Kisah Khalifah Al-Mahdi Membangun Konspirasi Penggulingan Putra Mahkota Isa Bin Musa
Rabu, 18 Mei 2022 - 17:42 WIB
loading...
A
A
A
Sambil mengucapkan kalimat tersebut, kedua matanya berkaca-kaca. Kemudian dia melanjutkan:
“Saudara-saudara, taatlah kalian kepada kami saat sendiri dan saat bersama-sama. Niscaya kalian akan selamat dan mendapat balasan yang baik."
"Rendahkanlah ‘sayap’ ketaatan kalian untuk orang yang menegakkan keadilan, mengangkat beban dari kalian, serta menyebarkan kedamaian di antara kalian sebagaimana dikehendaki Allah. Demi Allah, aku akan menghabiskan umur antara menjatuhkan hukuman dan melakukan kebaikan kepada kalian.”
Demikianlah pidato pelantikan yang disampaikan Al-Mahdi sebagaimana dikutip dari Imam As-Suyuthi.
Baca juga: Nenek Moyang Dinasti Abbasiyah: Abdullah Berjuluk Juru Bicara Al-Qur'an
Amnesti Umum
Menurut catatan beberapa sejarawan, Al-Mahdi tergolong lebih bijak dibandingkan pendahulunya dalam mengelola pemerintahan. Sebagaimana yang diriwayatkan Tabari, bahwa hal pertama yang dilakukan oleh Al-Mahdi di tahun pertamanya memerintah adalah membebaskan semua tahanan dan tawanan yang dipenjara Al-Mashur.
Amnesti umum ini tidak menyangkut orang-orang yang terbukti menumpahkan darah, koruptor dan orang-orang yang masih memiliki sangkutan/sengketa dengan orang lain.
Beberapa yang dibebaskan dalam amnesti umum ini adalah kelompok yang dulunya mendukung pemberontakan Muhammad dan Ibrahim. Mereka berdua adalah anak keturunan Hasan bin Ali bin Abu Thalib.
Di antara mereka yang dibebaskan adalah Ya’qub bin Dawud dan putra dari Ibrahim, yaitu Hasan bin Ibrahim bin Abdallah bin Hasan bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Menurut Akbar Shah Najeebabadi dalam buku berjudul "The History Of Islam" setelah dibebaskan, kedua orang ini (Ya’qub dan Hasan) menjalin hubungan yang dekat dengan Al-Mahdi. Lama kelamaan, keduanya mendapat kepercayaan dan mendapat jabatan di dalam pemerintahan.
Awalnya, proses kedekatan mereka berlangsung sangat alamiah. Namun seiring berjalannya waktu, persahabatan ini ternyata memiliki dampak politik yang sangat signifikan. Di mana para pendukung keluarga Ali bin Abi Thalib yang tadinya menjadi oposisi Dinasti Abbasiyah, secara perlahan sebagian besarnya bergabung dan mengendorkan determinasinya.
Baca juga: Begini Kondisi Maju Pesatnya Dinasti Abbasiyah di Era Abu Nawas
Penggulingan Putra Mahkota
Sayangnya, dalam perjalanannya, Al-Mahdi membuat keputusan kontroversial dengan, lagi-lagi, menyingkirkan Isa bin Musa dari kedudukan sebagai putra mahkota.
Awalnya berita ini hanya berupa desas desus. Tapi kemudian datanglah surat dari khalifah yang memintanya untuk datang ke Baghdad menghadap khalifah. Mengetahui maksud dari pertemuan tersebut, Isa bin Musa hanya diam, dan tidak menggubris perintah khalifah. Lalu tiba lagi surat panggilan berikutnya, tapi Isa bin Musa tetap merespon dingin. Hingga kemudian diutuslah salah satu tokoh terkemukan Bani Abbas yang juga paman Al-Mahdi, Abbas bin Muhammad, kepada Isa bin Musa.
Dia mendatangi Isa sambil membawa surat dari khalifah yang isinya membujuk agar Isa bersedia datang ke Baghdad. Tapi lagi-lagi Isa bersikeras menolak. Tapi kali ini dia bersedia menulis surat balasan kepada khalifah yang isinya dia tidak bersedia datang karena satu dan lain alasan.
“Saudara-saudara, taatlah kalian kepada kami saat sendiri dan saat bersama-sama. Niscaya kalian akan selamat dan mendapat balasan yang baik."
"Rendahkanlah ‘sayap’ ketaatan kalian untuk orang yang menegakkan keadilan, mengangkat beban dari kalian, serta menyebarkan kedamaian di antara kalian sebagaimana dikehendaki Allah. Demi Allah, aku akan menghabiskan umur antara menjatuhkan hukuman dan melakukan kebaikan kepada kalian.”
Demikianlah pidato pelantikan yang disampaikan Al-Mahdi sebagaimana dikutip dari Imam As-Suyuthi.
Baca juga: Nenek Moyang Dinasti Abbasiyah: Abdullah Berjuluk Juru Bicara Al-Qur'an
Amnesti Umum
Menurut catatan beberapa sejarawan, Al-Mahdi tergolong lebih bijak dibandingkan pendahulunya dalam mengelola pemerintahan. Sebagaimana yang diriwayatkan Tabari, bahwa hal pertama yang dilakukan oleh Al-Mahdi di tahun pertamanya memerintah adalah membebaskan semua tahanan dan tawanan yang dipenjara Al-Mashur.
Amnesti umum ini tidak menyangkut orang-orang yang terbukti menumpahkan darah, koruptor dan orang-orang yang masih memiliki sangkutan/sengketa dengan orang lain.
Beberapa yang dibebaskan dalam amnesti umum ini adalah kelompok yang dulunya mendukung pemberontakan Muhammad dan Ibrahim. Mereka berdua adalah anak keturunan Hasan bin Ali bin Abu Thalib.
Di antara mereka yang dibebaskan adalah Ya’qub bin Dawud dan putra dari Ibrahim, yaitu Hasan bin Ibrahim bin Abdallah bin Hasan bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Menurut Akbar Shah Najeebabadi dalam buku berjudul "The History Of Islam" setelah dibebaskan, kedua orang ini (Ya’qub dan Hasan) menjalin hubungan yang dekat dengan Al-Mahdi. Lama kelamaan, keduanya mendapat kepercayaan dan mendapat jabatan di dalam pemerintahan.
Awalnya, proses kedekatan mereka berlangsung sangat alamiah. Namun seiring berjalannya waktu, persahabatan ini ternyata memiliki dampak politik yang sangat signifikan. Di mana para pendukung keluarga Ali bin Abi Thalib yang tadinya menjadi oposisi Dinasti Abbasiyah, secara perlahan sebagian besarnya bergabung dan mengendorkan determinasinya.
Baca juga: Begini Kondisi Maju Pesatnya Dinasti Abbasiyah di Era Abu Nawas
Penggulingan Putra Mahkota
Sayangnya, dalam perjalanannya, Al-Mahdi membuat keputusan kontroversial dengan, lagi-lagi, menyingkirkan Isa bin Musa dari kedudukan sebagai putra mahkota.
Awalnya berita ini hanya berupa desas desus. Tapi kemudian datanglah surat dari khalifah yang memintanya untuk datang ke Baghdad menghadap khalifah. Mengetahui maksud dari pertemuan tersebut, Isa bin Musa hanya diam, dan tidak menggubris perintah khalifah. Lalu tiba lagi surat panggilan berikutnya, tapi Isa bin Musa tetap merespon dingin. Hingga kemudian diutuslah salah satu tokoh terkemukan Bani Abbas yang juga paman Al-Mahdi, Abbas bin Muhammad, kepada Isa bin Musa.
Dia mendatangi Isa sambil membawa surat dari khalifah yang isinya membujuk agar Isa bersedia datang ke Baghdad. Tapi lagi-lagi Isa bersikeras menolak. Tapi kali ini dia bersedia menulis surat balasan kepada khalifah yang isinya dia tidak bersedia datang karena satu dan lain alasan.
Lihat Juga :