Hukum Berkurban untuk Orang Tua Menurut Gus Baha
Selasa, 14 Juni 2022 - 08:15 WIB
loading...
A
A
A
Sehingga karena niat itu, dia diganjar surga selamanya, karena dia membayangkan andaikan hidup di dunia selamanya akan tetap iman.
Orang kafir juga demikian. Kalau dia hidup ya akan kafir terus. Makanya kekafirannya, 80 tahun misalnya, mendapat hukuman di neraka lama sekali. Kira-kira seperti itu.
Makanya, kalau mayit yang tidak saleh, para ulama berdebat. Ibarat begini, ada mayit tidak pernah shalat, bahkan dulu mengkritik orang shalat. Terus mati, anaknya jadi orang saleh.
Anak itu tanya kepada saya: "Gus, bapakku aku qodhoi tidak?" Bapak anak ini tidak shalat, meng-qodhoi ya tidak kuat kan? Beda misalnya dengan kita punya bapak orang yang saleh.
Terkadang orang salah kaprah, "Bisa enggak amal sampai kepada mayit?" Sebenarnya di dunia ulama perdebatannya tidak pada masalah sampai tidaknya, tapi mayitnya ini siapa?
Kalau mayitnya orang saleh ya jelas dapat, karena Nabi bersabda:
مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا الى يوم القيمة
Artinya: "Orang baik kemudian mengajarkan kebaikan pasti dia dapat investasi kebaikan tersebut. Dan siapapun yang meniru dia, dia dapat sahamnya."
Itu tidak ada perbedaan antara NU, Muhammadiyah, dan Wahabi, semuanya sama. Yang debat itu yang tidak paham. (hehehe)
Haditsnya shahih. Siapa yang mensyariatkan kebaikan, maka kebaikan itu ditiru oleh orang setelahnya maka ia dapat kebaikan itu dan kebaikan orang yang meniru itu. Itu kan hadis shahih tidak ada perdebatan sama sekali.
Orang kafir juga demikian. Kalau dia hidup ya akan kafir terus. Makanya kekafirannya, 80 tahun misalnya, mendapat hukuman di neraka lama sekali. Kira-kira seperti itu.
Makanya, kalau mayit yang tidak saleh, para ulama berdebat. Ibarat begini, ada mayit tidak pernah shalat, bahkan dulu mengkritik orang shalat. Terus mati, anaknya jadi orang saleh.
Anak itu tanya kepada saya: "Gus, bapakku aku qodhoi tidak?" Bapak anak ini tidak shalat, meng-qodhoi ya tidak kuat kan? Beda misalnya dengan kita punya bapak orang yang saleh.
Terkadang orang salah kaprah, "Bisa enggak amal sampai kepada mayit?" Sebenarnya di dunia ulama perdebatannya tidak pada masalah sampai tidaknya, tapi mayitnya ini siapa?
Kalau mayitnya orang saleh ya jelas dapat, karena Nabi bersabda:
مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا الى يوم القيمة
Artinya: "Orang baik kemudian mengajarkan kebaikan pasti dia dapat investasi kebaikan tersebut. Dan siapapun yang meniru dia, dia dapat sahamnya."
Itu tidak ada perbedaan antara NU, Muhammadiyah, dan Wahabi, semuanya sama. Yang debat itu yang tidak paham. (hehehe)
Haditsnya shahih. Siapa yang mensyariatkan kebaikan, maka kebaikan itu ditiru oleh orang setelahnya maka ia dapat kebaikan itu dan kebaikan orang yang meniru itu. Itu kan hadis shahih tidak ada perdebatan sama sekali.
Lihat Juga :