Kisah Abu Bakar Menghadapi Para Pembangkang Zakat yang Menyerbu Madinah
Rabu, 20 April 2022 - 20:40 WIB
loading...
A
A
A
Khalifah Abu Bakar dan kaum Muslimin yang lain malam itu tidak tidur. Menjelang akhir malam beliau keluar memimpin kaum muslimin dengan mengatur barisan sayap kanan dan kiri serta barisan belakang, dan cepat-cepat berangkat.
Begitu terbit fajar tanpa dirasakan dan tanpa diketahui musuh, mereka sudah berada di daerah lawan itu. Bagaimana mereka akan tahu, karena mereka sudah begitu puas dengan kemenangan yang mereka peroleh dan malam itu mereka tidur nyenyak.
Pihak Muslimin sudah menghunus pedang berhadapan dengan musuh, yang kini juga menyerang dalam ketakutan. Mereka lari tunggang langgang. Sampai ketika matahari sudah mulai memancarkan sinarnya, mereka masih berlarian tanpa melihat ke belakang lagi.
Tetapi Khalifah Abu Bakar terus mengejar mereka sampai ke Zul Qassah dan para pembangkang itu terus berlari. Sampai di situ mereka dibiarkan lari dan Khalifah Abu Bakar kembali ke markasnya di tempat itu juga.
Nu'man bin Muqarrin pimpinan barisan kanan bersama beberapa orang ditempatkan di daerah itu untuk mengusir mereka yang bermaksud menyerang Khalifah Abu Bakar tetapi mereka sudah dipatahkan.
Baca juga: Mempercepat Membayar Zakat Fitrah, Bolehkah?
Seperti Perang Badar
Muhammad Husain Haikal mengingatakan di sini orang harus merenung sejenak sebagai tanda kagum terhadap Khalifah Abu Bakar, dengan imannya yang begitu kuat, dengan ketabahan dan keteguhan hatinya.
Sikap itu mengingatkan kita pada sikap Rasulullah SAW. Sungguh agung ekspedisi Abu Bakar yang pertama ini, tak ubahnya seperti agungnya perang Badr. Dalam perang Badr itu jumlah pihak Muslimin yang dipimpin Nabi Muhammad tidak lebih dari tiga ratus orang, berhadapan dengan kekuatan musyrik Makkah yang jumlahnya lebih dari seribu orang.
Orang-orang Madinah ini terdiri dari tentara dan bukan tentara, dipimpin oleh Khalifah Abu Bakar dalam jumlah kecil, berhadapan dengan sebuah gabungan besar terdiri dari Abs, Zubyan, Gatafan dan kabilah-kabilah lain.
Ketika itu Nabi Muhammad berbenteng iman dan iman sahabat-sahabatnya, dan dengan pertolongan Allah kepada mereka dalam menghadapi kaum musyrik.
Di sini pun Abu Bakar berbentengkan imannya dan iman para sahabat dan memperoleh kemenangan seperti kemenangan yang diperoleh Rasulullah. Kemenangan ini menanamkan pengaruh besar ke dalam hati kaum Muslimin.
Haekal mengatakan kekaguman orang kepada Abu Bakar dalam peristiwa ini memang pada tempatnya. Sejak semula ia sudah bertekad untuk tidak meninggalkan apa pun yang dikerjakan oleh Rasulullah. “Kalau memang itu pendiriannya yang sudah tak dapat ditawar-tawar lagi, tidak heran jika segala tawar-menawar yang berhubungan dengan ketentuan Allah dalam Qur'an ditolaknya,” tutur Haekal.
Setiap ada permintaan agar beliau mau mengalah mengenai sesuatu yang oleh Rasulullah sendiri tidak akan dilakukannya, orang akan selalu ingat pada kata-kata abadi yang pernah diucapkan Rasulullah: "Demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah Yang akan membuktikan kemenangan itu: di tanganku, atau aku binasa karenanya."
Ini juga yang dilakukan Abu Bakar ketika sahabat-sahabatnya memintanya ia mengubah sikap dalam pengiriman pasukan Usamah. Dan ini juga sikapnya ketika orang-orang Arab minta dikecualikan dalam hal kewajiban zakat.
Begitu terbit fajar tanpa dirasakan dan tanpa diketahui musuh, mereka sudah berada di daerah lawan itu. Bagaimana mereka akan tahu, karena mereka sudah begitu puas dengan kemenangan yang mereka peroleh dan malam itu mereka tidur nyenyak.
Pihak Muslimin sudah menghunus pedang berhadapan dengan musuh, yang kini juga menyerang dalam ketakutan. Mereka lari tunggang langgang. Sampai ketika matahari sudah mulai memancarkan sinarnya, mereka masih berlarian tanpa melihat ke belakang lagi.
Tetapi Khalifah Abu Bakar terus mengejar mereka sampai ke Zul Qassah dan para pembangkang itu terus berlari. Sampai di situ mereka dibiarkan lari dan Khalifah Abu Bakar kembali ke markasnya di tempat itu juga.
Nu'man bin Muqarrin pimpinan barisan kanan bersama beberapa orang ditempatkan di daerah itu untuk mengusir mereka yang bermaksud menyerang Khalifah Abu Bakar tetapi mereka sudah dipatahkan.
Baca juga: Mempercepat Membayar Zakat Fitrah, Bolehkah?
Seperti Perang Badar
Muhammad Husain Haikal mengingatakan di sini orang harus merenung sejenak sebagai tanda kagum terhadap Khalifah Abu Bakar, dengan imannya yang begitu kuat, dengan ketabahan dan keteguhan hatinya.
Sikap itu mengingatkan kita pada sikap Rasulullah SAW. Sungguh agung ekspedisi Abu Bakar yang pertama ini, tak ubahnya seperti agungnya perang Badr. Dalam perang Badr itu jumlah pihak Muslimin yang dipimpin Nabi Muhammad tidak lebih dari tiga ratus orang, berhadapan dengan kekuatan musyrik Makkah yang jumlahnya lebih dari seribu orang.
Orang-orang Madinah ini terdiri dari tentara dan bukan tentara, dipimpin oleh Khalifah Abu Bakar dalam jumlah kecil, berhadapan dengan sebuah gabungan besar terdiri dari Abs, Zubyan, Gatafan dan kabilah-kabilah lain.
Ketika itu Nabi Muhammad berbenteng iman dan iman sahabat-sahabatnya, dan dengan pertolongan Allah kepada mereka dalam menghadapi kaum musyrik.
Di sini pun Abu Bakar berbentengkan imannya dan iman para sahabat dan memperoleh kemenangan seperti kemenangan yang diperoleh Rasulullah. Kemenangan ini menanamkan pengaruh besar ke dalam hati kaum Muslimin.
Haekal mengatakan kekaguman orang kepada Abu Bakar dalam peristiwa ini memang pada tempatnya. Sejak semula ia sudah bertekad untuk tidak meninggalkan apa pun yang dikerjakan oleh Rasulullah. “Kalau memang itu pendiriannya yang sudah tak dapat ditawar-tawar lagi, tidak heran jika segala tawar-menawar yang berhubungan dengan ketentuan Allah dalam Qur'an ditolaknya,” tutur Haekal.
Setiap ada permintaan agar beliau mau mengalah mengenai sesuatu yang oleh Rasulullah sendiri tidak akan dilakukannya, orang akan selalu ingat pada kata-kata abadi yang pernah diucapkan Rasulullah: "Demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah Yang akan membuktikan kemenangan itu: di tanganku, atau aku binasa karenanya."
Ini juga yang dilakukan Abu Bakar ketika sahabat-sahabatnya memintanya ia mengubah sikap dalam pengiriman pasukan Usamah. Dan ini juga sikapnya ketika orang-orang Arab minta dikecualikan dalam hal kewajiban zakat.
Lihat Juga :