Orang Jawa Baru Tertarik Masuk Islam setelah Diperkenalkan selama 750 Tahun
Jum'at, 05 Agustus 2022 - 18:28 WIB
loading...
A
A
A
Batu-batu nisan Islam Tralaya itu menggunakan angka tahun Saka dan angka-angka Jawa Kuno, bukan Hijriah dan angka-angka Arab. Hal ini menjadi bukti bahwa yang dikubur di makam-makam tersebut adalah muslim Jawa, bukan muslim non-Jawa.
Makam-makam di Tralaya tertua bertarikh 1281 M. Bukti arkeologis berikutnya adalah Masigit Agung (Masjid Agung) yang terletak di dekat pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit, tepatnya di sebelah selatan Lapangan Bubat, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Mojokerto.
Baca juga: Peter Carey: Tak Ada Hubungan Kesultanan Islam di Jawa dengan Turki Utsmani
Menurut laporan dari Tome Pires, masjid itu dibangun oleh muslim pribumi pada abad ke-14. Lapangan Bubat itu biasanya digunakan sebagai taman hiburan dan digelarnya turnamen serta pertunjukan oleh keluarga kerajaan.
Mengenai Masigit Agung ini dicatat pula oleh Kidung Sunda, sebuah kidung yang mencatat peristiwa Perang Bubat antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Pajajaran yang terjadi pada abad ke-14, tepatnya tahun 1357 M. Berikut ini isi Kidung Sunda:
Empat dari mereka yang dikirim adalah Patih Sunda, Anepaken, para demung, tumenggung yang berjuluk Penghulu Borang, dan Patih Pitar yang menemaninya. Para prajurit terpilih berjumlah 300 orang berjalan ke arah selatan. Mereka melaju terus tanpa henti hingga ke Masjid Agung.
Sebelum musuh mengetahui, mereka telah bersiap di Lapangan Wulajanggala. Dan, para tentara Majapahit berada di sekitar Pablantikan, Ampel Gading, dan Masjid Agung.
Kesemuanya disiapkan dalam kelompok yang tak terhitung jumlahnya sehingga perkemahan menjadi penuh.
Baca juga: Syekh Subakir, Tombak Kiai Panjang dan Tumbal Tanah Jawa
Menurut Agus Sunyoto, salah seorang anggota keluarga istana Kerajaan Majapahit yang beragama Islam adalah Adipati Surabaya, Aria Lembu Sura. Sebab, nama yang berunsur “Lembu” dapat dipastikan merupakan keluarga Majapahit.
Aria Lembu Sura memiliki dua orang putri yang juga muslimah. Putrinya yang pertama diperistri oleh Raja Majapahit Brawijaya III (Girishawardhana Dyah Suryawikrama/1456-1466), sedangkan putrinya yang lain diperistri oleh Aria Teja, penguasa beragama Islam dari Tuban. Adapun Brawijaya III itu tidak jelas apakah seorang muslim atau nonmuslim.
Selain Aria Lembu Sura, di Surabaya, juga telah dikenal sejumlah nama tokoh muslim, yaitu Ki Ageng Bukul, penguasa wilayah Bukul, Surabaya selatan, dan juga Pangeran Reksa Samodra, seorang Laksamana Laut Majapahit.
Dalam berbagai sumber historiografi yang diteliti oleh Agus Sunyoto, disebutkan bahwa Raja Brawijaya V (Sri Kertawijaya) menikahi seorang muslimah asal Champa bernama Darawati, adik ipar Syekh Ibrahim as-Samarqandi. Tidak jelas apakah Raja Brawijaya V beragama Islam atau bukan, tetapi di dalam Islam, seorang muslimah dilarang menikahi laki-laki nonmuslim, lebih-lebih Darawati merupakan adik ipar ayah Sunan Ampel yang merupakan salah seorang tokoh Islam penyebar agama Islam. Hingga saat ini, makam Darawati masih bisa dijumpai di Trowulan, area situs Majapahit.
Baca juga: Syekh Subakir Meruqyah Jawa Setelah 6000 Keluarga Muslim Tewas
Makam-makam di Tralaya tertua bertarikh 1281 M. Bukti arkeologis berikutnya adalah Masigit Agung (Masjid Agung) yang terletak di dekat pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit, tepatnya di sebelah selatan Lapangan Bubat, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Mojokerto.
Baca juga: Peter Carey: Tak Ada Hubungan Kesultanan Islam di Jawa dengan Turki Utsmani
Menurut laporan dari Tome Pires, masjid itu dibangun oleh muslim pribumi pada abad ke-14. Lapangan Bubat itu biasanya digunakan sebagai taman hiburan dan digelarnya turnamen serta pertunjukan oleh keluarga kerajaan.
Mengenai Masigit Agung ini dicatat pula oleh Kidung Sunda, sebuah kidung yang mencatat peristiwa Perang Bubat antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Pajajaran yang terjadi pada abad ke-14, tepatnya tahun 1357 M. Berikut ini isi Kidung Sunda:
Empat dari mereka yang dikirim adalah Patih Sunda, Anepaken, para demung, tumenggung yang berjuluk Penghulu Borang, dan Patih Pitar yang menemaninya. Para prajurit terpilih berjumlah 300 orang berjalan ke arah selatan. Mereka melaju terus tanpa henti hingga ke Masjid Agung.
Sebelum musuh mengetahui, mereka telah bersiap di Lapangan Wulajanggala. Dan, para tentara Majapahit berada di sekitar Pablantikan, Ampel Gading, dan Masjid Agung.
Kesemuanya disiapkan dalam kelompok yang tak terhitung jumlahnya sehingga perkemahan menjadi penuh.
Baca juga: Syekh Subakir, Tombak Kiai Panjang dan Tumbal Tanah Jawa
Menurut Agus Sunyoto, salah seorang anggota keluarga istana Kerajaan Majapahit yang beragama Islam adalah Adipati Surabaya, Aria Lembu Sura. Sebab, nama yang berunsur “Lembu” dapat dipastikan merupakan keluarga Majapahit.
Aria Lembu Sura memiliki dua orang putri yang juga muslimah. Putrinya yang pertama diperistri oleh Raja Majapahit Brawijaya III (Girishawardhana Dyah Suryawikrama/1456-1466), sedangkan putrinya yang lain diperistri oleh Aria Teja, penguasa beragama Islam dari Tuban. Adapun Brawijaya III itu tidak jelas apakah seorang muslim atau nonmuslim.
Selain Aria Lembu Sura, di Surabaya, juga telah dikenal sejumlah nama tokoh muslim, yaitu Ki Ageng Bukul, penguasa wilayah Bukul, Surabaya selatan, dan juga Pangeran Reksa Samodra, seorang Laksamana Laut Majapahit.
Dalam berbagai sumber historiografi yang diteliti oleh Agus Sunyoto, disebutkan bahwa Raja Brawijaya V (Sri Kertawijaya) menikahi seorang muslimah asal Champa bernama Darawati, adik ipar Syekh Ibrahim as-Samarqandi. Tidak jelas apakah Raja Brawijaya V beragama Islam atau bukan, tetapi di dalam Islam, seorang muslimah dilarang menikahi laki-laki nonmuslim, lebih-lebih Darawati merupakan adik ipar ayah Sunan Ampel yang merupakan salah seorang tokoh Islam penyebar agama Islam. Hingga saat ini, makam Darawati masih bisa dijumpai di Trowulan, area situs Majapahit.
Baca juga: Syekh Subakir Meruqyah Jawa Setelah 6000 Keluarga Muslim Tewas
(mhy)
Lihat Juga :