Ini Mengapa Nabi Sulaiman Mohon Dibimbing untuk Dapat Mensyukuri Nikmat Allah Taala
Selasa, 09 Agustus 2022 - 09:56 WIB
loading...
Pada hakikatnya manusia tidak mampu untuk mensyukuri Allah secara sempurna, baik dalam bentuk kalimat-kalimat pujian apalagi dalam bentuk perbuatan. Foto/Ilustrasi: SINDOnews
A
A
A
Muhammad Quraish Shihab mengatakan pada hakikatnya manusia tidak mampu untuk mensyukuri Allah secara sempurna, baik dalam bentuk kalimat-kalimat pujian apalagi dalam bentuk perbuatan. Bahkan dalam Al-Qur'an disebutkan betapa orang-orang yang dekat kepada-Nya sekalipun, tetap bermohon agar dibimbing, diilhami dan diberi kemampuan untuk dapat mensyukuri nikmat-Nya.
Dalam bukunya berjudul " Wawasan Al-Quran " Quraish Shihab menyebut paling tidak ada dua ayat dalam Al-Qur'an yang menunjukkan hal tersebut.
Dia berdoa, "Wahai Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai..." ( QS An-Nam1 [27] : 19).
Ia berdoa, "Wahai Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang engkau ridhai" ( QS Al-Ahqaf [46] : 15).
Nabi Muhammad SAW juga berdoa dan mengajarkan doa itu untuk dipanjatkan oleh umatnya: "Wahai Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur untuk-Mu, dan beribadah dengan baik bagi-Mu."
Baca juga: Surat Ibrahim : Pentingnya Bersyukur
Menurut Quraish Shihab, permohonan tersebut sangat diperlukan, paling tidak disebabkan oleh dua hal:
Pertama, manusia tidak mampu mengetahui bagaimana cara yang sebaik-baiknya untuk memuji Allah, dan karena itu pula Allah mewahyukan kepada manusia pilihan-Nya kalimat yang sewajarnya mereka ucapkan. Tidak kurang dari lima kali ditemukan dalam Al-Qur'an perintah Allah yang berbunyi. Wa qul' "Alhamdulillah" (Katakanlah, "Alhamdulillah").
Mengapa manusia tidak mampu untuk memuji-Nya? Ini disebabkan karena pujian yang benar menuntut pengetahuan yang benar pula tentang siapa yang dipuji. Tetapi karena pengetahuan manusia tidak mungkin menjangkau hakikat Allah SWT, maka tidak mungkin pula ia akan mampu memuja dan menuji-Nya dengan benar sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.
Mahasuci Engkau, Kami tidak mampu melukiskan pujian untuk-Mu, karena itu (pujian) kami sebagaimana pujian-Mu terhadap diri-Mu.
Atas dasar ini, maka seringkali pujian yang dipersembahkan kepada Allah, didahului oleh kata "Subhana" atau yang seakar dengan kata itu. Perhatikanlah firman-Nya dalam surat Asy-Syura ayat 5: "Para malaikat bertasbih sambil memuji Tuhan mereka". Atau dalam surat Ar-Ra'd (13) : 13: "Guntur bertasbih sambil memuji-Nya".
Bahkan manusia pun di dalam sholat mendahulukan "tasbih" (pensucian Tuhan dari segala kekurangan) atas "hamd" (pujian), karena khawatir jangan sampai pujian yang diucapkan itu tak sesuai dengan keagungan-Nya. "Subhana Rabbiyal 'Azhim wa bi hamdihi" ketika rukuk, dan "Subhana Rabbiyal 'Ala wa bi hamdihi" ketika sujud.
Baca juga: Waspada, Tidak Bersyukur Adalah Tanda Kufur
Dalam bukunya berjudul " Wawasan Al-Quran " Quraish Shihab menyebut paling tidak ada dua ayat dalam Al-Qur'an yang menunjukkan hal tersebut.
Dia berdoa, "Wahai Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai..." ( QS An-Nam1 [27] : 19).
Ia berdoa, "Wahai Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang engkau ridhai" ( QS Al-Ahqaf [46] : 15).
Nabi Muhammad SAW juga berdoa dan mengajarkan doa itu untuk dipanjatkan oleh umatnya: "Wahai Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur untuk-Mu, dan beribadah dengan baik bagi-Mu."
Baca juga: Surat Ibrahim : Pentingnya Bersyukur
Menurut Quraish Shihab, permohonan tersebut sangat diperlukan, paling tidak disebabkan oleh dua hal:
Pertama, manusia tidak mampu mengetahui bagaimana cara yang sebaik-baiknya untuk memuji Allah, dan karena itu pula Allah mewahyukan kepada manusia pilihan-Nya kalimat yang sewajarnya mereka ucapkan. Tidak kurang dari lima kali ditemukan dalam Al-Qur'an perintah Allah yang berbunyi. Wa qul' "Alhamdulillah" (Katakanlah, "Alhamdulillah").
Mengapa manusia tidak mampu untuk memuji-Nya? Ini disebabkan karena pujian yang benar menuntut pengetahuan yang benar pula tentang siapa yang dipuji. Tetapi karena pengetahuan manusia tidak mungkin menjangkau hakikat Allah SWT, maka tidak mungkin pula ia akan mampu memuja dan menuji-Nya dengan benar sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.
Mahasuci Engkau, Kami tidak mampu melukiskan pujian untuk-Mu, karena itu (pujian) kami sebagaimana pujian-Mu terhadap diri-Mu.
Atas dasar ini, maka seringkali pujian yang dipersembahkan kepada Allah, didahului oleh kata "Subhana" atau yang seakar dengan kata itu. Perhatikanlah firman-Nya dalam surat Asy-Syura ayat 5: "Para malaikat bertasbih sambil memuji Tuhan mereka". Atau dalam surat Ar-Ra'd (13) : 13: "Guntur bertasbih sambil memuji-Nya".
Bahkan manusia pun di dalam sholat mendahulukan "tasbih" (pensucian Tuhan dari segala kekurangan) atas "hamd" (pujian), karena khawatir jangan sampai pujian yang diucapkan itu tak sesuai dengan keagungan-Nya. "Subhana Rabbiyal 'Azhim wa bi hamdihi" ketika rukuk, dan "Subhana Rabbiyal 'Ala wa bi hamdihi" ketika sujud.
Baca juga: Waspada, Tidak Bersyukur Adalah Tanda Kufur
Lihat Juga :