Kisah Rasulullah SAW Dibelah Dadanya, Tak Ada Darah dan Rasa Sakit
Kamis, 05 Mei 2022 - 10:05 WIB
loading...
Pembelahan dada Rasulullah SAW yang mulia dimaksudkan untuk menyucikan beliau dan mencapai derajat kesempurnaan. Foto ilustrasi/Ist
A
A
A
Kisah pembelahan dada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam (SAW) yang mulia perlu diketahui umat muslim. Bagaimana prosesnya dan apa maksud pembedahan dada Baginda mulia tersebut, berikut ulasannya.
Allah Ta'ala menceritakan pembelahan dada Rasulullah SAW dalam Al-Qur'an Surat Al-Insyirah ayat pertama berikut:
Artinya: "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?" (QS Al-Insyirah Ayat 1)
Menurut riwayat, Baginda Rasulullah mengalami tiga kali pembelahan dada. Pertama, dilakukan saat beliau kanak-kanak agar terlindung dari godaan setan dan penyakit hati. Kedua, pembedahan ketika beliau diutus sebagai Rasul. Pembedahan ketiga terjadi ketika Nabi hendak Mi'raj ke langit.
Ketiga peristiwa ini demi menyucikan beliau dan mencapai derajat kesempurnaan. Sebagaimana Allah telah melapangkan dada Rasulullah SAW, demikian pula Allah menjadikan syariatnya luas, lapang, toleran, mudah, tiada kesulitan dan tiada beban serta tiada kesempitan padanya.
Berikut kisah pembelahan dada Rasulullah SAW saat beliau menginjak usia 10 tahun. Dalam tafsir Ibnu Katsir, Abdullah ibnu Imam Ahmad menceritakan riwayat dengan sanad bersambung yang bersumber dari Ubay ibnu Ka'b, bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling berani menanyakan kepada Rasulullah SAW tentang berbagai masalah yang tidak ada seorang pun berani menanyakannya kepada Nabi.
Abu Hurairah bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah yang mula-mula engkau lihat dari urusan kenabian ini?" Rasulullah SAW duduk tegak dan menjawab: "Sesungguhnya engkau telah menanyakan hal yang berbobot, hai Abu Hurairah! Sesungguhnya ketika usiaku menginjak 10 tahun lebih beberapa bulan, aku berada di padang Sahara. Tiba-tiba aku mendengar pembicaraan di atas kepalaku, dan ternyata ada seorang laki-laki yang berbicara kepada laki-laki lainnya, "Apakah orang ini adalah dia?"
Maka keduanya datang menyambutku dengan penampilan wajah yang sama sekali belum pernah kulihat sebelumnya. Dan sama sekali belum pernah pula aku melihat arwah seperti itu sebelumnya. Dan belum pernah pula aku melihat pakaian yang dikenakannya pernah dikenakan oleh seseorang.
Keduanya datang kepadaku dengan berjalan kaki, hingga masing-masing dari keduanya memegang kedua lenganku, tetapi anehnya aku tidak merasa sentuhan tangan keduanya. Salah seorang berkata kepada yang lainnya: 'Rebahkanlah dia.' Lalu keduanya merebahkan diriku tanpa paksa dan tanpa sulit.
Kemudian salah seorangnya berkata kepada yang lainnya: "Belahlah dadanya," maka salah seorangnya menurut penglihatanku membelah dadaku tanpa ada darah yang mengalir dan tanpa rasa sakit.
Allah Ta'ala menceritakan pembelahan dada Rasulullah SAW dalam Al-Qur'an Surat Al-Insyirah ayat pertama berikut:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
Artinya: "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?" (QS Al-Insyirah Ayat 1)
Menurut riwayat, Baginda Rasulullah mengalami tiga kali pembelahan dada. Pertama, dilakukan saat beliau kanak-kanak agar terlindung dari godaan setan dan penyakit hati. Kedua, pembedahan ketika beliau diutus sebagai Rasul. Pembedahan ketiga terjadi ketika Nabi hendak Mi'raj ke langit.
Ketiga peristiwa ini demi menyucikan beliau dan mencapai derajat kesempurnaan. Sebagaimana Allah telah melapangkan dada Rasulullah SAW, demikian pula Allah menjadikan syariatnya luas, lapang, toleran, mudah, tiada kesulitan dan tiada beban serta tiada kesempitan padanya.
Berikut kisah pembelahan dada Rasulullah SAW saat beliau menginjak usia 10 tahun. Dalam tafsir Ibnu Katsir, Abdullah ibnu Imam Ahmad menceritakan riwayat dengan sanad bersambung yang bersumber dari Ubay ibnu Ka'b, bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling berani menanyakan kepada Rasulullah SAW tentang berbagai masalah yang tidak ada seorang pun berani menanyakannya kepada Nabi.
Abu Hurairah bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah yang mula-mula engkau lihat dari urusan kenabian ini?" Rasulullah SAW duduk tegak dan menjawab: "Sesungguhnya engkau telah menanyakan hal yang berbobot, hai Abu Hurairah! Sesungguhnya ketika usiaku menginjak 10 tahun lebih beberapa bulan, aku berada di padang Sahara. Tiba-tiba aku mendengar pembicaraan di atas kepalaku, dan ternyata ada seorang laki-laki yang berbicara kepada laki-laki lainnya, "Apakah orang ini adalah dia?"
Maka keduanya datang menyambutku dengan penampilan wajah yang sama sekali belum pernah kulihat sebelumnya. Dan sama sekali belum pernah pula aku melihat arwah seperti itu sebelumnya. Dan belum pernah pula aku melihat pakaian yang dikenakannya pernah dikenakan oleh seseorang.
Keduanya datang kepadaku dengan berjalan kaki, hingga masing-masing dari keduanya memegang kedua lenganku, tetapi anehnya aku tidak merasa sentuhan tangan keduanya. Salah seorang berkata kepada yang lainnya: 'Rebahkanlah dia.' Lalu keduanya merebahkan diriku tanpa paksa dan tanpa sulit.
Kemudian salah seorangnya berkata kepada yang lainnya: "Belahlah dadanya," maka salah seorangnya menurut penglihatanku membelah dadaku tanpa ada darah yang mengalir dan tanpa rasa sakit.
Lihat Juga :