Kisah Bijak Para Sufi: Semut dan Capung
Sabtu, 20 Juni 2020 - 06:10 WIB
loading...
Capung mengisap bunga. Foto/Ilustrasi/wallhere
A
A
A
SEEKOR semut dengan rencana tersusun di pikirannya, sedang mencari-cari madu ketika seekor capung hinggap pada kuntum bunga itu dan menghisap madunya. Capung itu sebentar-sebentar terbang pergi dan kembali lagi.
Kali ini Si Semut berkata, "Kau ini hidup tanpa usaha, juga tanpa rencana. Karena kau tidak punya tujuan nyata maupun cita-cita, apakah ciri utama dari hidupmu dan ke manakah akhirnya?'
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Membawa Sepatu
Jawab Si Capung, "Aku bahagia, dan aku bersenang-senang, itu cukup nyata dan bertujuan. Tujuanku adalah tanpa tujuan. Kau boleh berencana sesukamu; kau tak bisa meyakinkanku bahwa ada cara hidup yang lebih baik. Bagimu rencanamu, bagiku rencanaku." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Emas Keberuntungan )
Si Semut berpikir, 'Yang tampak olehku ternyata tak tampak olehnya. Ia tahu apa yang terjadi pada semut. Aku tahu apa yang terjadi pada capung. Baginya rencananya, bagiku rencanaku."
Si Semut pun berlalu, sebab ia telah memperingatkan sebisanya dalam situasi itu.
Baca juga: Hikayat Mistis: Bunglon dan Kelelawar
Hingga suatu ketika mereka bertemu lagi.
Si Semut menemukan kios tukang daging, dan dengan cerdik ia berdiri saja di bawah meja tempat daging, menunggu apa yang mungkin datang padanya.
Si Capung, begitu melihat daging merah dari atas, segera menukik dan hinggap di atasnya. Persis pada saat itu pisau tukang daging mengayun dan membelah capung itu menjadi dua.
Kali ini Si Semut berkata, "Kau ini hidup tanpa usaha, juga tanpa rencana. Karena kau tidak punya tujuan nyata maupun cita-cita, apakah ciri utama dari hidupmu dan ke manakah akhirnya?'
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Membawa Sepatu
Jawab Si Capung, "Aku bahagia, dan aku bersenang-senang, itu cukup nyata dan bertujuan. Tujuanku adalah tanpa tujuan. Kau boleh berencana sesukamu; kau tak bisa meyakinkanku bahwa ada cara hidup yang lebih baik. Bagimu rencanamu, bagiku rencanaku." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Emas Keberuntungan )
Si Semut berpikir, 'Yang tampak olehku ternyata tak tampak olehnya. Ia tahu apa yang terjadi pada semut. Aku tahu apa yang terjadi pada capung. Baginya rencananya, bagiku rencanaku."
Si Semut pun berlalu, sebab ia telah memperingatkan sebisanya dalam situasi itu.
Baca juga: Hikayat Mistis: Bunglon dan Kelelawar
Hingga suatu ketika mereka bertemu lagi.
Si Semut menemukan kios tukang daging, dan dengan cerdik ia berdiri saja di bawah meja tempat daging, menunggu apa yang mungkin datang padanya.
Si Capung, begitu melihat daging merah dari atas, segera menukik dan hinggap di atasnya. Persis pada saat itu pisau tukang daging mengayun dan membelah capung itu menjadi dua.
Lihat Juga :