Belajar Mengingat Kematian dari Hafshah binti Sirin
Rabu, 22 Juni 2022 - 14:20 WIB
loading...
Hafshah binti Sirin adalah sosok muslimah yang selalu mengingat mati dengan cara tidak pernah meninggalkan shalat dan rajin membawa kain kafan, sebagai pengingat bahwa kematian akan datang kapan saja pada dirinya. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Mengingat kematian juga merupakan salah cara hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Subahanhu wa ta’ala. Mereka yang senantiasa mengingat kematian akan mengontrol nafsu duniawinya. Bahwa tiap-tiap yang dilakukan di dunia pasti akan dipertanggungjawabkan kelak, sehingga mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu di dunia dengan melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat.
Kisah keteladanan dari cerminan sosok yang selalu mengingat kematian , bisa diambil dari sosok shahabiyat , yakni Hafshah binti Sirin. Muslimah yang dikenal sebagai tabi’in ahli ibadah. Selain itu, kemampuannya untuk mendalami Al Qur’an serta peka akan permasalahan membuat Hafshah dinilai juga sebagai ahli fiqih dan sering kali dimintai pendapat.
Baca juga: Mengingat Mati adalah Ibadah yang Mendapat Pahala
Hafshah adalah putri dari pasangan Sirin dan Shafiyah yang menikah saat Islam sudah berkembang di Madinah. Hafshah pun lahir pada masa kekhalifahan Ustman bin Affan, tepatnya pada tahun 31 Hijriyah. Kelahiran Hafshah pun diikuti oleh saudara-saudaranya, Muhammad, Yahya, Karimah, dan Ummu Sulaim. Adik Hafshah, Muhammad bin Sirin, juga dikenal sebagai salah satu ahli fiqih dan ahli tafsir.
Semenjak kecil, Hafshah memang gemar menuntut ilmu . Dia berusaha menggali ilmu dari para shahabat dan shahabiyat, termasuk dari Anas bin Malik. Hafshah bahkan sudah mampu menghafal Al-Qur'an saat usia 12 tahun. Kemampuannya tersebut juga yang membawa Hafshah menjadi salah satu tabi’in perempuan yang dimuliakan pada masa itu.
Hafshah binti Sirin selalu mengisi hidupnya dengan ibadah, kehormatan , kemuliaan dan kebaikan. Ia berusaha sekuat mungkin menggunakan waktunya untuk beribadah. Seorang bernama Mahdi bin Maimun berkata, “Hafshah binti Sirin tinggal selama 30 tahun tidak keluar dari tempat salatnya kecuali untuk menemui seseorang atau untuk menunaikan suatu keperluan.”
Diriwiayatkan, bahwa Hafshah memiliki tempat khusus yakni sebuah musala di dekat rumahnya. Ia akan masuk ke musala itu untuk melaksanakan salat Zuhur dan tidak keluar lagi hingga ia mengerjakan shalat Subuh esok harinya.
Biasanya seusai shalat Subuh, Hafshah tidak akan langsung meninggalkan musala. Ia akan mengerjakan shalat Dhuha baru kemudian keluar dan menyelesaikan urusannya. Ketika masuk waktu Zuhur, Hafshah akan kembali lagi ke musala itu. Menurut sebuah riwayat, hal tersebut hampir tak pernah ia tinggalkan selama 30 tahun.
Selalu Menyimpan Kain Kafan
Tak hanya shalat, Hafshah juga merupakan sosok yang rutin berpuasa. Diriwayatkan bahwa dirinya berpuasa setahun penuh kecuali pada hari-hari yang diharamkan berpuasa. Hafshah juga selalu menghidupi malam-malamnya dengan membaca setidaknya setengah Al Qur’an.
Kisah keteladanan dari cerminan sosok yang selalu mengingat kematian , bisa diambil dari sosok shahabiyat , yakni Hafshah binti Sirin. Muslimah yang dikenal sebagai tabi’in ahli ibadah. Selain itu, kemampuannya untuk mendalami Al Qur’an serta peka akan permasalahan membuat Hafshah dinilai juga sebagai ahli fiqih dan sering kali dimintai pendapat.
Baca juga: Mengingat Mati adalah Ibadah yang Mendapat Pahala
Hafshah adalah putri dari pasangan Sirin dan Shafiyah yang menikah saat Islam sudah berkembang di Madinah. Hafshah pun lahir pada masa kekhalifahan Ustman bin Affan, tepatnya pada tahun 31 Hijriyah. Kelahiran Hafshah pun diikuti oleh saudara-saudaranya, Muhammad, Yahya, Karimah, dan Ummu Sulaim. Adik Hafshah, Muhammad bin Sirin, juga dikenal sebagai salah satu ahli fiqih dan ahli tafsir.
Semenjak kecil, Hafshah memang gemar menuntut ilmu . Dia berusaha menggali ilmu dari para shahabat dan shahabiyat, termasuk dari Anas bin Malik. Hafshah bahkan sudah mampu menghafal Al-Qur'an saat usia 12 tahun. Kemampuannya tersebut juga yang membawa Hafshah menjadi salah satu tabi’in perempuan yang dimuliakan pada masa itu.
Hafshah binti Sirin selalu mengisi hidupnya dengan ibadah, kehormatan , kemuliaan dan kebaikan. Ia berusaha sekuat mungkin menggunakan waktunya untuk beribadah. Seorang bernama Mahdi bin Maimun berkata, “Hafshah binti Sirin tinggal selama 30 tahun tidak keluar dari tempat salatnya kecuali untuk menemui seseorang atau untuk menunaikan suatu keperluan.”
Diriwiayatkan, bahwa Hafshah memiliki tempat khusus yakni sebuah musala di dekat rumahnya. Ia akan masuk ke musala itu untuk melaksanakan salat Zuhur dan tidak keluar lagi hingga ia mengerjakan shalat Subuh esok harinya.
Biasanya seusai shalat Subuh, Hafshah tidak akan langsung meninggalkan musala. Ia akan mengerjakan shalat Dhuha baru kemudian keluar dan menyelesaikan urusannya. Ketika masuk waktu Zuhur, Hafshah akan kembali lagi ke musala itu. Menurut sebuah riwayat, hal tersebut hampir tak pernah ia tinggalkan selama 30 tahun.
Selalu Menyimpan Kain Kafan
Tak hanya shalat, Hafshah juga merupakan sosok yang rutin berpuasa. Diriwayatkan bahwa dirinya berpuasa setahun penuh kecuali pada hari-hari yang diharamkan berpuasa. Hafshah juga selalu menghidupi malam-malamnya dengan membaca setidaknya setengah Al Qur’an.
Lihat Juga :