Kisah-Kisah Sufi Idries Shah: Tiga Orang Darwis
Minggu, 28 Juni 2020 - 11:37 WIB
loading...
A
A
A
"Saya tak pernah mendengar tentang Jin itu," kata seseorang, "tetapi desa ini disebut Pusaran Air."
Darwis merubuhkan tubuhnya ke tanah dan berteriak, "Aku tak akan meninggalkan tempat ini sampai Jin Pusaran Air muncul di hadapanku!"
Dan Jin itu, yang sedang lewat dekat tempat itu, memutar langkahnya dan berkata, "Kami tidak menyukai orang asing di desa kami, darwis. Karena itu aku datang padamu. Nah, apa yang kau cari?" (Baca juga: Hikayat Mistis: Bunglon dan Kelelawar )
Aku mencari Pengetahuan Dalam, dan aku diberi tahu bahwa dalam keadaan tertentu kau bisa mengatakan padaku bagaimana mendapatkannya.
"Tentu, aku bisa," kata Si Jin. "Kau telah mengalami banyak hal. Yang harus kau lakukan tinggal mengucapkan ungkapan ini, menyanyikan lagu itu, melakukan tindakan itu. Kau pun nanti akan mendapatkan Pengetahuan Dalam."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kandil Besi)
Darwis itu mengucapkan terima kasih kepada Jin, lalu memulai latihannya. Bulan-bulan berlalu, kemudian bertahun-tahun, sampai akhirnya ia berhasil melakukan pengabdian dan ketaatannya secara benar. Orang-orang datang dan menyaksikannya dan kemudian meniru-nirunya, karena semangatnya, dan karena ia dikenal sebagai orang yang taat dan saleh.
Akhirnya Darwis itu mencapai Pengetahuan Dalam; jauh meninggalkan pengikut-pengikutnya yang setia, yang meneruskan cara-caranya. Tentu saja mereka itu tidak pernah mencapai Pengetahuan Dalam, sebab mereka memulai pada akhir telaah Sang Darwis. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Emas Keberuntungan )
Setelah itu, apabila ada pengikut-pengikut ketiga Darwis itu bertemu, salah seorang berkata, "Aku memiliki kaca Tataplah, dan kau akan mencapai Pengetahuan Dalam."
Yang lain menjawab, "Korbankan semangka, ia akan menolongmu seperti yang pernah terjadi atas Yak-Baba."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Membawa Sepatu )
Yang ketiga menyela, "Tak mungkin: Satu-satunya cara adalah tabah dalam mempelajari dan menyusun latihan tertentu, sembahyang, dan bekerja keras."
Ketika pada kenyataannya ketiga Darwis itu berhasil mencapai Pengetahuan Dalam, mereka bertiga mengetahui bahwa tak mampu menolong mereka yang telah mereka tinggalkan di belakang: seperti ketika seorang terbawa oleh air pasang dan melihat di darat ada seorang diburu singa, dan tidak bisa menolongnya.(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Saudagar dan Darwis Kristen )
Catatan
Petualangan-petualangan orang-orang ini nama-nama mereka berarti "satu," "dua" dan "tiga" --kadang-kadang diartikan sebagai ejekan terhadap agama yang lazim.
Kisah ini merupakan ringkasan sebuah kisah ajaran yang terkenal, "Apa yang Terjadi atas Mereka Bertiga." Kisah ini dianggap sebagai ciptaan guru Sufi, Murad Shami, kepala Kaum Muradi, yang meninggal tahun 1719. Para darwis yang menceritakannya menyatakan bahwa kisah ini mempunyai pesan dalam yang jauh lebih penting dalam hal-hal praktis, daripada arti yang diluarnya saja.
Dinukil dari Kisah-Kisah Sufi, Kumpulan kisah nasehat para guru sufi selama seribu tahun yang lampau oleh Idries Shah, terjemahan: Sapardi Djoko Damono.
Darwis merubuhkan tubuhnya ke tanah dan berteriak, "Aku tak akan meninggalkan tempat ini sampai Jin Pusaran Air muncul di hadapanku!"
Dan Jin itu, yang sedang lewat dekat tempat itu, memutar langkahnya dan berkata, "Kami tidak menyukai orang asing di desa kami, darwis. Karena itu aku datang padamu. Nah, apa yang kau cari?" (Baca juga: Hikayat Mistis: Bunglon dan Kelelawar )
Aku mencari Pengetahuan Dalam, dan aku diberi tahu bahwa dalam keadaan tertentu kau bisa mengatakan padaku bagaimana mendapatkannya.
"Tentu, aku bisa," kata Si Jin. "Kau telah mengalami banyak hal. Yang harus kau lakukan tinggal mengucapkan ungkapan ini, menyanyikan lagu itu, melakukan tindakan itu. Kau pun nanti akan mendapatkan Pengetahuan Dalam."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kandil Besi)
Darwis itu mengucapkan terima kasih kepada Jin, lalu memulai latihannya. Bulan-bulan berlalu, kemudian bertahun-tahun, sampai akhirnya ia berhasil melakukan pengabdian dan ketaatannya secara benar. Orang-orang datang dan menyaksikannya dan kemudian meniru-nirunya, karena semangatnya, dan karena ia dikenal sebagai orang yang taat dan saleh.
Akhirnya Darwis itu mencapai Pengetahuan Dalam; jauh meninggalkan pengikut-pengikutnya yang setia, yang meneruskan cara-caranya. Tentu saja mereka itu tidak pernah mencapai Pengetahuan Dalam, sebab mereka memulai pada akhir telaah Sang Darwis. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Emas Keberuntungan )
Setelah itu, apabila ada pengikut-pengikut ketiga Darwis itu bertemu, salah seorang berkata, "Aku memiliki kaca Tataplah, dan kau akan mencapai Pengetahuan Dalam."
Yang lain menjawab, "Korbankan semangka, ia akan menolongmu seperti yang pernah terjadi atas Yak-Baba."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Membawa Sepatu )
Yang ketiga menyela, "Tak mungkin: Satu-satunya cara adalah tabah dalam mempelajari dan menyusun latihan tertentu, sembahyang, dan bekerja keras."
Ketika pada kenyataannya ketiga Darwis itu berhasil mencapai Pengetahuan Dalam, mereka bertiga mengetahui bahwa tak mampu menolong mereka yang telah mereka tinggalkan di belakang: seperti ketika seorang terbawa oleh air pasang dan melihat di darat ada seorang diburu singa, dan tidak bisa menolongnya.(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Saudagar dan Darwis Kristen )
Catatan
Petualangan-petualangan orang-orang ini nama-nama mereka berarti "satu," "dua" dan "tiga" --kadang-kadang diartikan sebagai ejekan terhadap agama yang lazim.
Kisah ini merupakan ringkasan sebuah kisah ajaran yang terkenal, "Apa yang Terjadi atas Mereka Bertiga." Kisah ini dianggap sebagai ciptaan guru Sufi, Murad Shami, kepala Kaum Muradi, yang meninggal tahun 1719. Para darwis yang menceritakannya menyatakan bahwa kisah ini mempunyai pesan dalam yang jauh lebih penting dalam hal-hal praktis, daripada arti yang diluarnya saja.
Dinukil dari Kisah-Kisah Sufi, Kumpulan kisah nasehat para guru sufi selama seribu tahun yang lampau oleh Idries Shah, terjemahan: Sapardi Djoko Damono.
(mhy)
Lihat Juga :