Begini Sikap Ahlussunnah tentang Tragedi Karbala dan Cinta Keluarga Rasulullah SAW
Selasa, 09 Agustus 2022 - 13:45 WIB
loading...
A
A
A
Mereka mencintai keseluruhannya dan memuji mereka. Menempatkan mereka pada posisi yang pantas bagi mereka dengan adil dan inshof (seimbang). Tidak dengan hawa nafsu dan membebani diri.
Baca juga: Akibat Enggan Menolong Ahlul Bait Rasulullah
Menyadari akan keutamaan siapa yang tergabung pada dirinya antara kemuliaan iman dan kemuliaan nasab (keturunan). Siapapun Ahlulbait dari kalangan sahabat Nabi maka Ahlussunnah mencintainya karena keimanan dan ketakwaannya serta karena persahabatan dan kekerabatannya dengan Nabi.
Jika dia bukan sahabat Nabi, maka Ahlussunnah mencintainya karena keimanan dan ketakwaannya juga kekerabatannya dengan Nabi. Mereka memandang bahwa kemuliaan nasab mengikuti kemuliaan iman.
Baca juga: Dituduh Penganut Syiah yang Ingin Berontak, Imam Syai'i Ditangkap
Siapa yang Allah berikan keduanya maka telah terkumpul padanya dua kebaikan. Jika dia tidak beriman, maka kemuliaan nasab tidaklah bermanfaat sedikitpun. Allah Taala telah berfirman,
قال الله تعالى : إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.”
Nabi Muhammad SAW bersabda di akhir hadis yang panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya no.2699 dari Abu Hurairah ra,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((ومَن بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرَع بِهِ نَسَبُهُ)) رواه مسلم
“Siapa yang dilambatkan oleh amalnya, nasab (keturunannya) tidak dapat mempercepatnya.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab al-Aqidah al-Waashitiah mengatakan, “Mereka (Ahlussunnah wal Jama’ah) mencintai Ahlulbait Rasulullah dan loyal kepada mereka. Ahlussunnah menjaga wasiat Rasulullah yang bersabda pada hari ghadir haam, satu lembah yang berada di antara Mekkah dan Madinah tepatnya di Juhfah dalam perjalanan beliau bersama para sahabat:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((أُذَكـِّرُكُم الله فِي أَهْلِ بَيْتِي))
“Aku mengingatkan kalian akan ahlulbaitku (keluargaku).”
Baca juga: Akibat Enggan Menolong Ahlul Bait Rasulullah
Menyadari akan keutamaan siapa yang tergabung pada dirinya antara kemuliaan iman dan kemuliaan nasab (keturunan). Siapapun Ahlulbait dari kalangan sahabat Nabi maka Ahlussunnah mencintainya karena keimanan dan ketakwaannya serta karena persahabatan dan kekerabatannya dengan Nabi.
Jika dia bukan sahabat Nabi, maka Ahlussunnah mencintainya karena keimanan dan ketakwaannya juga kekerabatannya dengan Nabi. Mereka memandang bahwa kemuliaan nasab mengikuti kemuliaan iman.
Baca juga: Dituduh Penganut Syiah yang Ingin Berontak, Imam Syai'i Ditangkap
Siapa yang Allah berikan keduanya maka telah terkumpul padanya dua kebaikan. Jika dia tidak beriman, maka kemuliaan nasab tidaklah bermanfaat sedikitpun. Allah Taala telah berfirman,
قال الله تعالى : إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.”
Nabi Muhammad SAW bersabda di akhir hadis yang panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya no.2699 dari Abu Hurairah ra,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((ومَن بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرَع بِهِ نَسَبُهُ)) رواه مسلم
“Siapa yang dilambatkan oleh amalnya, nasab (keturunannya) tidak dapat mempercepatnya.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab al-Aqidah al-Waashitiah mengatakan, “Mereka (Ahlussunnah wal Jama’ah) mencintai Ahlulbait Rasulullah dan loyal kepada mereka. Ahlussunnah menjaga wasiat Rasulullah yang bersabda pada hari ghadir haam, satu lembah yang berada di antara Mekkah dan Madinah tepatnya di Juhfah dalam perjalanan beliau bersama para sahabat:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((أُذَكـِّرُكُم الله فِي أَهْلِ بَيْتِي))
“Aku mengingatkan kalian akan ahlulbaitku (keluargaku).”
Lihat Juga :