Ini Tiga Solusi TGB Atasi Islamofobia di Dunia

loading...
Ini Tiga Solusi TGB Atasi Islamofobia di Dunia
- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (PB NWDI) Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi memberikan tiga solusi untuk mengatasi islamofobia di dunia. Salah satunya, dialog terbuka. Foto/Widya Michella
JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (PB NWDI) Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi memberikan tiga solusi untuk mengatasi islamofobia di dunia. Salah satunya, dialog terbuka.

TGB mengungkapkan, semakin merebaknya islamofobia di dunia tidak terlepas dari beberapa peristiwa seperti revolusi Irak yang menyebabkan ketakutan dunia Barat atas Islam. Ditambah lagi Tragedi WTC 11 September 2001 yang semakin memunculkan kebencian dan ketakutan terhadap Islam.

"Peristiwa-peristiwa yang ini terjalin dengan ingatan sejarah, kemudian ada benturan-benturan dengan peradaban Barat. Kalau terjadi benturan pasti orang menulis kisah-kisah itu tidak lepas dari kebencian dan menjadi akumulasi trauma sejarah mereka," ujar TGB dalam diskusi yang digelar di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (4/8/2022).

TGB kemudian memberikan tiga solusi untuk mengatasi islamofobia di dunia. Pertama, mengadakan dialog terbuka untuk berbicara satu sama lain. Dia mengatakan, sejak zaman Rasul, umat Islam tidak pernah diajarkan untuk eksklusif. Hal tersebut terangkum dalam Konstitusi Madinah yang dibuat oleh Rasulullah. Alhasil konstitusi tersebut dapat menyatukan penduduk Madinah yang bukan hanya orang Islam, tetapi juga umat Yahudi dan animisme.

Baca juga: Islamofobia Meningkat, PM Pakistan Tuntut PBB Bertindak

"Menurut saya yang pertama, kita terus membangun, dialog itu bagian dari literasi tentang Islam. Rasul shallallahu alaihi wasallam membangun inklusivitas dalam kehidupan sosial dengan terbuka itu kita bisa dialog. Kalau misalnya umat Islam meyakini bahwa Islam itu adalah hak kebenaran, kenapa kita takut untuk membukanya," ujar mantan gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) ini.

Kedua, lanjut TGB, menghadirkan wajah Islam yang mencerminkan rasionalitas yang tidak hanya pada tataran norma-norma seperti cara membedakan haram atau haram. Lengkapi juga dengan tuntunan Islam dalam menghadapi problema kehidupan yang dijelaskan dengan nalar.

"Kenapa Islam mengharamkan minuman keras misalnya, jadi tidak terbatas kalau minum minuman keras dosa besar masuk neraka. Bukan hanya itu, tapi ada narasi yang masuk akal tentang apa yang dibawa oleh Islam," jelasnya.

Dia menambahkan, kenapa Islam menghormati lembaga perkawinan misalnya, kenapa Islam melarang keras LGBT. "Dijelaskan dengan rasional, dengan menggunakan pendekatan ilmu, pengetahuan, selain juga pendekatan agama, pendekatan hati. Jadi multi aspek dijelaskan Islam dengan baik itu penting," kata dia.

Terakhir, menghadirkan wajah Islam yang maju. TGB mencontohkan jika penceramah tengah menjelaskan tentang makna Islam dan mengatakan Islam itu dari kata perdamaian, kedamaian, maka penceramah seyogianya harus dapat memberikan contoh kedamaian dan perdamaian dari negara-negara Islam yang ada di dunia.

"Mana buktinya? Kan harus kita hadirkan. Kita tidak bisa mengklaim hari ini lalu selesai begitu saja. Mana buktinya negara-negara Islam itu betul-betul rakyatnya itu menghadirkan ada tingkat kedamaian yang tinggi. Kita lihat hari ini ternyata justru banyak sekali konflik-konflik di negara Islam. Di negara-negara yang di bagian negara Arab misalnya ndak habis-habis konfliknya," tutur dia.

"Nah, ini adalah satu introspeksi kolektif kalau kita bicara tentang Islam, bicara tentang nilai Islam maka kita harus mampu hadirkan bukti nyata."
(zik)
preload video