Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur: Dikenal Sangat Kikir, Bergelar Abu Dawaniq
Kamis, 31 Maret 2022 - 17:42 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: 425 Koin Emas Islam dari Kekhalifahan Abbasiyah Ditemukan di Israel
Tak kalah dengan saudaranya As-Saffah, Al Manshur juga sangat kejam memperlakukan lawan-lawannnya. Tapi bila As-Saffah berlaku kejam kepada musuhnya, Al-Manshur bertindak kejam justru kepada bawahannya dan kolega-koleganya sendiri.
Ketika pertama kali dilantik, kebijakan pertamanya adalah membunuh Abu Muslim al Khurasani yang merupakan sosok paling berjasa dalam revolusi Abbasiyah.
Menurut riwayat Tabari, konflik pribadi antara Al-Manshur dengan Abu Muslim sudah terjadi sejak masa pemerintahan As-Saffah. Ketika itu Abu Muslim menjadi orang sangat berpengaruh di Khurasan. Sedemikian sehingga rakyat Khurasan lebih mengenal dan mencintai Abu Muslim daripada khalifah kaum Muslim yang baru.
Buku The History of al-Tabari berkisah, dalam satu kesempatan, Al-Manshur berkunjung ke Khurasan. Ketika itu posisinya sudah menjadi seorang putra mahkota. Tujuan Al-Manshur ke Khurasan tidak lain untuk memastikan kesetiaan Abu Muslim kepada Bani Abbas, dan Abu Muslim pun dengan senang hati mengukuhkan kesetiaannya pada As-Saffah dan Dinasti Abbasiyah.
Hanya saja, dalam proses kunjungan tersebut, Abu Muslim justru memperlakukan Al-Manshur setara, layaknya koleganya. Bukan sosok penting yang dihormati layaknya seorang putra mahkota.
Baca juga: Leluhur Dinasti Abbasiyah, Paman Nabi yang Wafat di Bulan Rajab
Hal ini kemudian menyebabkan Al-Manshur tersinggung luar biasa. Sampai-sampai ketika dia kembali dari Khurasan, dia memohon pada As-Saffah agar diizinkan untuk membunuhnya. Tapi hal ini mampu dicegah oleh As-Saffah.
Di samping karena mengingat jasa Abu Muslim dalam revolusi Abbasiyah, As-Saffah juga mempertimbangkan pengaruh Abu Muslim yang luar biasa di tengah masyarakat. Meski begitu, kecurigaan Bani Abbas terhadap popularitas Abu Muslim kian hari kian besar.
Pada musim haji tahun 136 H, Abu Ja’far diperintahkan untuk memimpin jamaah haji. Pada saat bersamaan, Abu Muslim bertemu dengan As-Saffah dan memohon izin agar diperbolehkan memimpin jamaah haji.
Dia membawa sekitar 8000 pasukan bersama. Tapi ketika permohonan itu sampai, As-Safah sudah terlanjur menjatuhkan pilihannya pada Al-Manshur. Hal ini membuat kecewa Abu Muslim. Karena bagi Abu Muslim, musim haji adalah momentum yang tepat untuk meningkatkan popularitasnya di tengah kaum Muslim. Dan kedudukan sebagai pemimpin jamaah haji, adalah kedudukan paling strategis.
Ketika pada akhir tahun 136 H, berita kematian As-Saffah datang Al-Anbar. Dalam wasiatnya, As-Saffah meminta semua orang segera memberikan baiat kepada Al-Manshur. Abu Muslim yang mendengar berita ini, dengan setengah hati memberikan baiatnya pada Al-Manshur.
Sebaliknya, Al-Manshur pun merasa tidak yakin dengan kesetiaan Abu Muslim kepadanya. Maka demikianlah, sejak saat itu, hubungan kedua orang terpenting dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah itu bak api dalam sekam.
Baca juga: Nenek Moyang Dinasti Abbasiyah: Abdullah Berjuluk Juru Bicara Al-Qur'an
Pemberontakan Abdullah Ali
Al-Manshur merasa kursi kekuasaannya tidak akan pernah tenang selama Abu Muslim masih eksis dengan pengaruh dan kekuatannya yang demikian besar di kalangan pendukung Bani Abbas. Dengan kata lain, Abu Muslim untuk saat ini adalah satu-satunya orang yang paling berpotensi mendelegitimasi posisinya sebagai khalifah. Dan ini tidak bisa dibiarkan.
Tak kalah dengan saudaranya As-Saffah, Al Manshur juga sangat kejam memperlakukan lawan-lawannnya. Tapi bila As-Saffah berlaku kejam kepada musuhnya, Al-Manshur bertindak kejam justru kepada bawahannya dan kolega-koleganya sendiri.
Ketika pertama kali dilantik, kebijakan pertamanya adalah membunuh Abu Muslim al Khurasani yang merupakan sosok paling berjasa dalam revolusi Abbasiyah.
Menurut riwayat Tabari, konflik pribadi antara Al-Manshur dengan Abu Muslim sudah terjadi sejak masa pemerintahan As-Saffah. Ketika itu Abu Muslim menjadi orang sangat berpengaruh di Khurasan. Sedemikian sehingga rakyat Khurasan lebih mengenal dan mencintai Abu Muslim daripada khalifah kaum Muslim yang baru.
Buku The History of al-Tabari berkisah, dalam satu kesempatan, Al-Manshur berkunjung ke Khurasan. Ketika itu posisinya sudah menjadi seorang putra mahkota. Tujuan Al-Manshur ke Khurasan tidak lain untuk memastikan kesetiaan Abu Muslim kepada Bani Abbas, dan Abu Muslim pun dengan senang hati mengukuhkan kesetiaannya pada As-Saffah dan Dinasti Abbasiyah.
Hanya saja, dalam proses kunjungan tersebut, Abu Muslim justru memperlakukan Al-Manshur setara, layaknya koleganya. Bukan sosok penting yang dihormati layaknya seorang putra mahkota.
Baca juga: Leluhur Dinasti Abbasiyah, Paman Nabi yang Wafat di Bulan Rajab
Hal ini kemudian menyebabkan Al-Manshur tersinggung luar biasa. Sampai-sampai ketika dia kembali dari Khurasan, dia memohon pada As-Saffah agar diizinkan untuk membunuhnya. Tapi hal ini mampu dicegah oleh As-Saffah.
Di samping karena mengingat jasa Abu Muslim dalam revolusi Abbasiyah, As-Saffah juga mempertimbangkan pengaruh Abu Muslim yang luar biasa di tengah masyarakat. Meski begitu, kecurigaan Bani Abbas terhadap popularitas Abu Muslim kian hari kian besar.
Pada musim haji tahun 136 H, Abu Ja’far diperintahkan untuk memimpin jamaah haji. Pada saat bersamaan, Abu Muslim bertemu dengan As-Saffah dan memohon izin agar diperbolehkan memimpin jamaah haji.
Dia membawa sekitar 8000 pasukan bersama. Tapi ketika permohonan itu sampai, As-Safah sudah terlanjur menjatuhkan pilihannya pada Al-Manshur. Hal ini membuat kecewa Abu Muslim. Karena bagi Abu Muslim, musim haji adalah momentum yang tepat untuk meningkatkan popularitasnya di tengah kaum Muslim. Dan kedudukan sebagai pemimpin jamaah haji, adalah kedudukan paling strategis.
Ketika pada akhir tahun 136 H, berita kematian As-Saffah datang Al-Anbar. Dalam wasiatnya, As-Saffah meminta semua orang segera memberikan baiat kepada Al-Manshur. Abu Muslim yang mendengar berita ini, dengan setengah hati memberikan baiatnya pada Al-Manshur.
Sebaliknya, Al-Manshur pun merasa tidak yakin dengan kesetiaan Abu Muslim kepadanya. Maka demikianlah, sejak saat itu, hubungan kedua orang terpenting dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah itu bak api dalam sekam.
Baca juga: Nenek Moyang Dinasti Abbasiyah: Abdullah Berjuluk Juru Bicara Al-Qur'an
Pemberontakan Abdullah Ali
Al-Manshur merasa kursi kekuasaannya tidak akan pernah tenang selama Abu Muslim masih eksis dengan pengaruh dan kekuatannya yang demikian besar di kalangan pendukung Bani Abbas. Dengan kata lain, Abu Muslim untuk saat ini adalah satu-satunya orang yang paling berpotensi mendelegitimasi posisinya sebagai khalifah. Dan ini tidak bisa dibiarkan.
Lihat Juga :