Ini Mengapa Nabi Sulaiman Mohon Dibimbing untuk Dapat Mensyukuri Nikmat Allah Taala
Selasa, 09 Agustus 2022 - 09:56 WIB
loading...
A
A
A
Alasan kedua mengapa kita memohon petunjuk-Nya untuk bersyukur adalah karena setan selalu menggoda manusia yang targetnya antara lain adalah mengalihkan mereka dari bersyukur kepada Allah.
Surat Al-A'raf ayat 17 menguraikan sumpah setan di hadapan Allah untuk menggoda dan merayu manusia dari arah depan, belakang, kiri, dan kanan mereka sehingga akhirnya seperti ucap setan yang diabadikan Al-Qur'an "Engkau -(Wahai Allah)- tidak menemukan kebanyakan mereka bersyukur".
Sedikitnya makhluk Allah yang pandai bersyukur ditegaskan berkali-kali oleh Al-Qur'an, secara langsung oleh Allah sendiri seperti firman-Nya: "Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur" ( QS Al-Baqarah [2] : 243).
Dalam ayat lain disebutkan: "Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur" ( QS Saba' [34] : 13) .
Hakikat yang sama diakui pula oleh hamba-hamba pilihan-Nya seperti yang diabadikan Al-Qur'an dari ucapan Nabi Yusuf as: "Kebanyakan manusia tidak bersyukur" ( QS Yusuf [12] : 38).
Hakikat di atas tercermin juga dari penggunaan kata syukur sebagai sifat dari hamba Allah. Hanya dua orang dari mereka yang disebut oleh Al-Qur'an sebagai hamba Allah yang telah membudaya dalam dirinya sifat syukur, yaitu Nabi Nuh as yang dinyatakan-Nya sebagai "Innahu kanna 'abdan syakura" (Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur) ( QS Al-Isra' [17] : 3), dan Nabi Ibrahim as dengan firman-Nya, "Syakiran li an'umihi" (yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah) ( QS An-Nahl [16) : 12l).
Baca juga: Inilah Balasan Bagi yang Pandai Bersyukur
Al-Qur'an menggarisbawahi bahwa biasanya kebanyakan manusia hanya berjanji untuk bersyukur saat mereka menghadapi kesulitan. Al-Qur'an menjelaskan sikap sementara orang yang menghadapi gelombang yang dahsyat di laut:
"Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengihlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata), 'Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bencana ini, maka pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur" ( QS Yunus (10) : 22).
Demikian juga dalam surat Al-An'am (6) ayat 63. Katakanlah, "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): Sesungguhnya, jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi bagian orang-orang yang bersyukur" ( QS Al-An'am [6] : 63).
Baca juga: Tetap Harus Banyak Bersyukur Ketika Sedang Kesulitan
Surat Al-A'raf ayat 17 menguraikan sumpah setan di hadapan Allah untuk menggoda dan merayu manusia dari arah depan, belakang, kiri, dan kanan mereka sehingga akhirnya seperti ucap setan yang diabadikan Al-Qur'an "Engkau -(Wahai Allah)- tidak menemukan kebanyakan mereka bersyukur".
Sedikitnya makhluk Allah yang pandai bersyukur ditegaskan berkali-kali oleh Al-Qur'an, secara langsung oleh Allah sendiri seperti firman-Nya: "Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur" ( QS Al-Baqarah [2] : 243).
Dalam ayat lain disebutkan: "Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur" ( QS Saba' [34] : 13) .
Hakikat yang sama diakui pula oleh hamba-hamba pilihan-Nya seperti yang diabadikan Al-Qur'an dari ucapan Nabi Yusuf as: "Kebanyakan manusia tidak bersyukur" ( QS Yusuf [12] : 38).
Hakikat di atas tercermin juga dari penggunaan kata syukur sebagai sifat dari hamba Allah. Hanya dua orang dari mereka yang disebut oleh Al-Qur'an sebagai hamba Allah yang telah membudaya dalam dirinya sifat syukur, yaitu Nabi Nuh as yang dinyatakan-Nya sebagai "Innahu kanna 'abdan syakura" (Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur) ( QS Al-Isra' [17] : 3), dan Nabi Ibrahim as dengan firman-Nya, "Syakiran li an'umihi" (yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah) ( QS An-Nahl [16) : 12l).
Baca juga: Inilah Balasan Bagi yang Pandai Bersyukur
Al-Qur'an menggarisbawahi bahwa biasanya kebanyakan manusia hanya berjanji untuk bersyukur saat mereka menghadapi kesulitan. Al-Qur'an menjelaskan sikap sementara orang yang menghadapi gelombang yang dahsyat di laut:
"Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengihlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata), 'Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bencana ini, maka pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur" ( QS Yunus (10) : 22).
Demikian juga dalam surat Al-An'am (6) ayat 63. Katakanlah, "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): Sesungguhnya, jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi bagian orang-orang yang bersyukur" ( QS Al-An'am [6] : 63).
Baca juga: Tetap Harus Banyak Bersyukur Ketika Sedang Kesulitan
(mhy)
Lihat Juga :