Bicara Agama Tanpa Dalil Sahih Jadi Faktor Penyebab Munculnya Penyimpangan
Jum'at, 05 Agustus 2022 - 15:00 WIB
loading...
A
A
A
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam menjelaskan,
“Terkadang seorang hamba mengucapkan suatu kalimat tanpa ia perhatikan dampaknya, ternyata mengakibatkan dirinya terjerumus ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Pendapat yang sama juga dikemukakan Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA. Menurutnya, saat ini banyak praktik bicara agama tanpa ilmu dan ini perlu diwaspadai. Jika dalam dunia medis dikenal adanya malapraktik, dalam ranah para ustaz (asatid) pun juga ada hal serupa. Bahkan sejak empat belas abad lalu, Nabi kita Shallallahu ’alaihi wa sallam sudah mengisyaratkan akan adanya fenomena tersebut.
“Sesungguhnya Allah tidak melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan cara mencabut ilmu tersebut dari para hamba-Nya, namun Allah akan melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan meninggalnya para ulama. Hingga jika tidak tersisa seorang ulamapun, para manusia menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai panutan, mereka menjadi rujukan lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Di antara praktik da'i yang asbun atau asal bunyi yang belakangan ini adalah mereka yang berpenampilan alim tapi cenderung memfitnah sesama muslim. Dengan berbekal gosip, mereka merusak kehormatan para ulama, ustadz dan saudara-saudara mereka seakidah. Hanya kepada Allah saja kita mengadu. Padahal, jauh-jauh hari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan :
“Barang siapa membicarakan mukmin dengan sesuatu yang tidak benar adanya; niscaya Allah akan benamkan dia ke dalam kubangan nanahnya para penghuni neraka, hingga ia bertaubat dari perkataan tersebut“. (HR. Abu Dawud).
Terkait masalah ini, cukuplah hadis Rasulullah menjadi peringatan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dalam hadisnya: “Di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan kunci-kunci yang menutup berbagai macam keburukan. Namun diantara manusia juga ada yang menjadi kunci yang menutup kebaikan dan membuka berbagai macam keburukan“.
Karena itulah, jangan sampai kita menjadi hamba yang ternyata kita menjadi orang yang membuka pintu keburukan dan menutup pintu kebaikan. Jauhi bicara yang asal bunyi dan hindari gosip. Kita dilarang untuk mendahului Allah dan RasulNya, kita dilarang untuk lebih mengedepankan perkataan fulan dari pada pendapat Allah dan RasulNya. Karena kewajiban kita adalah senantiasa tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya.
Baca juga: Mengapa Kaum Wanita Dianjurkan Memperbanyak Sedekah dan Istighfar? Begini Penjelasannya
Wallahu A'lam
“Terkadang seorang hamba mengucapkan suatu kalimat tanpa ia perhatikan dampaknya, ternyata mengakibatkan dirinya terjerumus ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Pendapat yang sama juga dikemukakan Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA. Menurutnya, saat ini banyak praktik bicara agama tanpa ilmu dan ini perlu diwaspadai. Jika dalam dunia medis dikenal adanya malapraktik, dalam ranah para ustaz (asatid) pun juga ada hal serupa. Bahkan sejak empat belas abad lalu, Nabi kita Shallallahu ’alaihi wa sallam sudah mengisyaratkan akan adanya fenomena tersebut.
“Sesungguhnya Allah tidak melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan cara mencabut ilmu tersebut dari para hamba-Nya, namun Allah akan melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan meninggalnya para ulama. Hingga jika tidak tersisa seorang ulamapun, para manusia menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai panutan, mereka menjadi rujukan lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Di antara praktik da'i yang asbun atau asal bunyi yang belakangan ini adalah mereka yang berpenampilan alim tapi cenderung memfitnah sesama muslim. Dengan berbekal gosip, mereka merusak kehormatan para ulama, ustadz dan saudara-saudara mereka seakidah. Hanya kepada Allah saja kita mengadu. Padahal, jauh-jauh hari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan :
“Barang siapa membicarakan mukmin dengan sesuatu yang tidak benar adanya; niscaya Allah akan benamkan dia ke dalam kubangan nanahnya para penghuni neraka, hingga ia bertaubat dari perkataan tersebut“. (HR. Abu Dawud).
Terkait masalah ini, cukuplah hadis Rasulullah menjadi peringatan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dalam hadisnya: “Di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan kunci-kunci yang menutup berbagai macam keburukan. Namun diantara manusia juga ada yang menjadi kunci yang menutup kebaikan dan membuka berbagai macam keburukan“.
Karena itulah, jangan sampai kita menjadi hamba yang ternyata kita menjadi orang yang membuka pintu keburukan dan menutup pintu kebaikan. Jauhi bicara yang asal bunyi dan hindari gosip. Kita dilarang untuk mendahului Allah dan RasulNya, kita dilarang untuk lebih mengedepankan perkataan fulan dari pada pendapat Allah dan RasulNya. Karena kewajiban kita adalah senantiasa tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya.
Baca juga: Mengapa Kaum Wanita Dianjurkan Memperbanyak Sedekah dan Istighfar? Begini Penjelasannya
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :