkan antar sesama.
Keraton yang ada di Cirebon, baik Kasepuhan, Kanoman, Kaprabonan dan Kacirebonan juga membuat kue apem pada bulan Safar tersebut.
Adapun mengenai kapan pertama kalinya kue apem dibuat di Cirebon tidak ada yang tahu pasti, hanya saja budayawan dan sejarawan Cirebon meyakini jika pembuatan kue Apem di Cirebon sudah ada sejak zaman Sunan Gunung Jati.
Baca juga: Sambut Ramadhan, Gubernur Khofifah Megengan Daring
(mhy)
Lihat Juga :