Makna Tawaf, Sa'i dan Kehidupan Dunia
Jum'at, 08 Juli 2022 - 23:04 WIB
loading...
A
A
A
Sa'i dimulai dari arah bukit Sofa dengan melambaikan tangan ke arah Ka'bah dan membaca: "Bismillahi Allahu Akbar". Lalu membaca ayat: "Innasshofa walmarwata min sya'arillah. Faman hajjal awi'tamara falaa junaaha alaihi an yatthowafa bihima. Waman tathowwa’a khaeran fahuwa Khairun lahu. Innallaha syaakirun 'Aliim".
Mulailah berjalan hingga di antara dua lampu hijau di dinding. Pada batas ini pria yang Sa'i (wanita tidak) disunnahkan "harwalah" atau lari-lari kecil sambil membaca: "Laa ilaaha illallahu shodaqa wa'dahu, wanashora abdahu, wa 'aazza jundahu, wa hazamal ahzaaba wahdahu".
Setelah selesai lampu hijau kembali berjalan normal hingga menaiki Bukit Marwa seraya kembali membaca ayat yang dibaca di Sofa (innasshofa min sya'arillah...dst..) Lalu berbalik ke arah Sofa seraya angkat tangan ke arah Ka’bah sambil membaca seperti di away di bukit Sofa (Bismillah Allahu Akbar).
Demikian dilakukan hingga tujuh putaran yang nantinya akan berakhir di bukit Marwah.
Satu hal yang meringankan para jamaah yang Sa'i bahwasanya wudhu tidak disyaratkan. Walaupun para ulama kita menganjurkan untuk melakukan Sa'i dalam keadaan suci (wudhu).
Hal lain yang biasa keliru di kalangan jamaah Haji atau Umrah adalah mereka melakukan ibadah Sa'i yang dianggap Sa'i sunnah. Padahal dalam syariat tidak dikenal Sa'i sunnah.
Makna Tawaf dan Sa'i dalam Kehidupan
Jika Tawaf berarti berkeliling dan memastika bahwa Kakbah menjadi pusat perputaran yang sekaligus salah satu rukun Haji. Tawaf Sesungguhnya merupakan miniatur kehidupan yang berputar dari satu titik menuju ke titik yang sama.
Amalan ritual itu menggambarkan kehidupan manusia yang berasal dari satu titik لله (milik Allah) dan pada akhirnya kembali ke titik yang sama اليه. Kenyataan ini digambarkan dalam filsafat hidup seorang Mukmin:
انا لله وانا اليه راجعون
"Innaa Lillaahi wa innaa ilaihi raaji'un".
Selain pemahaman itu, juga satu hal yang krusial adalah bahwa selama perputaran dalam thawaf Ka’bah harus selalu menjadi pusat perputaran. Dalam realita kehidupan satu hal yang menentukan adalah pentingnya selalu menjadikan Allah sebagai 'Pusat" perputaran hidup. Kemana saja pergerakan hidup ini, kaya atau miskin, kuat atau lemah, sehat atau sakit, Allah harus selalu menjadi pusarannya.
Mulailah berjalan hingga di antara dua lampu hijau di dinding. Pada batas ini pria yang Sa'i (wanita tidak) disunnahkan "harwalah" atau lari-lari kecil sambil membaca: "Laa ilaaha illallahu shodaqa wa'dahu, wanashora abdahu, wa 'aazza jundahu, wa hazamal ahzaaba wahdahu".
Setelah selesai lampu hijau kembali berjalan normal hingga menaiki Bukit Marwa seraya kembali membaca ayat yang dibaca di Sofa (innasshofa min sya'arillah...dst..) Lalu berbalik ke arah Sofa seraya angkat tangan ke arah Ka’bah sambil membaca seperti di away di bukit Sofa (Bismillah Allahu Akbar).
Demikian dilakukan hingga tujuh putaran yang nantinya akan berakhir di bukit Marwah.
Satu hal yang meringankan para jamaah yang Sa'i bahwasanya wudhu tidak disyaratkan. Walaupun para ulama kita menganjurkan untuk melakukan Sa'i dalam keadaan suci (wudhu).
Hal lain yang biasa keliru di kalangan jamaah Haji atau Umrah adalah mereka melakukan ibadah Sa'i yang dianggap Sa'i sunnah. Padahal dalam syariat tidak dikenal Sa'i sunnah.
Makna Tawaf dan Sa'i dalam Kehidupan
Jika Tawaf berarti berkeliling dan memastika bahwa Kakbah menjadi pusat perputaran yang sekaligus salah satu rukun Haji. Tawaf Sesungguhnya merupakan miniatur kehidupan yang berputar dari satu titik menuju ke titik yang sama.
Amalan ritual itu menggambarkan kehidupan manusia yang berasal dari satu titik لله (milik Allah) dan pada akhirnya kembali ke titik yang sama اليه. Kenyataan ini digambarkan dalam filsafat hidup seorang Mukmin:
انا لله وانا اليه راجعون
"Innaa Lillaahi wa innaa ilaihi raaji'un".
Selain pemahaman itu, juga satu hal yang krusial adalah bahwa selama perputaran dalam thawaf Ka’bah harus selalu menjadi pusat perputaran. Dalam realita kehidupan satu hal yang menentukan adalah pentingnya selalu menjadikan Allah sebagai 'Pusat" perputaran hidup. Kemana saja pergerakan hidup ini, kaya atau miskin, kuat atau lemah, sehat atau sakit, Allah harus selalu menjadi pusarannya.
Lihat Juga :