TGB: Menerima Keragaman dalam Islam Itu Otentik Bukan Siasat

Selasa, 31 Mei 2022 - 15:32 WIB
loading...
TGB: Menerima Keragaman...
Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Indonesia TGB HM Zainul Majdi mengatakan, keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia adalah anugerah. Foto/MNC Media
A A A
JAKARTA - Keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia adalah anugerah. Keragaman ini pun harus disyukuri dan diterima dengan baik.

Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Indonesia TGB HM Zainul Majdi mengatakan, menerima keragaman dalam Islam sesuatu yang otentik, bukan siasat ataupun strategi. “Menghormati keragaman ini bukan hanya sebagai bangsa supaya aman dan damai,” katanya, dalam silaturahmi TGB Center di Mataram, Senin (30/5/2022).

Dijelaskan TGB, toleransi itu otentik dan genuine dalam Islam. Toleransi bukan sesuatu yang pragmatis, hari ini dilakukan karena ada kebutuhan, kemudian di lain kesempatan tak butuh lagi toleransi. “Bukan seperti itu. Sikap toleran itu bagian yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad,” sambungnya.

Baca juga: TGB Tegaskan LGBT Harus Ditolak karena Bertentangan dengan Agama

Doktor Ahli Tafsir Al Qur’an ini melanjutkan, Nabi Muhammad begitu menghormati keragaman. Bicara prilaku sosial dalam keputusan nabi tak sekadar baik dan adil, ada afirmasi sebagai peneguhan. “Misalnya, orang Yahudi tinggal bersama Rrasul. Sirah mencatat katib (sekretaris) beliau itu Yahudi. Ya, kalau Nabi presiden, sesnegnya Yahudi,” bebernya.

Baca juga: Peringatan Harkitnas, TGB: Mari Kita Perbanyak Perjumpaan

Hal lain yang dilakukan nabi mempersilakan Kristen Najran menggelar misa di Masjid Nabawi. Dikisahkan, umat Kristen Najran saat itu ingin berjumpa Nabi Muhammad, kemudian mereka tiba di waktu Asar dan harus beribadah. “Memang tak dapat diambil harfiah, tentu situasinya berbeda. Tapi ini menunjukkan, toleransi itu otentik, toleransi kebebasan beragam kuat dijaga dalam Islam. Kalau ada umat Islam membakar gereja, itu siapa nabinya,” sambung TGB.

TGB mengingatkan, jangan sampai karena urusan pribadinya terganggu, dianggap yang nonmuslim menyakiti. Kemudian dibawa hawa nafsu dan dendamnya hingga pada soal agama. “Urusan pribadi lalu kita seret-seret soal agama. Padahal sebenarnya tak ada urusan dengan itu (agama),” tutupnya.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Menelusuri Jejak Kehidupan...
Menelusuri Jejak Kehidupan Rasulullah di Museum Biografi Nabi Muhammad di Makkah
Kumpulan Kisah Nabi...
Kumpulan Kisah Nabi SAW di Bulan Ramadan, Dari Terima Wahyu Al Quran hingga Perintah Segerakan Berbuka Puasa
Kisah Hikmah : Berhala...
Kisah Hikmah : Berhala Bisa Bicara dan Menyampaikan Kebenaran Nabi Muhammad SAW
Tiga Makna Isra Mikraj...
Tiga Makna Isra Mikraj Menurut Abdul Mu'ti
Hukum Mengucapkan Selamat...
Hukum Mengucapkan Selamat pada Perayaan Agama Lain, Begini Kata Ustaz Adi Hidayat
Batas Toleransi Beragama...
Batas Toleransi Beragama yang Harus Dijaga, Begini Penjelasannya
Rekomendasi
Es Antartika Terus Mencair,...
Es Antartika Terus Mencair, Ilmuwan Ungkap Hal Menakutkan Ini
Cuaca Panas Ekstrem...
Cuaca Panas Ekstrem Panggang Jerman, Sungai Rhine Terancam Jadi Daratan
Hama Kutu Busuk Asia...
Hama Kutu Busuk Asia Mulai Merongrong Petani di Amerika dan Inggris
Artikel Terkini
Kapan Tahun Baru Islam...
Kapan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah?
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
3 Puasa Sunnah Muharram...
3 Puasa Sunnah Muharram yang Pahala Tidak Main-main!
Sebaik-baikya Puasa...
Sebaik-baikya Puasa Setelah Ramadan, Ternyata Puasa Muharram!
Wamenhaj Ungkap Dugaan...
Wamenhaj Ungkap Dugaan Penipuan Rp1,4 M Modus Dam dan Badal Haji
Larangan Menikah di...
Larangan Menikah di Bulan Suro: Bagaimana Pandangan Islam?
Infografis
Disegani Dunia, Ini...
Disegani Dunia, Ini 4 Peran Erdogan dalam Kebangkitan Islam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved