Kisah Raja Romawi Nicephorus I Bersimpuh di Hadapan Khalifah Harun Al-Rasyid
Sabtu, 02 Juli 2022 - 09:28 WIB
loading...
A
A
A
Begitu selesai membaca surat ini, tubuh Harun Al-Rasyid bergetar karena marah. Tak seorang pun berani memandang wajahnya atau berbicara padanya. Pelan-pelan mereka semua menyingkir karena takut terkena amukannya. Dia lalu meminta tinta dan segera menulis surat balasan, yang isinya sebagai berikut:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Harun Al-Rasyid, pemimpin kaum Muslimin kepada Nicephorus, anjing Bizantium: Wahai anak dari perempuan kafir, aku telah membaca suratmu dengan jelas. Adapun jawabannya, akan kau saksikan sendiri, bukan kau dengar. Salam!”
Hari itu juga Harun Al-Rasyid menyiapkan bala tentaranya, lalu berderap menuju Bizantium. Dia ingin segera menghukum raja yang congkak ini. Setelah berjalan ribuan mil, akhirnya sampailah Khalifah Harun Al-Rasyid dan pasukannya di Anatolia barat daya. Tepatnya di depan gerbang benteng Hiraclia, yang merupakan wilayah perbatasan antara Bizantium dan Abbasiyah.
Tanpa ampun, Harun Al-Rasyid dan pasukannya mengamuk di wilayah itu. Dalam waktu singkat benteng tersebut berhasil dikuasai. Khalifah Harun merampas barang-barang berharga dan terbaik untuk dirinya sendiri. Kemudian dia memerintahkan penduduk di sana dibantai, kotanya dihancurkan, dan dibakar hingga tak bersisa.
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Hadi: Menjabat karena Dukungan Harun Al-Rasyid
Imam Al-Suyuthi mengatakan bahwa ini adalah perang yang sangat masyhur sekaligus penaklukan yang gemilang.
Melihat kota di perbatasannya hancur berantakan oleh satu serangan saja, Nicephorus I gemetar. Dia segera menulis surat dan memerintahkan pada kurirnya untuk membawanya kepada Khalifah Harun Al-Rasyid. Dalam surat tersebut, dia memohon berdamai dan bersedia terus membayar upeti tahunan pada Abbasiyah seperti biasanya. Khalifah Harun pun mengabulkan permohonan Nicephorus I dan memutuskan kembali ke Baghdad.
Tapi di tengah perjalanan pulang tersebut, datang kabar yang mengatakan bahwa Nicephorus I sudah melanggar janjinya. Para pengawalnya yang mengerti watak Harun Al-Rasyid, bingung cara menyampaikan hal ini. Karena mereka tau, bahwa Harun pasti akan marah besar. Jadi mereka membuat syair-syair yang menyiratkan masalah yang sedang terjadi.
Khalifah Harun yang sangat menyukai puisi itu, memiliki sensitivitas terhadap bahasa isyarat. Tidak butuh waktu lama, Harun langsung bertanya pada para pengawalnya, “Benarkah Nicephorus melakukan (yang kalian sampaikan) ini?” dan para pengawalnya pun diam, seraya meng-iya-kan apa yang terbersit di benak Khalifah Harun Al-Rasyid.
Seketika itu juga Khalifah Harun Al-Rasyid merasa sangat terpukul dengan pengkhianatan ini. Dia seolah tidak menyangka bahwa seorang kaisar dari imperium besar semacam Bizantium bisa bertindak sepengecut itu.
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Harun Al-Rasyid, pemimpin kaum Muslimin kepada Nicephorus, anjing Bizantium: Wahai anak dari perempuan kafir, aku telah membaca suratmu dengan jelas. Adapun jawabannya, akan kau saksikan sendiri, bukan kau dengar. Salam!”
Hari itu juga Harun Al-Rasyid menyiapkan bala tentaranya, lalu berderap menuju Bizantium. Dia ingin segera menghukum raja yang congkak ini. Setelah berjalan ribuan mil, akhirnya sampailah Khalifah Harun Al-Rasyid dan pasukannya di Anatolia barat daya. Tepatnya di depan gerbang benteng Hiraclia, yang merupakan wilayah perbatasan antara Bizantium dan Abbasiyah.
Tanpa ampun, Harun Al-Rasyid dan pasukannya mengamuk di wilayah itu. Dalam waktu singkat benteng tersebut berhasil dikuasai. Khalifah Harun merampas barang-barang berharga dan terbaik untuk dirinya sendiri. Kemudian dia memerintahkan penduduk di sana dibantai, kotanya dihancurkan, dan dibakar hingga tak bersisa.
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Hadi: Menjabat karena Dukungan Harun Al-Rasyid
Imam Al-Suyuthi mengatakan bahwa ini adalah perang yang sangat masyhur sekaligus penaklukan yang gemilang.
Melihat kota di perbatasannya hancur berantakan oleh satu serangan saja, Nicephorus I gemetar. Dia segera menulis surat dan memerintahkan pada kurirnya untuk membawanya kepada Khalifah Harun Al-Rasyid. Dalam surat tersebut, dia memohon berdamai dan bersedia terus membayar upeti tahunan pada Abbasiyah seperti biasanya. Khalifah Harun pun mengabulkan permohonan Nicephorus I dan memutuskan kembali ke Baghdad.
Tapi di tengah perjalanan pulang tersebut, datang kabar yang mengatakan bahwa Nicephorus I sudah melanggar janjinya. Para pengawalnya yang mengerti watak Harun Al-Rasyid, bingung cara menyampaikan hal ini. Karena mereka tau, bahwa Harun pasti akan marah besar. Jadi mereka membuat syair-syair yang menyiratkan masalah yang sedang terjadi.
Khalifah Harun yang sangat menyukai puisi itu, memiliki sensitivitas terhadap bahasa isyarat. Tidak butuh waktu lama, Harun langsung bertanya pada para pengawalnya, “Benarkah Nicephorus melakukan (yang kalian sampaikan) ini?” dan para pengawalnya pun diam, seraya meng-iya-kan apa yang terbersit di benak Khalifah Harun Al-Rasyid.
Seketika itu juga Khalifah Harun Al-Rasyid merasa sangat terpukul dengan pengkhianatan ini. Dia seolah tidak menyangka bahwa seorang kaisar dari imperium besar semacam Bizantium bisa bertindak sepengecut itu.
Lihat Juga :