Bohongi Prajurit Kerajaan, Abu Nawas Ditangkap dan Diborgol
Kamis, 25 Juni 2020 - 08:41 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga: Lapar Banget, Abu Nawas Membeli Semerbak Bau Masakan )
"Siapakah engkau ini? Berani sekali membohogi kami?" tanya salah seorang prajurit.
"Aku adalah abdi," jawab Abu Nawas, terkesan asal bicara.
Komandan dan para prajurit merasa geram dan marah. "Prajurit...tangkap dia!" perintah komandan kepada anak buahnya. "Engkau akan aku bawa ke panglima kami," kata komandan kepada Abu Nawas.
(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tuan Rumah dan Tamu )
Rupanya Abu Nawas dihadapkan ke panglima kerajaan. "Wahai Panglima, kami telah menangkap seorang pembohong yang berani membohongi pasukan kerajaan," kata komandan melaporkan.
Panglima bersikap biasa saja. Bahkan, dia memerintahkan kepada prajurit untuk melepaskan borgol di tangan Abu Nawas. Komandan dan para prajurit terkejut dan merasa heran, ada apa gerangan ini.
(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Semut dan Capung)
Setelah itu, panglima pun mendekati Abu Nawas. "Tuan Abu, maafkan perbuatan anak buahku di sini ya," kata panglima itu dengan sangat sopannya.
Panglima dan Abu Nawas sudah saling mengenal. Mereka seringkali bertemu ketika sang khalifah mengundangnya ke istana.
(Baca juga: Akal-Akalan Abu Nawas Menjebak Pencuri Profesional )
Betapa terkejutnya sang komandan dan para prajuritnya. Perasaan sombong dan congkak yang tadi menyelimuti mereka seakan berubah menjadi rasa takut.
"Siapakah engkau ini? Berani sekali membohogi kami?" tanya salah seorang prajurit.
"Aku adalah abdi," jawab Abu Nawas, terkesan asal bicara.
Komandan dan para prajurit merasa geram dan marah. "Prajurit...tangkap dia!" perintah komandan kepada anak buahnya. "Engkau akan aku bawa ke panglima kami," kata komandan kepada Abu Nawas.
(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tuan Rumah dan Tamu )
Rupanya Abu Nawas dihadapkan ke panglima kerajaan. "Wahai Panglima, kami telah menangkap seorang pembohong yang berani membohongi pasukan kerajaan," kata komandan melaporkan.
Panglima bersikap biasa saja. Bahkan, dia memerintahkan kepada prajurit untuk melepaskan borgol di tangan Abu Nawas. Komandan dan para prajurit terkejut dan merasa heran, ada apa gerangan ini.
(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Semut dan Capung)
Setelah itu, panglima pun mendekati Abu Nawas. "Tuan Abu, maafkan perbuatan anak buahku di sini ya," kata panglima itu dengan sangat sopannya.
Panglima dan Abu Nawas sudah saling mengenal. Mereka seringkali bertemu ketika sang khalifah mengundangnya ke istana.
(Baca juga: Akal-Akalan Abu Nawas Menjebak Pencuri Profesional )
Betapa terkejutnya sang komandan dan para prajuritnya. Perasaan sombong dan congkak yang tadi menyelimuti mereka seakan berubah menjadi rasa takut.
Lihat Juga :